Suami Sementara

Suami Sementara
Punya istri


Reyhan mengerjapkan mata, menyesuaikan cahaya yang masuk. Bola matanya memindai seluruh ruangan serba putih. Bau obat tercium memenuhi ruangan. Tanpa di jelaskan ia tahu dimana dirinya berada. Seorang perempuan cantik menghampirinya.


"Anda sudah sadar?" tanya wanita itu dengan wajah sumringah. Reyhan hanya mengangguk pelan, detik berikutnya wanita itu segera menekan tombol yang ada di dekatnya untuk memanggil dokter. Tak lama dokter dan beberapa perawat datang bersamaan, kemudian memeriksa keadaan Reyhan yang lemah. Ia melirik sebentar pada wanita yang telah menolongnya. Wanita itu terlihat khawatir dan senang bersamaan.


"Semua baik-baik saja, untunglah hanya luka luar dan tidak ada yang serius. Hanya tinggal menunggu pemulihan." ujar dokter seraya tersenyum lega.


"Terimakasih, Dok." ucap Reyhan dan di balas dengan anggukan oleh Dokter muda itu seraya mengulas senyum. Ia segera berjalan meninggalkan ruangan Reyhan di ikuti para perawat di belakangnya.


Alisa, wanita yang telah menyelamatkan dirinya mendekati ranjang. Berdiri seraya menatap Reyhan dengan lekat. Kini wajah tampan pria itu tampak sangat jelas di ruangan yang terang. Reyhan pun mengamati penampilan Alisa yang kini telah rapi, terbungkus sweater putih serta celana panjang, tidak seperti yang pertama kali ia lihat.


"Terimakasih telah menyelamatkan saya." kata Reyhan seraya tersenyum.


"Sama-sama. Saya hanya kebetulan berada di sana dan melihat anda sedang berada dalam bahaya."


"Tetap saja, anda sudah menyelamatkan saya. Saya berhutang budi."


"Sudahlah, jangan di pikirkan."


"Apa yang anda minta sebagai imbalan?"


"Sudahlah, lupakan. Saya tidak meminta apa-apa."


Reyhan mengernyitkan dahi."Bukankah tadi malam kamu bilang ...?"


"Saya hanya bercanda. Saya ikhlas menolong anda."


Reyhan mengangguk paham.


"Tapi jika nanti anda butuh bantuan, jangan sungkan." ujarnya kemudian.


"Baiklah, mungkin suatu hari saya akan membutuhkan bantuan anda." Alisa mengulas senyum.


"Apakah anda punya ponsel?" tanya Reyhan pada Alisa.


"Ya, saya punya. Ada apa?"


"Apakah boleh saya meminjamnya?"


"Tentu." Alisa menyodorkan benda berbentuk pipih itu pada Reyhan.


"A-apa? Istri?" Alisa tergagap. Entah mengapa penuturan Reyhan mampu membuat lubang kecewa di hatinya.


"Iya, saya sudah menikah." Reyhan menunjukkan jari manisnya yang tersemat cincin perak. Sementara Alisa berusaha menguasai diri yang tak ia mengerti mengapa begini. Tidak mungkin ia menaruh hati pada pria yang ia tolong tadi malam. Lagi pula ia juga sudah mempunyai kekasih meski alasan dirinya berada di ruangan gelap itu karena kekasihnya yang kasar.


"Pinjam sebentar, ya." ujar Reyhan lagi. Alisa hanya mengangguk kikuk. Terdengar percakapan Reyhan dan Amora, membuat Alisa mundur beberapa langkah demi menetralkan jantungnya yang tak mau tenang sedari tadi.


"Iya, sayang. Aku tidak apa-apa, ku mohon jangan terlalu khawatir."


"Jangan menyetir sendiri. Dan hati-hati kesini. Aku tidak mau terjadi sesuatu kepadamu. Aku sangat mencintaimu, jadi jaga diri baik-baik." terdengar suara Reyhan yang sedang berbicara dengan Amora di telepon.


"Ah beruntung sekali wanita itu. Sudah tampan, romantis dan terlihat sangat mencintai istrinya. Andai saja Gerry seperti itu. Ini, boro-boro romantis dan lembut. Bahkan jika tidak menyiksaku sehari saja, mungkin ia akan mati." gerutunya dengan kesal mengingat kelakuan sang kekasih yang seringkali berlaku kasar kepadanya.


"Hei, Nona. Ini ponselmu! Terimakasih ya. Maaf kembali merepotkan." Reyhan mengulurkan ponsel yang ia pinjam.


"Ah tidak apa-apa." Alisa mengambil ponsel yang di sodorkan Reyhan dan memasukkan kembali ke dalam saku celana.


"Istri saya akan sampai dalam beberapa menit lagi, saya harap anda bertemu dengannya."


"Hah? ti-tidak perlu. Saya buru-buru karena ada keperluan lain." kata Alisa dengan cepat. Entah mengapa membayangkan kemesraan yang akan terjadi antara Reyhan dan istrinya membuatnya ingin cepat pergi dari sana.


"Ah sayang sekali. Padahal istri saya ingin bertemu dengan anda dan mengucapkan terima kasih." sesal Reyhan dengan raut wajah kecewa.


"Lain kali saja, tuan. Mungkin kita bisa bertemu lagi lain waktu."


"Baiklah kalau begitu. Sekali lagi terimakasih banyak atas bantuan anda. Entah apa jadinya jika anda tidak menolong saya tadi malam."


"Sama-sama. Baiklah saya pamit ya. Semoga lekas sembuh." Alisa membungkuk sebentar sebelum pergi meninggalkan ruangan itu. Reyhan hanya mengangguk melepas kepergian Alisa yang kini telah keluar dari ruang rawatnya.


"Ah aku lupa menanyakan namanya." Alisa menghentikan langkahnya di tengah koridor rumah sakit. Ia menoleh ke belakang, menatap ruangan Reyhan yang berada jauh di belakangnya.


"Tapi untuk apa? Bukankah dia sudah punya istri? Ah sudahlah. Tidak penting." ujarnya lagi seraya kembali melanjutkan langkahnya. Secara bersamaan Amora berjalan dengan tergesa serta hampir berlari melewati koridor yang sama.


♥️♥️


Jaga kesehatan ya zheyeng 😘


Semangat terus ❤️