
"Amora," panggil orang yang telah merusak kemesraan keduanya. Amora menoleh, wajahnya berubah canggung ketika melihat siapa yang telah memanggilnya. Sementara Reyhan segera memasang wajah marah dan kesal.
"I-ibu?" Amora tergagap dengan melebarkan matanya dan menutup mulutnya yang sedikit terbuka. Ia tidak menyangka jika wanita yang ada di hadapannya akan datang di waktu seperti ini.
"Ada apa anda kesini?" tanya Reyhan dingin. Wanita yang umurnya setengah baya itu menatap Reyhan dengan tidak enak.
"Rey, jangan bersikap seperti itu." kata Amora sembari mendelik, membuat Reyhan menutup mulutnya rapat-rapat.
"Amora, Ibu kesini sengaja mau menemui kamu." ujarnya dengan wajah memelas. Amora melirik Reyhan, pria itu hanya mengangkat bahu. Amora melangkah mendekati mantan mertuanya. Wajah dan sikap Amora tidak berubah meski wanita yang ada di hadapannya pernah menyakitinya.
"Ibu, Amora sangat tersanjung sekali karena Ibu sudah meluangkan waktu untuk datang jauh-jauh hanya demi menemui Amora." Amora mengulas senyum tulus. Ia memperhatikan mertuanya yang terlihat kacau dan agak berantakan. Sangat berbeda dari biasanya yang selalu berpenampilan wow ala Ibu-Ibu masa kini dengan semua barang mewah dan emas yang terjulur di sepanjang tubuh.
"Ibu mau meminta bantuan kamu," cicitnya seraya menunduk takut. Meremas ujung kaos yang di kenakan sehingga meninggalkan jejak kerutan di sana.
"Amora bisa bantu apa?" tanya Amora ramah sementara Reyhan hanya menghela napas berat. Ia menyayangkan semua sikap Amora yang terlalu baik kepada orang yang telah menyakitinya. Ia hanya bisa menatap dua orang yang berbeda usia di hadapannya. Ingin sekali rasanya ia menarik paksa Amora dan membawanya masuk ke dalam rumah sehingga mantan mertua istrinya itu tidak dapat bertemu dengan sang istri.
"Sayang ...." panggil Reyhan dengan sengaja. Suaranya terdengar manja dan berayun, membuat Amora malu di depan mertuanya. Wanita itu memejamkan matanya menahan kesal.
"Diam dan tetaplah berdiri di tempat mu!" ujar Amora dengan geram. Ibu Farhan hanya menatap sepasang suami istri itu dengan tidak enak. Ia pun mulai menyadari jika hubungan Amora dan Reyhan tidak lagi seperti dulu. Bahkan terlihat sangat manis dan romantis dari awal ia memergoki keduanya yang sedang bermesraan. Hatinya merasa iri, harusnya Amora bersama anaknya . Bukan malah bersama Reyhan dan sekarang anaknya berada di dalam penjara. Kedinginan serta tersiksa, terkurung tanpa ada kebebasan dan hanya diam dengan duka nestapa.
"Sayang ... Ayo kita masuk." rengek Reyhan lagi sehingga membuat Amora semakin kesal. Ia pun membalikkan badannya, menatap Reyhan dengan sangat kesal.
"Diam di situ atau masuk sendirian. Aku sedang berbicara, Rey."
Reyhan melangkah menuju istrinya, ia menatap manik coklat istrinya dengan perasaan tak tentu arah.
"Dia telah menyakiti kamu, Ra. Dia dan anaknya sudah melakukan hal buruk padamu. Dan kamu masih mau berbicara dan malah mau membantunya?"
Amora mengernyitkan dahinya, membalas tatapan hangat sang suami.
"Apa ada yang salah?"
"Astaga Amora." desah Reyhan.
"Kenapa, Rey? Bukankah kita sebagai manusia harus saling membantu? Tidak baik mengabaikan orang yang meminta bantuan kita. Kita harus membantu orang yang sedang kesusahan."
"Iya, tapi bukan dia yang harus kamu bantu."
"Apakah membantu orang harus pilih-pilih? Memangnya kenapa kalau membantu Ibu? Beliau pernah menjadi bagian dalam hidupku beberapa tahun. Dan aku, sudah menganggapnya sebagai Ibu kandungku sendiri selama ini." ucapan Amora membuat wanita yang ada di belakangnya tersentuh. Ia menitikkan air mata haru dan segera menghapusnya. Menantu yang selama ini ia sia-siakan ternyata mempunyai hati yang baik. Seburuk apapun perlakuan dirinya pada Amora, menantunya tidak pernah berniat untuk membalasnya dengan keburukan pula. Ia sangat malu dan ingin lari saja karena tak sanggup berhadapan dengan Amora.
"Tapi, sayang. Dia sudah menyakiti kamu! Dia dan anaknya pernah menyia-nyiakan kamu. Hanya memanfaatkan kamu dan sekarang ia akan melakukan hal yang sama pada kamu. Jangan terlalu baik pada orang seperti dia! Ada orang yang bisa memanusiakan manusia lain, tapi ada juga manusia yang tidak bisa memanusiakan manusia lain." Reyhan menatap tajam pada wanita yang berstatus tantenya itu.
Reyhan menatap Amora dengan sendu.
"Mengapa hatimu sangat baik, Ra? Mengapa hatimu seperti malaikat? Terbuat dari apa sebenarnya hatimu, sayang?" Reyhan mengecup kening Amora dengan lembut.
"Aku cuma manusia biasa, Rey. Aku tidak sebaik yang kamu kira."
"Kamu sangat baik dan yang paling terbaik." Reyhan mengecup kepala istrinya sekali lagi.
"Aku bukan yang terbaik."
"Sstt ... diamlah. Bagiku kamu yang terbaik." lirih Reyhan. Amora hanya mengulas senyum, menatap suaminya dengan segala cinta yang ia punya.
"Lakukan yang menurutmu baik. Aku masuk duluan ya? Tidak apa-apa 'kan ?"
"Iya, Rey. Maaf aku tidak bisa masuk bersamamu. Nanti aku akan menyusul." ucap Amora dengan penuh sesal.
"Tidak apa-apa, sayang. Maafkan aku tidak bisa menemanimu. Karena aku takut tidak bisa mengontrol emosi ketika melihat dirinya."
Amora mengangguk paham.
"Masuklah. Aku akan segera kembali."
"Baiklah. Jaga dirimu baik-baik!" Reyhan melangkah menuju rumah dan meninggalkan Amora bersama mantan mertuanya. Ia tidak ingin berlama-lama di sana karena takut tidak bisa mengontrol emosinya. Entahlah, ia masih sakit hati atas perlakuan wanita itu pada istrinya meski semua telah berlalu lumayan lama. Ia akan selalu merasa sakit mengingat bagaimana istrinya tersiksa ketika menjalani pernikahan bersama sepupunya.
Sampai di pintu masuk, Reyhan menoleh sekali lagi pada Amora yang menatapnya dengan senyum yang terbingkai di wajah cantiknya. Ia ingin memastikan bahwa istrinya baik-baik saja. Jujur ada rasa khawatir meninggalkan istrinya bersama orang yang pernah menyakiti istrinya. Tapi demi istrinya, ia berusaha untuk percaya dan meninggalkan istrinya bersama sang mantan mertua. Reyhan melanjutkan langkahnya, ia benar-benar memasuki rumah dan menuju kamarnya.
Sementara itu, Amora mengajak Ibu Farhan duduk di salah satu kursi taman yang tak jauh dari tempat mereka berdiri. Hening tercipta di antara keduanya, sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Apa yang perlu Amora bantu, Bu?" akhirnya Amora berusaha memecahkan keheningan yang berlangsung beberapa saat. Wanita yang ada di hadapannya mengangkat kepala yang semula tertunduk. Ia menatap Amora dengan sejuta rasa tidak enak serta canggung.
"I-ibu ...." ia terbata. Mengumpulkan sejumlah keberanian yang menguap hilang begitu saja entah kemana. Rasa bersalah juga malu menerpa wajahnya, mengguncang hatinya yang keras. Ya, hati yang sengaja ia biarkan keras selama ini.
"Ibu meminta bantuan kamu, Amora." cicitnya ragu.
"Ya, Bu. Katakan saja. Jika bisa pasti Amora bantu." ujarnya seraya tersenyum dan meraih jemari mantan Ibu mertuanya. Menggenggam tangan keriput mantan mertuanya untuk menyalurkan kekuatan padanya.
"Ibu minta, cabut tuntutan kalian pada Farhan." minta sang mantan mertua, membuat Amora terkejut dan refleks melepaskan genggaman tangannya. Ia memandang terkejut pada wanita yang duduk di sebelahnya.
"I-ibu ... Ba-bagaimana Ibu bisa meminta itu pada Amora?" lirihnya seraya menahan sesak yang menghimpit dada.