
"Kalau Ibu mengatakan saya sampah, maka kita semua adalah sampah! Sama-sama sampah!" teriak Sania dengan amarah yang semakin memuncak. Anak dan Ibu yang di katakan sampah itu pun semakin marah dan emosi. Bahkan kini Farhan tak segan ingin membunuh Sania.
"Kamu benar-benar sudah bosan hidup, Sania!" Farhan menarik lengan Sania dengan paksa. Wanita itu sekuat tenaga memberontak dan menolak ketika suaminya menarik paksa tubuhnya yang ringkih.
"Kamu mau apa mas? Lepaskan!" teriak Sania.
"Kamu benar-benar sudah keterlaluan Sania! Kamu harus di beri pelajaran agar kamu tidak melampaui batas!" ujar Farhan dengan marah. Wajah pria itu tampak memerah, urat-urat di wajahnya menyembul keluar.
"Kenapa kamu selalu menyiksa ku mas? kenapa tidak kamu bunuh saja aku sekalian biar kamu puas?!" teriak Sania histeris sembari menahan tubuhnya yang terus di tarik oleh Farhan.
"Sebelum kamu meminta pun aku akan membunuhmu, Sania! Akan ku potong-potong tubuh kamu! Tenang saja, aku akan mengabulkan permintaanmu itu." bola mata Sania membesar mendengar ucapan sadis dari suaminya. Saia membelalak tak percaya pada pria yang kini mencengkram lengannya dengan kuat. Sesekali ia meringis karena tenaga pria itu lebih kuat sehingga menyebabkan nyeri di pergelangan tangannya.
"Kamu benar-benar gila, Mas! Kamu sudah tidak waras. Kamu psikopat!"
"Apa kamu baru tau, Sania?" Farhan terkekeh.
"Farhan, Sania sedang hamil. Nanti ada apa-apa dengan kandungannya." ucap Ibunya khawatir. Bagaimana pun juga ia sudah sejak lama mengharapkan kehadiran seorang cucu.
"Untuk apa peduli dengan wanita ****** ini, Bu? Lagi pula anak yang ada di dalam perutnya itu bukan anak Farhan. Jadi untuk apa mempertahankannya? Farhan tidak akan membiarkan anak haram itu lahir! Farhan akan menyingkirkannya meski harus membunuh dua nyawa sekaligus!" geram Farhan dengan gigi yang gemeletukan.
"Farhan, Nak. Bagaimana jika anak yang di kandung wanita ini adalah anak kamu? Bagaimana jika janin itu cucu Ibu yang sudah lama Ibu tunggu-tunggu?" ujar wanita setengah baya itu khawatir. Ia menatap Farhan dan perut Sania bergantian.
"Ibu tenang saja, anak itu bukan anak Farhan. Ank itu bukan cucu Ibu."
"Bagaimana bisa kamu begitu yakin? Bagaimana kalau benar janin itu adalah anak kamu? kamu akan menyesal, Farhan."
"Bu, Farhan itu mandul. Jadi mana mungkin Farhan bisa punya anak?" kata Farhan dengan enteng.
"Apa? kamu mandul?" netra wanita itu membeliak, melebar sempurna. Sementara Farhan hanya mengangguk.
"Jangan berbohong kamu Farhan."
"Farhan tidak berbohong, Bu."
"Ja-jadi bu-bukan Amora yang mandul?"
Lagi-lagi Farhan hanya menggeleng menanggapi pertanyaan Ibunya.
"Ya Tuhan." wanita itu memegangi kepalanya yang terasa pening. Menatap Farhan tak percaya dengan mulut sedikit terbuka. Ia benar-benar tak menyangka dengan fakta yang baru ia ketahui.
"Jadi, kamu tidak akan bisa punya anak?" lagi, Farhan hanya mengangguk.
"Lalu mengapa kamu lepaskan Amora dan malah menikahi wanita sampah ini? Harusnya kamu tidak bercerai dengan Amora. Ibu tidak mau tahu, kamu harus cari cara agar Amora bisa kembali lagi kepadamu!" wanita itu mondar-mandir di kamar yang berukuran tidan terlalu luas itu.
"Maka dari itu Bu, Farhan harus menyingkirkan wanita ini. Farhan sudah benar-benar muak dengan wanita rendahan ini. Wanita tidak tahu di untung. Harusnya dia bersyukur kita sudah mau memungutnya." sinis Farhan menatap Sania yang masih bersimbah air mata.
"Dasar pria tidak punya hati!" maki Sania kesal.
"Jangan banyak bicara kamu! Lebih baik kamu banyak berdo'a! Karena nyawa kamu ada di tanganku!"
"Dasar tidak punya hati! tidak punya perasaan!"
"Kakak." suara seorang perempuan memanggilnya. Farhan yang semula akan kembali menampar Sania, terpaksa mengurungkan niatnya dan menoleh ke belakang. Di sana ada adiknya yang memutar bola matanya jengah. Ia terang-terangan melakukannya karena sudah muak dengan sikap dan kelakuan Farhan.
"Sudah kak, kasian kak Sania. Sudah cukup kak, jangan buat kak Sania lebih menderita lagi. Ibu dan kak Farhan kenapa sama? tidak punya hati sama sekali."
"Heh anak kecil diam saja! Jangan ikut urusan orang lain!"
"Tapi apa yang kakak lakukan itu sudah sangat keterlaluan kak. Lihat kak Sania! Tubuhnya sudah sangat lemah dan sekujur tubuhnya penuh dengan luka."
Farhan dan Ibunya melirik pada Sania yang sesekali terlihat meringis menahan sakit dan memegangi perutnya bawahnya.
"Dan satu lagi, aku bukan anak kecil yang tidak tahu apa-apa! Yang kakak lakukan ini sudah benar-benar kelewatan. Kakak bisa di penjara karena apa yang kakak lakukan ini! Kasihan kak Sania, kak. Apalagi keadaan kak Sania sekarang sedang hamil."
"Jangan menggurui kakak! Kakak tahu apa yang kakak lakukan. Lagi pula di dalam perutnya itu bukan anak kakak. Itu hasil perselingkuhan Sania dengan bosnya! Jadi untuk apa kakak mempertahankan wanita dan anak dalam kandungannya? Sebaiknya mereka berdua memang harus di singkirkan!"
Farhan akan kembali melayangkan pukulan ketika dengan cepat adiknya menahan lengan pria itu sebelum mengenali wajah wanita yang terlihat sangat ketakutan itu.
"Sudah, kak. Jangan begini." ujarnya. Sementara Ibu mereka berdua menatap benci pada Sania yang tengah tergugu.
"Terimakasih." lirih Sania pada adik Farhan.
"Jangan ke ge-eran dulu. Aku hanya tidak suka melihat kekerasan. Sebenarnya aku juga masih tidak suka karena kakak sudah menjadi orang ketiga antara kak Amora dan kak Farhan. Ink aku lakukan hanya karena aku punya rasa kasihan dan kemanusiaan. Aku tidak suka kekerasan." kata adik Farhan.
"Sudahlah , jangan basa-basi. Ayo ikut aku!" lagi, Farhan menarik paksa tangan Sania.
"Kakak mau bawa kak Sania kemana?"
"Bukan urusan kamu!" hardik Farhan.
"Kak, di luar ada polisi." kata adik Farhan pelan. Sontak saja Farhan membelalakkan matanya.
"Kenapa kamu tidak mengatakan sejak tadi?"
"Tadinya memang kesini kan untuk mengatakan jika ada polisi di depan. segera melepaskan tangan Sania yang di genggam. Ia terlihat panik sekali, bahkan kini berjalan mondar-mandir dengan pikiran yang kacau balau.
"Memangnya ada masalah apa?" tanya Ibunya bingung.
"Farhan ... Farhan juga tidak tahu Bu. Mungkin polisi itu salah alamat." elak Farhan. Ia terlihat cemas dan itu semua tidak luput dari tatapan heran oleh ketiga wanita berbeda generasi itu.
"Mengapa polisi bisa mencari kamu, tidak mungkin para polisi itu mencari kamu tanpa alasan."
"Bu, sebaiknya Ibu temui mereka sekarang." Farhan melepaskan Sania begitu saja. Mendorong tubuh Ibunya ke luar kamar, berharap Ibunya akan mau menemui sang polisi.
"Polisi itu mau bertemu denganmu, Farhan. Kenapa jadi Ibu yang kamu tumbalkan?" protes Ibunya tidak terima.
"Temui saja dulu ,Bu. Farhan mohon." lirih pria itu setengah memelas. Tanpa berkata apa-apa lagi, sang Ibu akhirnya menuruti keinginan anaknya. Ia menyeret langkahnya dengan berat demi anaknya.
"Kenapa kak? takut?" ejek adiknya seraya tersenyum miring.
"Diam kamu!" bentak Farhan kesal. Adiknya hanya mencebik, sementara Sania diam-diam tersenyum melihat kekhawatiran di wajah pria yang masih menjadi suaminya itu.