Suami Sementara

Suami Sementara
Keributan di pinggir Jalan


"Jangan keras kepala. Kau sedang hamil dan cuaca sangat panas. Ayo pulang!" Evan menarik lengan wanita itu, tapi segera di tepis oleh Sania dengan kasar.


"Kenapa kamu kembali? Pergi saja sana! Jangan pedulikan aku!"


Evan menghela napas kesal seraya melemparkan pandangannya ke arah lain demi meredam emosinya yang sebenernya ingin meluap.


"Sabar ... sabar. Dia perempuan, lagi pula dia sedang hamil. Kamu harus sabar menghadapinya." ujarnya dalam hati.


"Sania, ayo kita pulang. Cuaca sangat panas dan kau pasti akan kelelahan jika berjalan sampai ke kontrakan. Jarak kontrakan dari sini cukup jauh." bujuk Evan dengan memaksakan senyum di wajahnya demi perempuan yang sedang merajuk di hadapannya itu. Sania membuang muka, menghindari tatapan Evan yang menghujam netranya. Tatapan lembut tapi mematikan, ia tidak sanggup menatap manik jernih milik pria itu.


"Ayo, pulang. Kasihan anak dalam perut kamu, " ujarnya menatap perut yang sedikit membuncit di balik dress berwarna mint yang Sania kenakan. Wanita itu menoleh, menatap perutnya. Ia baru sadar, jika perutnya juga sudah berisik minta di isi sedari tadi. Ia khawatir, anaknya akan merasa kelaparan.


Tapi rasa gengsi pada dirinya membuat wanita itu menekan dalam-dalam keinginan untuk menerima tawaran dari Evan.


"Aku tidak mau! Bukankah tadi kamu berniat untuk meninggalkan aku? Bukankah aku cuma beban buat kamu? Harusnya kamu pergi saja sana! Jangan pikirkan aku dan tidak perlu kembali! Aku bisa sendiri kok. Aku bisa pulang naik taksi!" ujar wanita itu seraya berkacak pinggang. Memasang wajah angkuh karena rasa gengsi dalam dirinya yang terlalu tinggi.


Evan terkikik geli.


"Naik taksi?"


Sania mengangguk mantap.


"Memangnya kamu punya uang?" Pria itu mengangkat sebelah alisnya, menatap geli pada wanita yang ada di hadapannya. Mendengar penuturan Evan membuat Sania terdiam seribu bahasa. Benar juga apa yang di katakan pria itu, ia tidak punya uang sama sekali!


Ia menutup bibirnya rapat-rapat dan membuang pandangannya ke arah lain.


"Tidak punya yang, sok sok an mau naik taksi. Mau di bayar pakai apa taksinya? Pakai gengsi? Mana laku!" sindir Evan.


Sania menoleh, menatap Evan semakin kesal.


"Kamu meremehkan aku? Aku masih punya uang!" ia membela diri.


Evan hanya mengangguk karena malas menanggapi. Berdebat dengan wanita tidak akan menemukan titik terang dan ia akan selalu salah serta kalah. Maka pilihan terbaik baginya ialah diam dengan sesekali tersenyum mendengar ocehan panjang wanita yang ada di hadapannya yang tak berhenti bagai kereta api.


"Kenapa kami tersenyum? Kamu mengejekku?" tanya Sania marah.


"Astaga! Salah lagi!" Evan menepuk jidatnya agak keras.


"Pergi sana! Aku tidak butuh kamu! Kamu menyebalkan dan rasanya aku ingin memakan kamu sekarang juga!"


"Wah, sudah jadi kanibal rupanya. Baru juga jalan sebentar, apalagi sampai kontrakan. Bisa-bisa semua orang yang di temui, habis kamu makan." kekeh Evan seraya menatap Sania dengan geli.


"Dasar pria aneh! Bisa-bisanya mengatakan kalau aku kanibal!"


"Lah, tadi kamu kan bilang mau makan aku? Berarti kamu kanibal dong. Masa herbivora? Eh salah." Evan menutup bibirnya yang salah bicara dan malah memperkeruh keadaan.


"Tadi kamu bilang apa? Aku herbivora? Keterlaluan kamu!" Sania maju dua langkah dan mulai memukuli tubuh Evan sekenanya. Ia benar-benar sangat kesal dengan pria itu.


"Aduh ! Sakit Sania! Kamu sudah melakukan kekerasan!" teriak Evan kesakitan.


"Makanya jangan asal bicara!" ucap Sania tanpa menghentikan pukulannya di beberapa bagian tubuh Evan. Pria itu hanya menghindari sekenanya, tidak terlalu jauh dan tidak terlalu dekat pula.


Di sela keributan keduanya, seorang Bapak-bapak melewati mereka dan berhenti sebentar karena melihat Evan dan Sania yang ribut.


"Nak, sebaiknya masalah rumah tangga di selesaikan di rumah saja. Tidak enak di lihat orang lain. Apalagi istrinya sedang hamil, tidak baik jika berlama-lama di jalan." ujar Bapak itu seraya tersenyum menatap Sania dan Evan. Sontak saja kedua orang itu menghentikan keributannya dan saling tatap kaget setelah mendengar ucapan seorang pria yang sudah berumur di hadapan mereka.


"Jadi suami itu harus sabar, ya. Apalagi istrinya sedang hamil, jadi mood-nya naik turun. Jangan melakukan hal yang membuatnya tersinggung meski hal kecil sekalipun. Jangan biarkan istri kamu menangis, karena jika istri kamu menangis maka anak kalian yang berada di dalam kandungan juga akan ikut menangis. Manjakan dia, turuti apa yang dia mau. Senangkan hatinya, dan bujuk dengan lembut jika dia merajuk." ujarnya panjang lebar seraya menepuk lembut pundak Evan seraya tersenyum.


"Tapi pak, kami bukan suami-istri." ralat Sania.


"Heh, tidak baik berbicara begitu. Bicarakan baik-baik di rumah." Sania dan Evan pun bengong. Keduanya hanya bisa saling tatap dengan mulut yang terbuka lebar.


"Ayo, bujuk istri kamu! Bawa dia pulang. Kasihan bayi kalian. Jangan membuat istri kamu sedih dan menangis lagi!" Nasehat pria itu pada Evan. Menepuk bahu Evan sekali lagi, lalu ia berlalu menyusuri trotoar jalan.


"Apa? suami-istri?"


"Hii ... Amit-amit cabang bayi punya suami seperti kamu." cibir Sania seraya mengibaskan tangannya jijik.


"Idih. Memang situ kira saya mau punya istri seperti kamu? Keras kepala, gengsinya setinggi menara Eiffel."


"Dih. Siapa juga yang mau jadi istri kamu? Sorry ya, bukan tipe saya." sanggah Sania seraya membuang muka.


"Ya sudah. Bapak itu salah! Mana ada suami-istri seperti Tom dan Jerry. Suami istri itu romantis dan saling sayang. Benar-benar aneh itu Bapak." Evan menggelengkan kepalanya.


"Benar. Bapak itu salah." sahut Sania.


"Ayo pulang! Nanti kita di angkut sat pol PP kalau terus-terusan bertengkar di pinggir jalan."


"Memangnya aku bencong di tangkap sat pol PP."


"Ya siapa tahu buat pajangan di kantornya."


"Kamu kira aku patung!"


"Mirip sih. Sama-sama keras!"


"Sialan kamu! Dasar pria aneh! Aku yakin, tidak akan ada yang suka pria seperti kamu. Pria aneh!"


"Terserah! Jangan terlalu benci sama aku! Nanti anak kamu mirip."


"Amit-amit jangan sampai." Sania mengelus perutnya sembari komat-kamit.


"Terserah. Nanti awas aja kalau mirip. Aku tidak mau di sangka Bapak itu anak!"


"Tidak akan!" sanggah wanita itu seraya menatap kesal pada pria yang ada di hadapannya.


"Ayo pulang!"


"Tidak mau!" tolak Sania masih keras kepala.


"Pulang! Kalau tidak mau, aku tinggal beneran!" ancam Evan seraya mendelik.


"Silahkan! Palingan kamu di kira pria tidak bertanggung jawab. Suami tidak punya perasaan dan sangat jahat sama istrinya."


"Dasar wanita gila!"


Sania hanya memutar bola matanya seraya memonyongkan bibirnya.


"Mau pulang atau tidak?" tanya Evan sekali lagi.


"Tidak!" tolak Sania dengan keras.


"Dasar keras kepala!" Tanpa aba-aba, Evan langsung mengangkat tubuh kecil Sania, menggendongnya ala bridal style. Wanita yang belum siap dan terkejut itu refleks menjerit.


"Evan turunkan aku! Aku tidak mau pulang!" Wanita itu terus memberontak dalam gendongan.


"Diam atau aku jatuhkan ke bawah!" Mendengar ucapan Evan, membuat wanita itu terdiam. Ia tidak berani juga jika Evan benar-benar nekat menjatuhkannya karena kesal.


Evan meletakkan Sania di jok belakang pada motornya. Sania hanya diam tanpa perlawanan.


"A-aku tidak mau pulang denganmu." cicit Sania pelan. Ia melihat Evan takut-takut.


"Duduk diam di situ!" ucap Evan seraya mendelik. Sania menunduk, aura Evan benar-benar membuatnya takut dan menurut. Setelah mengatakan hal itu, Evan segera duduk di jok depan. Memutar kunci motornya dan menghidupkan motor butut yang selalu menemaninya selama ini. Kendaraan beroda dua itu bergerak perlahan meninggalkan bangku kosong yang menjadi saksi keributan keduanya.