
cinta adalah suatu hal yang membahagiakan, bukan menyedihkan.
Jika tidak bisa membahagiakan orang yang kamu cinta, setidaknya jangan membuatnya bersedih dan terluka.
❤️❤️
Mama Riana memasuki ruang rawat Reyhan dengan tergesa. Ia terlambat karena ada beberapa hal yang membuatnya harus menyelesaikannya terlebih dulu.
"Reyhan bagaima ...." Mama Riana tidak bisa menyelesaikan ucapannya, ia menutup mulutnya yang terbuka. Matanya melebar menatap pemandangan yang tengah ia lihat.
Di atas ranjang rumah sakit yang sempit terdapat dua anak manusia yang sedang bercumbu mesra tanpa menghiraukan sekitar. Pemandangan yang seharusnya ia lihat ialah anaknya yang tengah berbaring lemah dengan kondisi tak berdaya. Tapi apa ini? anaknya malah sedang berciuman dengan sang istri.
Amora dan Reyhan menghentikan aktivitas mereka, keduanya sontak menoleh dengan mulut yang sama-sama terbuka.
"Mama ...!" seru keduanya dengan keterkejutan yang luar biasa. Keduanya saling pandang kala netranya bersibobrok dengan wanita yang kini tengah berdiri di depan mereka dengan muka terkejut bukan main. Wanita itu berdiri kaku di tempatnya dengan mata yang hampir lepas dari tempatnya.
Amora berdiri, beringsut menjauh dari dekapan Reyhan. Begitupun dengan Reyhan, ia pun memperbaiki posisi duduknya yang kacau.
"Ma- mama baru sampai?" Amora tergagap, ia berjalan menghampiri sang Ibu mertua. Ada rasa malu serta takut yang bercampur aduk menjadi satu. Ia menggigit bibir bawahnya, menggamit tangan mertuanya yang terjulur ke bawah menenteng tas branded berwarna hitam yang di bawanya. Sementara tangan kanannya masih menutup mulutnya yang terbuka.
"Hai Ma, kenapa datang sekarang? harusnya nanti saja. Ah Mama menganggu moments kami berdua." ujar Reyhan santai dengan sedikit mendesah supaya tampak ada kekecewaan akan kedatangan sang mama. Sontak saja pria itu mendapatkan pelototan menyeramkan dari sang istri.
"Apa sayang? Memang benar 'kan apa yang aku katakan? Mama mengganggu saja."
"Astaga Rey," Amora menggeram frustasi.
Mamanya menurunkan tangannya. Menatap kesal pada anaknya yang sedang duduk santai dengan kedua tangan menopang kepala di belakang.
"Dasar anak kecebong! Apa kamu tidak tahu kalau Mama mu ini khawatir sekali dengan keadaan mu? Ke rumah sakit lari tunggang-langgang cuma karena kamu! Eh tahunya si kecebong sawah lagi asyik bercumbu mesra! Tahu gitu Mama tidak usah ke sini tadi!" kata Mama Riana kesal. Semakin kesal ketika Reyhan terbahak-bahak menertawakan Mamanya.
"Ya ampun, kecebong sawah. Berarti Mama itu Mama kecebong dong?" ledek Reyhan.
"Dasar anak durhaka! beraninya kamu mengatakan Mama kecebong?" wanita setengah baya itu menghampiri anaknya yang tengah terbahak di atas ranjang rumah sakit. Mama Riana langsung saja menepuk bahu anaknya karena kesal.
"Aw ... sakit, Mah." Reyhan meringis. Ia benar-benar merasa kesakitan karena bahu yang di tepuk itu ada luka tusukan yang di lakukan Farhan.
"Astaga. Apa itu benar-benar sakit? Atau kamu bercanda? mengerjai mama ya?" tanya Mama panik. Amora pun yang melihatnya segera mendekat dan mendapati sang suami yang memang benar sedang meringis menahan sakit.
"Ma, bahu Reyhan memang terluka." cicit Amora khawatir. Sontak saja Mama Riana menoleh dengan membelalakkan matanya.
"Ya ampun sayang. Maafkan Mama, Mama tidak tahu kalau bahu kamu luka." kata Mama dengan penuh penyesalan. Kini wanita itu duduk di samping Reyhan dan memeriksa bahu anaknya.
"Mana yang sakit? Apakah itu sangat sakit?" tanya Mama dengan sangat khawatir.
"Tidak, Ma. Itu tidak sakit, lebih menyakitkan lagi ketika Mama bilang Reyhan anak kecebong." ucap Reyhan dengan pura-pura sedih. Bibirnya mencebik.
"Apakah benar begitu, Rey? Maafkan Mama, Mama hanya bercanda. Mana mungkin anak setampan kamu seperti kecebong?"
"Maafkan Mama ya, sayang " ucap Mama dengan rasa bersalah. Kini ia mengelus kepala anak semata wayangnya dengan sayang.
"Tidak apa-apa, Ma. Reyhan juga bercanda." ujarnya dengan tawa yang menyusul.
"Astaga! dasar anak kecebong!"
"Haha ... iya Mama kecebong." balas Reyhan yang langsung saja mendapatkan cubitan di perutnya.
"Aduh! Sakit, Ma. Anak lagi sakit kok di aniaya?" pria itu kembali mencebik.
"Sakit? Sakit kok bisa mesra-mesraan. Lap tuh bibir! lipstik Amora ketinggalan." sungut Mama. Ia mengulum senyum tertahan, setidaknya hatinya lega karena anaknya baik-baik saja dan semakin mesra dengan menantunya.
Ucapan Mama Riana membuat Amora dan Reyhan tersipu. Dengan cepat Reyhan membersihkan bibirnya yang terkena noda lipstik Amora.
"Harusnya Mama tadi jangan datang dulu, ya. Siapa tahu kan, Mama cepat punya cucu." kata Mama dengan senyum jahil.
"Astaga Mama. Kita hanya bercumbu, tidak lebih. Mana bisa hamil." elak Reyhan seraya menggelengkan kepalanya.
"Siapa tahu 'kan? setelah berciuman jadi anu."
"Anu apa, Ma? jangan aneh-aneh deh." protes Reyhan. Mama Riana hanya tertawa kecil menanggapi. Amora menatap Ibu dan anak yang ada di hadapannya dengan penuh rasa haru. Segaris senyum terpatri di wajahnya, bahagia sekali rasanya melihat hubungan antara anak dan Ibu yang sangat akrab.
Melihat itu semua membuatnya teringat pada Almarhumah sang Mama. Seandainya Mama dan Papanya masih ada, mungkin kebahagiaannya akan terasa lengkap. Ia mengusap lembut ujung matanya yang mengembun.
❤️❤️
I Miss you Mom. I love you so much.
I hope you are happy in heaven ❤️❤️