Suami Sementara

Suami Sementara
Gagal maning


"Sayang," Reyhan memeluk Amora dari belakang. Wanita itu sedikit terkejut ketika merasakan kedua tangan suaminya melingkari perutnya sementara dagu pria itu berada di pundaknya. Sesekali mencuri ciuman di sekitar leher wanita itu sehingga membuat Amora merasa geli dan merasakan gelanyar aneh yang membuat seluruh tubuhnya merinding.


"Rey, apa yang kau lakukan?" tanya Amora seraya memberikan lirikan tajam pada suaminya. Tapi Reyhan tak menggubrisnya, malahan pria itu semakin gencar melancarkan aksinya.


"Aku merindukanmu, sayang." bisiknya dengan mesra di telinga Amora.


"Kita baru bertemu tadi, Rey."


"Memangnya kenapa kalau tadi kita bertemu?" Reyhan mengangkat kepalanya. Memutar tubuh istrinya agar bisa menatapnya dengan leluasa.


"Apa aku tidak boleh merindukan istrinya sendiri?"


"Bukan begitu,"


"Lalu? Apa kamu tidak suka jika di rindukan suami mu?" Pria itu mengangkat sebelah alisnya ke atas. Menatap wanita cantik yang ada di hadapannya dengan curiga.


"Apa sih, Rey? Bukan tidak suka."


"Lalu?"


"Ya aneh aja, bukankah baru tadi kita bertemu. Tapi kenapa sudah rindu?" tanya Amora heran. Ia benar-benar tidak mengerti mengapa suaminya seperti ini.


"Sayang, tolong dengarkan aku." ucap Reyhan seraya memegang kedua pundak istrinya. Ia menatap netra coklat yang selalu di pujanya itu dengan dalam dan penuh damba.


Amora mengangguk, menantikan hal apa yang akan keluar dari mulut kekasihnya itu. Membalas tatapan suaminya dengan penuh kasih.


"Rindu itu bukan tentang jarak. Tapi tentang hati,"


Amora mengernyitkan keningnya bingung.


"Maksudnya?" tanya Amora dengan polos sehingga membuat Reyhan gemas dan menarik hidung istrinya dengan sayang.


"Ihh istriku ini menggemaskan sekali sih. Jadi pengen gigit."


"Ih dasar predator."


"Mana ada predator. Ngawur kamu."


"Terus apa? Monster?"


"Suami mu. Calon ayah dari anak-anak kita nanti." Amora tersenyum mendengar ucapan suaminya. Hatinya menghangat dan bahagia.


"Semoga saja ya, Rey. Semoga kita memiliki keturunan nanti." ujar Amora seraya menatap perutnya yang masih rata. Reyhan membungkuk mencium perut istrinya dengan sayang.


"Sayang, jangan lama-lama ya main petak umpetnya. Ayo tunjukin diri kamu, cepat tumbuh di rahim mama ya." kata Reyhan pelan seraya mengusap perlahan perut istrinya. Amora mengusap sudut matanya yang berembun. Tak bisa di pungkiri, sebenarnya dirinya juga sangat menginginkan ada satu nyawa yang hadir dalam rahimnya.


Reyhan mendaratkan ciumannya di perut istrinya sekali lagi sambil berdoa agar segera ada kehidupan di dalam sana.


Ia kembali berdiri tegak, ikut mengusap sudut mata istrinya yang berair.


"Kenapa harus menangis?"


"Siapa yang menangis?" elak Amora.


"Tetangga sebelah." jawab Reyhan dengan asal.


"Ih kamu mah nyebelin."


"Nyebelin begini tapi kamu cinta."


"Mau tahu tidak, mengapa aku selalu rindu kamu?" Amora menoleh, ia mengangguk menanggapi ucapan suaminya.


"Aku rindu bukan karena seberapa jarak yang memisahkan, tapi karena kamu sudah ada di hati aku. Mau jarak kita sedekat apapun atau sejauh apapun, aku akan selalu merindukan kamu."


Amora tersenyum haru. Belum pernah ia merasa amat di cintai seperti ini. Bersama Reyhan ia merasa bahwa sangat di cintai. Merasa sangat di hargai dan menjadi wanita paling beruntung di dunia ini.


"Aku juga selalu merindukan kamu, Rey." lirihnya seraya tersenyum.


"Ya sudah. Kalau begitu kita sama-sama rindu ."


Amora hanya terkekeh mendengar ucapan suaminya.


"Kalau begitu, bagaimana kalau kita salurkan rasa rindu kita?" Reyhan tersenyum penuh arti seraya menatap Amora yang mengernyitkan dahi karena bingung. Mencoba mencerna ucapan suaminya.


"Kamu tidak paham?"


Amora mengangguk.


"Astaga. Eh kita kan pengen punya anak, jadi ayo kita proses sekarang biar semakin cepat hadir. Bukankah semakin cepat semakin baik?" Reyhan tersenyum licik.


"Tapi Rey,"


"Tapi apa? Kamu tidak mau?"


"A-aku mau, tapi ...."


Amora belum menyelesaikan kalimatnya ketika dengan tiba-tiba Reyhan menyerangnya. Ia ******* bibir ranum milik istrinya dengan lembut, punggung Amora menyentuh tembok kamar.


Reyhan terus mencumbu istrinya tanpa berniat melepaskannya, tangannya telah bergerilya menyusuri seluruh tubuh Amora. Ia tak ingin melepaskan tubuh wanita itu meski hanya sejengkal. Meremas dua aset milik istrinya dengan napsu yang tinggi. Keduanya melepaskan tautan bibir mereka ketika mulai kehabisan napas. Menyatukan kening keduanya dengan napas yang terengah-engah.


"Sayang, aku ingin ...." bisik Reyhan dengan mesra.


"Tapi Rey, a-aku."


"Kenapa sayang? Bukankah kamu bilang juga menginginkan anak?"


Amora mengangguk. Ia mencoba menetralkan napasnya yang naik turun. Ia pun merasakan apa yang Reyhan rasakan. Ia juga menginginkan lebih dari sekedar ciuman.


"Sayang,"


"Aku tidak bisa, Rey." Tolak Amora dengan suara pelan.


"Mengapa? Apa kamu tidak menginginkan aku?" tanya Reyhan dengan nada kecewa.


"Bukan seperti itu, Rey."


"Lalu mengapa kamu menolaknya?"


"Waktunya tidak tepat."


"Maksudnya?"


"A-aku se-sedang datang bulan." ucap Amora penuh sesal. Mendengar penuturan istrinya membuat sekujur tubuh Reyhan lemas.


"Astaga. Rasanya aku ingin pingsan saja." keluh Reyhan seraya mengacak rambutnya. Menjauh dari tubuh istrinya yang hanya akan membuatnya ingin.


"Gagal maning- gagal maning." ucapnya seraya tertawa geli. Amora pun ikut tertawa melihat suaminya yang tampak frustasi karena tidak bisa mendapatkan hak nya.