
Bunga-bunga yang layu, kembali merekah
Kehadiranmu bagai oase di tengah gurun pasir
Tak bisa ku pungkiri bahwa hanya kau pusat duniaku
Sang pemilik hatiku
Genggam erat hati dan jemariku
Jangan pernah lepaskan, meski badai kembali menghadang
_
_
Jomblo di larang baca😂
Harap menepi sebentar agar jiwa kesepiannya tidak meronta-ronta 🤭✌️✌️
Kedua anak manusia yang sedang di selimuti rasa cinta sedang duduk berdua di ruang tamu, merajut kasih yang sempat tertunda. Tertawa bersama seolah sebelumnya tak pernah terjadi apa-apa. Melupakan segala keegoisan yang hanya akan semakin menyiksa jiwa.
Reyhan menatap Amora dengan tatapan yang dalam, senyum tipis tak Surut dari wajahnya. Bibir itu selalu tertarik ke atas, membingkai senyuman yang semakin menambah ketampanan pria itu. Ia berterima kasih dalam hati, karena Tuhan masih mempertemukan serta menyatukan cinta mereka.
"Jadi, apakah aku masih suamimu yang sah?" tanya Reyhan dengan alis yang terangkat.
"Menurutmu?"
"Aku masih suamimu, ku rasa."
"Ya sepertinya begitu tuan Reyhan. Karena kau belum menjatuhkan ...."
"Sstt ...." dengan cepat Reyhan menaruh jari telunjuk di depan bibir wanita itu.
"Jangan mengatakan hal itu. Aku tidak akan pernah mengatakannya. Tidak akan pernah. Kau milik ku dan Aku milikmu, selamanya." lirih Reyhan dengan sangat dekat. Bahkan hembusan napasnya mendera seluruh wajah Amora. Membuat wanita itu membeku, menatap lamat-lamat wajah yang kini di tumbuhi bulu halus di sekitar rahangnya.
Jemari lentik milik Amora terulur, mengusap pelan wajah yang selalu ia rindukan. Tatapan pria itu seakan membiusnya, hingga tanpa sadar dan tak tahu siapa yang memulai bibir keduanya sudah bertemu. Mengecup perlahan bibir yang terasa manis itu. Bagai candu yang telah lama tak di rasakan. Keduanya berhenti setelah kehabisan napas, menyatukan kedua kening dan menarik napas bersamaan dengan sedikit terengah. Dengan mata yang terpejam menikmati alunan napas.
"Aku mencintaimu, Amora." bisik Reyhan dengan mesra.
"Aku juga mencintaimu, Rey. Jangan pergi lagi." balas Amora.
"Aku tidak akan pernah pergi, aku akan tetap bersamamu dan tidak akan pernah meninggalkanmu apa pun yang terjadi." janji pria itu.
"Ku harap kamu menepati janji."
Reyhan menarik diri, menatap wanita cantik yang ada di hadapannya dengan kerutan di dahi.
"Apa kau meragukan ku?"
"Ummm ... bukannya ragu. Hanya saja ...."
Amora menggantung kalimatnya.
"Hanya apa, sayang? apa aku tidak meyakinkan untukmu? begitukah? hmm?" pria itu menyampirkan beberapa helai rambut istrinya ke belakang telinga. Sementara tangan kirinya menggenggam erat jemari milik wanita itu.
"Aku hanya takut." cicit Amora.
"Apakah kau sangat takut kehilangan ku, honey? apakah aku sangat berarti bagimu, hmmm?" mengecup punggung tangan sang istri. Sehingga wajah Amora semakin bersemu merah, ia memalingkan wajah menyembunyikan kegugupan yang kini mendera.
"A-aku ha-hanya ...." ia tergagap.
"Hanya apa, sayang?" Reyhan menyela dengan cepat. Meraih dagu wanita yang ia cintai, menghujam dalam netra coklat milik sang istri.
"Hey, semenjak kapan kau berubah jadi romantis seperti ini? atau kau salah minum obat?"
"Sayang, jangan menggodaku. Aku hanya bersikap selayaknya suami pada istri."
"A-apa maksudmu?"
"Bu-bukan seperti itu. Maksudku ...."
Cup ....
Reyhan mencuri satu kecupan di bibir mungil milik Amora. Membuat wanita itu melebarkan mata.
"Rey ....?"
"Iya sayang, mau tambah?" godanya seraya mengerlingkan mata.
"Astaga." Amora menepuk jidatnya.
"Mulai sekarang kamu harus terbiasa, sayang. Aku akan berusaha menjadi pria paling romantis di dunia. Sehingga kau semakin tergila-gila padaku."
Amora terkekeh geli.
"Ya ampun aku masih ingin waras. Aku tidak mau menjadi orang gila."
"Ish sayang, maksudku bukan itu." Reyhan mengerucutkan bibirnya.
"Lah, tadi katamu?" wanita itu masih terkekeh.
"Ya, maksudku kau tidak akan pernah bisa lepas dariku." pria itu berbisik, sengaja meniup telinga Amora sehingga sekujur tubuh wanita itu meremang.
"Rey ...." desahnya. Membuat Reyhan tersenyum menang.
"Iya, sayang. Ada apa?" tanya pria itu tanpa dosa.
"Kau menyebalkan." Amora berdiri, hendak melangkah meninggalkan pria yang kini tengah tersenyum penuh arti.
"Jangan pergi. Aku masih merindukanmu." Reyhan memeluk Amora dari belakang. Mengungkung wanita itu dalam lengannya yang kekar.
"Jangan menggodaku."
Reyhan terkekeh, ia melepaskan rangkulannya dan membalikkan tubuh sang istri.
"Aku mencintaimu, Amora. Sangat mencintaimu."
"Sudah berapa ribu kali kau mengatakannya hari ini?"
"Entahlah. Rasanya aku belum puas mengatakannya, bahkan mungkin tidak akan pernah puas. Aku ingin mengatakannya setiap hari, setiap jam, setiap menit setiap detik."
"Dasar gila!"
"Iya, aku gila karena kamu."
Amora menggeleng lucu melihat tingkah suaminya yang tak pernah ia lihat sebelumnya.
"Aku menginginkanmu." Reyhan menyatukan bibir mereka kembali. Keduanya saling menyesap, merasai bibir yang selalu terasa manis dan membuatnya candu. Hingga ciuman yang awalnya biasa menjadi ******* dan semakin menuntut lebih.
"Apa aku boleh melakukannya?" lirih Reyhan dengan napas yang terengah. Sementara Amora hanya mengangguk dengan balutan gairah yang menguasainya. Detik berikutnya Amora merasakan tubuhnya melayang, ia melihat ke bawah. Tubuhnya sudah berada dalam gendongan pria itu.
"Ke-kenapa kau menggendongku?"
"Apa kau mau melakukannya di sini?" tantang Reyhan.
"Ah, bukan itu maksudku. Ma-maksudku a-aku bisa berjalan sendiri." Amora memberontak ingin turun.
"Diam lah! atau kau mau aku melakukannya di sini?"
Tubuh Amora kembali membeku, ia hanya bisa diam dalam gendongan pria itu. Hingga ia merasakan tubuhnya yang menyentuh ranjang yang empuk. Reyhan menurunkan tubuh wanita itu perlahan, dengan senyum manis yang tidak pernah surut dari wajahnya.
"Aku menginginkanmu, honey. Aku milikmu dan kau milikku." bisik Reyhan mesra. Mata keduanya telah di selimuti gairah yang membakar jiwa. Hingga detik berikutnya, kamar bernuansa putih itu menjadi saksi bisu dari percintaan yang keduanya lakukan. ******* serta erangan keduanya bersahutan, saling memberikan kehangatan di tengah dinginnya malam.
❤️❤️❤️
Jangan lupa like, komentar dan votenya ya zheyeng 😘