
Seorang pria yang sedang dalam keadaan menyerah dan putus asa penuh luka di tarik ke dalam ruangan gelap secara tiba-tiba. Netra hitamnya berkeliling mencari cahaya tapi hanya gelap yang ia temui.
"Siapa ...." suara Reyhan terputus ketika mulutnya di bekap sebuah tangan.
"Ssttt ... diam lah jika kamu ingin selamat." bisiknya di telinga kiri Reyhan. Reyhan mengangguk, kemudian wanita itu melepaskan tangannya dari mulut pria itu. Tercium aroma parfum khas wanita yang menusuk indera penciumannya. Reyhan membeku, ia tak mengenali sama sekali suara ini. Suara perempuan yang sangat asing di telinganya, tapi meski begitu ia menurut untuk diam terlebih lagi terdengar suara ketukan sepatu di luar ruangan.
"Reyhan! Dimana kamu ?!" suara Farhan terdengar samar tak jauh dari tempatnya bersembunyi. Reyhan menahan napas, ketegangan semakin terasa ketika suara langkah itu kian mendekat. Bahkan tubuh wanita yang ada di sebelahnya juga ikut menegang. Seandainya kondisi tubuh Reyhan tidak separah ini, ia akan melawan seperti tadi. Tapi karena luka di bahu yang ia alami, membuat Reyhan terpaksa kalah dan menghindari pria yang sedang emosi itu.
"Dimana kau bersembunyi? Sepandai-pandainya kamu bersembunyi, maka aku akan tetap menemukanmu." kembali terdengar suara Farhan di sertai cekikikan mengerikan.
Tak lama suara itu menjauh di iringi suara Farhan yang mengecil dan menghilang. Reyhan dan wanita yang menyelamatkan nyawanya itu bisa menarik napas lega.
"Astaga! pria itu benar-benar psikopat." ujar wanita itu. Samar, terlihat wajah cantik wanita itu yang terkena sinar rembulan dari celah jendela. Reyhan bisa menangkap siluet tubuh wanita itu yang perawakannya cukup tinggi dengan tubuh ramping. Rok sebatas paha dan tank top yang membungkus tubuhnya. Rambut panjang sebatas pinggang di biarkan tergerai menjuntai.
"Siapa kamu?" Reyhan tak bisa menutupi rasa penasarannya. Wanita itu tersenyum di dalam ruangan remang tanpa cahaya lampu. Menarik tangan Reyhan dan memperkenalkan diri.
"Saya Alisa."
"Terimakasih telah menyelamatkan saya, Alisa." ucap Reyhan tulus.
"Ya, tapi ini tidak gratis." wanita itu mengangkat sebelah alisnya. Menimbulkan beberapa garis bermunculan di dahi pria yang berdiri kikuk di depannya.
"Ya- ya tentu saja. Anda telah menyelamatkan nyawa saya, jadi sudah sewajarnya anda mendapatkan imbalan. Jadi, imbalan apa yang inginkan?"
Alisa melihat wajah Reyhan tanpa melepaskan jabatan tangannya. Ia tersenyum melihat rahang tegas serta manik hitam kelam yang tengah menatapnya lurus. Tubuh proporsional dengan tinggi menjulang, bahkan ia harus mendongak untuk menatap manik hitam yang menghanyutkan itu.
"Wajah anda terlihat pucat, lebih baik kita obati luka anda terlebih dahulu. Anda juga banyak kehilangan darah. Jadi lebih baik nanti saja kita diskusikan kembali tentang imbalan apa yang saya minta."
"Tidak Nona. Katakan saja, imbalan apa yang kamu minta?"
Reyhan meringis ketika ngilu serta sakit itu kembali menyerang tubuhnya yang penuh luka. Ia menarik tangannya yang tidak di lepas oleh Alisa sedari tadi.
"Sudah saya bilang bukan? Sebaiknya kita mengobati luka-luka anda sebelum infeksi. Bahkan anda sangat beresiko meninggal saat ini juga karena kehilangan banyak darah." ujar wanita itu seraya kembali mengamati tubuh Reyhan yang penuh luka. Kemeja putih itu berubah menjadi warna merah. Wajah dengan beberapa sayatan itu terlihat pucat, tapi meski begitu ketampanan pria yang ada di hadapannya ini tidak luntur oleh itu semua.
"Saya baik-baik saja, jadi katakan apa yang anda minta. Saya akan memenuhi semuanya."
Brugh ...
Reyhan jatuh tersungkur ke lantai, kedua lututnya masih berusaha menumpu bobot tubuhnya yang lemah di bantu kedua tangannya. Wanita itu terkejut bukan main, ia berjongkok di hadapan pria itu.
"Anda tidak apa-apa?" tanya Alisa khawatir. Reyhan hanya menggeleng tanpa suara. Ia tetap berusaha membuka mata agar tetap terjaga. Tapi kehilangan banyak darah membuat tubuhnya sangat lemah. Hingga ia tak bisa lagi menahan semuanya dan akhirnya ia jatuh ke pangkuan wanita itu tanpa sadar.
"Akh ...." pekik Alisa terkejut. Ia menyentuh bahu Reyhan dengan hati-hati.
"Pak, apakah anda mendengar saya?"
Tidak ada sahutan. Alisa memberanikan diri membalikkan tubuh Reyhan yang sangat lemah.
Deg ....
Jantungnya seolah terhenti. Wajah samar yang sedari tadi membuatnya penasaran kini terpampang jelas di depan matanya. Sinar rembulan yang terang tak sengaja menyorot wajah Reyhan yang semerta-merta membuat wanita itu terpana. Di ruangan gelap tanpa cahaya itu, Alisa di buat terpana luar biasa.
"Tampan." lirihnya tanpa sadar dengan mulut yang setengah terbuka.
❤️❤️❤️
Hai zheyeng 😘
Sambil nungguin Reyhan dan Amora up, baca novel author yang lain yok. Ada Novel yang baru netes dan masih anget. Judulnya "SUAMIKU ANAK SMA."
Bocah tengil dan jahil yang menikah dengan gurunya karena kesalah pahaman. Keduanya berjanji untuk menyembunyikan pernikahan mereka berdua hingga mereka bercerai.
Penasaran nggak?
Mampir ya, jangan lupa tinggalkan jejak ❤️
i love you zheyeng.
Jangan lelah mendukung karya receh author sengklek ini yah. Karena dukungan kalian semuanya merupakan moodbooster buat author. Makasih all