
Reyhan mencari Amora ke setiap sudut rumah tanpa terkecuali. Wajahnya penuh kebingungan dan kekhawatiran yang mendalam. Ia berjalan ke pos satpam yang ada di dekat gerbang rumahnya, mencoba mencari informasi dari satpam yang berjaga.
"Pak, apa Bapak melihat Amora keluar?" tanya pria itu setelah sampai. Satpam yang bernama Joko itu menggeleng pelan.
"Saya tidak melihat siapapun yang keluar ataupun masuk, den." jawabnya dengan sangat yakin.
"Apa tidak ada orang yang masuk dari sini, Pak?"
"Tidak ada juga, den. Dari tadi saya duduk di sini dan saya tidak melihat siapapun keluar ataupun masuk dari pintu ini." jelasnya.
Reyhan hanya mengangguk sembari berpikir keras. Melihat majikannya kebingungan dan tampak khawatir, Pak Joko pun memberanikan diri untuk bertanya.
"Memangnya ada apa den? Sepertinya Aden tampak sangat gelisah."
Reyhan yang semula menatap pintu gerbang pun menoleh, lalu menyahut.
"Saya sedang bingung, Pak. Amora tiba-tiba menghilang secara misterius. Jika tidak ada siapapun yang keluar ataupun masuk, lalu Amora kemana? Seluruh sudut rumah sudah saya periksa. Tapi Amora tidak ada di mana-mana."
"Mungkin Non Amora sedang berada di kamar mandi, den." tebak Pak Joko dengan asal demi menenangkan majiannya yang tampak sangat gelisah dan khawatir.
"Tidak ada, Pak. Yang membuat bingung itu mengapa puding yang ia buat berserakan di lantai dapur? sementara Amora tidak ada di mana pun. Jika tidak keluar dari rumah ini, berarti ...." ia menjeda kalimatnya sembari berpikir keras. Mengingat segala kebiasaan atau pun hal yang mungkin saja sempat ia lupakan.
"Amora masih berada di rumah ini, tapi dimana? Atau jangan-jangan Farhan memang sudah menyelinap masuk ke rumah ini. Tapi lewat mana?" gumamnya.
"PINTU RAHASIA!" ujar Reyhan tiba-tiba. Tanpa banyak membuang waktu, ia pun bergegas melangkah meninggalkan satpam itu tanpa mengucapkan sepatah kata apa pun. Satpam yang melihatnya pun hanya kebingungan.
"Pintu rahasia? Dimana ada pintu rahasia?" ia menggaruk kepalanya yang mendadak terasa gatal.
"Ah lebih baik aku ikut mencari nona muda." ujarnya seraya berjalan menyusul Reyhan yang sudah menghilang masuk ke dalam rumah mewah yang sudah sejak lama menjadi tempatnya bekerja.
"Reyhan, bagaimana? Apa kata Pak Joko?" Reyhan baru saja masuk ketika Mama Riana menyambutnya dengan wajah bersimbah air mata. Wanita itu sudah menangis sejak tadi tanpa henti di temani si mbok yang setia selalu berada di sampingnya untuk menenangkan.
Reyhan menghampiri Mamanya dan memeluknya sebentar. Mengusap lembut bahu yang bergetar itu penuh dengan kasih sayang. Ia pun berusaha mati-matian menahan air mata yang sejak tadi berdesakan ingin keluar. Tapi ia tak boleh lemah, ia harus tetap kuat serta fokus mencari keberadaan Amora yang masih belum tau di mana ia berada.
"Mama tenanglah, Reyhan akan segera menemukan Amora." ucapnya menenangkan tanpa melepaskan pelukannya. Ia merasakan jika Mamanya mengangguk dalam dekapannya, dengan tangis yang masih terus berderai. Tak lama tubuh lemah itu mengurai pelukannya, mendongak menatap wajah anaknya yang muram. Si mbok hanya bisa diam di samping keduanya dan terlihat mengusap air mata yang ikut turun di wajahnya sesekali.
"Rey, apa kamu sudah menghubungi pihak kepolisian?" tanya Mama Riana pada anaknya.
"Sudah, Ma. Mereka dalam perjalanan ke sini. Mama tenanglah, Reyhan akan melihat pintu rahasia. Jika pria brengsek itu tidak melewati pintu gerbang, maka kemungkinan besar ia lewat pintu rahasia." ujar Reyhan sembari mengepalkan tangannya dengan kuat. Membayangkan wajah pria itu membuatnya tersulut emosi. Belum lagi membayangkan jika benar Amora berada di tangan pria itu membuat ia ingin melenyapkan Farhan, sepupunya sendiri.
"Pintu rahasia?" Mama mengernyitkan dahi bingung. Kerutan di dahinya sangat dalam, menandakan wanita itu memang bingung dan mencoba berpikir keras tentang pintu rahasia.
"Mama ingat pintu rahasia di garasi?" Reyhan menatap wajah Mamanya, kedua tangannya ia letakkan di bahu wanita yang lemah itu.
Mama mengangguk pelan.
"Memangnya kenapa? Apa Amora di sana?"
"Reyhan tidak tahu, Ma. Reyhan akan mengeceknya. Mama tetaplah berada di sini bersama mbok. Jangan pergi kemanapun! Tunggulah para polisi itu dan beritahu keberadaan Reyhan di sana." pesan pria itu.
Mama menggeleng dengan air mata yang turun semakin deras.
"Tidak, Rey. Kita tunggu polisi saja! Farhan itu sangat berbahaya. Lihat apa yang ia lakukan kepadamu terakhir kali? Ia hampir membunuh kamu, sayang. Farhan yang dulu sudah tidak sama. Dia bukan Farhan yang dulu kita kenal." Mama semakin tergugu membayangkan hal buruk yang bisa saja menimpa anaknya.
"Ma, tenanglah. Reyhan akan baik-baik saja. Kita tidak punya banyak waktu, Ma. Amora berada dalam bahaya sekarang. Reyhan tidak bisa hanya berdiam diri menunggu para polisi itu datang. Kita tidak tahu apa yang akan di lakukan pada Amora." Reyhan tidak kuasa membayangkan hal buruk yang akan di lakukan pada istrinya. Gulungan emosi dan amarah membuatnya ingin cepat-cepat mencari mereka dan menghabisi Farhan.
"Rey, Farhan tidak akan menyakiti Amora karena ia sangat mencintai istri kamu itu. Jadi tenang, ya. Kita tunggu polisi saja dan tetap berada di samping Mama. Jangan kemana-mana. Mama khawatir sama kamu, Rey." bujuk Mama.
"Maaf, Ma. Reyhan tidak bisa, Amora membutuhkan Reyhan saat ini. Reyhan yakin Farhan tidak akan menyia-nyiakan waktunya yang sedikit. Reyhan tahu jika Farhan tidak akan menyakiti tubuh Amora, tapi ...."
"Tapi apa Rey?"
"Farhan tidak akan bisa untuk tidak menyentuh Amora." geram Reyhan menggertakkan gigi. Mengepalkan tangannya kuat-kuat, tak bisa membayangkan jika benar hal buruk itu akan terjadi.
"Rey...." tenggorokan Mama Riana tercekat. Ia melupakan satu hal itu karena terlalu mengkhawatirkan anaknya hingga lupa jika bahaya lain juga mengintai sang menantu.
Mengingat bagaimana kejadian yang di ceritakan Amora sewaktu di Apartemen. Bagaimana Farhan berusaha memperkosa Amora dan untung saja saat itu Amora berhasil kabur. Benar kata Reyhan, kali ini Farhan tidak akan menyia-nyiakan kesempatan.
"Pergilah, Rey. Selamatkan menantu Mama. Bawa dia kembali dengan selamat. Jaga diri kamu baik-baik, Nak. Kalian berdua harus kembali dengan selamat." Reyhan mengangguk dan tersenyum.
"Pasti Ma. Reyhan dan Amora akan kembali dengan selamat. Sepupu brengsek itu akan tamat hari ini. Reyhan akan membuatnya jera kali ini dan tidak akan mengampuninya." tekad Reyhan.
"Pergilah, Nak." Mama Riana memeluk Reyhan sekali lagi, lalu mengecup lembut pucuk kepala anak yang sangat ia sayangi itu. Keduanya mengurai pelukan, Reyhan melangkah di iringi tatapan sedih dan do'a dari Mamanya.
"Saya ikut, den." Pak Joko datang membawa pentungan miliknya. Reyhan berhenti dan menoleh lalu tersenyum.
"Ayo, Pak. Kita tangkap sepupu brengsek yang meresahkan itu." kata Reyhan dengan semangat yang tinggi.
"Siap komandan." sahut Pak Joko dengan sikap hormat. Reyhan terkekeh sebentar lalu mengangguk, ia meneruskan langkahnya yang tertunda menuju garasi yang tak jauh dari tempatnya di ikuti oleh Pak Joko yang berjalan tepat di belakangnya.
"Semoga mereka semua baik-baik saja ya, mbok." kata Mama Riana sembari menatap kepergian anaknya.
"Aamiin. Jangan putus berdo'a, Nyonya."
Mama Riana mengangguk di sertai lelehan air mata yang tak jua kunjung berhenti sedari tadi. Dalam hatinya tak henti-hentinya memanjatkan do'a. Ia berharap pada sang pencipta agar semuanya baik-baik saja dan berharap semua ini akan berakhir secepatnya. Ia merasa tidak tega jika anak dan menantunya selalu di rundung duka dan masalah yang seolah tidak ada habisnya karena Farhan. Ia juga ingin melihat kebahagiaan dari anak dan menantunya kelak.