
Happy reading Zheyeng π
______________________
Evan kembali dengan membawa kantong plastik, ia segera berjongkok di depan Amora yang duduk memperhatikan barang bawaannya.
"Kau mau apa?" tanya Amora heran.
"Aku akan mengobati kakimu." ujar Evan seraya mengeluarkan kapas dan alkohol dari kantong plastik yang ia bawa.
"Hanya luka kecil, tidak apa-apa."
"Walaupun luka kecil, harus di obat juga biar tidak infeksi." Evan mendongak sebentar, lalu ia perlahan mengobati lutut Amora yang lecet. Terdapat robekan yang sangat besar di celana Amora bagian lutut.
"Perih tidak?" tanya Evan meringis,
Amora menggeleng.
"Tidak. Lebih tepatnya tidak sebanding sama perihnya jalan hidup yang aku jalani."
Evan menatap wajah Amora yang tersenyum getir.
"Jiah, dia malah curhat." Evan mencoba mencairkan suasana. Ia berdiri karena sudah selesai mengobati kaki Amora.
Amora hanya tersenyum malu, pipinya merona.
"Kamu kenapa bisa sampai di sini?" tanya Evan ingin tahu. Ia memasukkan kembali alkohol dan kapas ke dalam kantong plastik.
Tak lupa pria itu menempelkan plaster ke kaki Amora yang terluka.
"Aku tersesat." jawab Amora seraya tersenyum geli.
"Loh, kok bisa?" Evan tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Ia mendaratkan bokongnya di sebelah Amora.
"Jadi gini ceritanya." Amora menceritakan semua kejadian dari awal sampai ia berakhir di tempat ini dan tertabrak oleh Evan.
"Jadi gitu ceritanya." Evan manggut-manggut.
"Iya begitu. Memangnya kamu abis darimana? " tanya Amora.
"Oh, tadi aku cari makanan." Amora menganggukkan kepalanya mengerti.
"Jadi kamu belum makan dong?" tanya Evan dan di jawab dengan gelengan kepala oleh Amora.
"Laper?" Amora menggeleng. Padahal cacing di perutnya sudah berdemo minta makan.
"Kau yakin?" tanya Evan sekali lagi.
"Iya, aku tidak lapar." jawab Amora seraya mengangguk pasti.
"Kruuuukkk ...." terdengar suara dari perut Amora yang tidak bisa di ajak bekerjasama.
Sontak saja hal itu membuat Evan tertawa terbahak-bahak. Sementara Amora membuang pandangannya ke arah lain, menyembunyikan wajahnya yang merona karena malu.
"Dasar perut penghianat." umpatnya kesal. Ia sangat malu pada Evan.
"Tunggu sebentar." kata Evan setelah tawanya reda. Ia berlari kecil menuju motornya, mengambil satu kantong plastik yang tergantung. Ia memberikan kantong plastik yang berisi makanan itu pada Amora.
"Makanlah." Evan mengulurkan kantong plastik itu pada Amora. Wanita itu melihat Evan dan bungkusan itu bergantian.
"Apa ini?" tanya Amora ragu.
"Bom."
"Hah ...." Amora terkejut, tubuhnya refleks mundur ke belakang.
"Aku bercanda. Kenapa kamu polos sekali sih." ujar Evan tersenyum.
"Kamu ini. ada-ada saja." Amora tersenyum. Evan kembali duduk di sebelah Amora, ia membuka bungkusan yang berisi nasi Padang dengan lauk lengkap serta sambal dan lalapan.
"Nasi Padang?" Amora meneguk air liur. Perutnya semakin meronta kala melihat makanan enak di depan mata.
"Iya, kenapa? kamu tidak doyan ya?"
"Doyan kok."
"Ya udah, makanlah!" Evan meletakkan nasi itu di atas meja. Lalu memberikan sendok plastik pada wanita itu.
"Tapi ini kan makanan kamu. Kalau ini aku makan, kamu bagaimana?"
"Ah gampang, nanti aku beli lagi. Lagi pula aku belum terlalu lapar." bohong Evan, ia tersenyum.
Amora memasukkan satu suapan nasi dengan daging rendang ke dalam mulutnya. Sedangkan Evan mati-matian menahan agar perutnya tidak mengeluarkan bunyi. Sebenarnya ia sangat lapar tadi, sehingga setelah mandi ia bergegas keluar untuk membeli nasi Padang dan berniat memakannya di kontrakan. Tapi insiden kec yang terjadi membuatnya lupa akan rasa lapar yang sejak tadi menyerangnya.
"Enak banget, loh. Kamu nggak mau nyobain?" ujar Amora sambil terus mengunyah makanan yang ada dalam mulutnya.
"Ah, tidak. Makanlah yang kenyang, setelah itu aku akan mengantarkan kamu pulang ."
"Tidak apa-apa, aku malah senang bisa membantumu." ujarnya seraya tersenyum memandang Amora yang sedang lahap. Tangannya tiba-tiba terulur untuk mengusap ujung bibir Amora yang belepotan. Membuat Amora memundurkan wajahnya, ia mengelap sendiri bibirnya.
"Maaf aku tidak bermaksud apa-apa." ucap Evan.
"Iya, tidak apa-apa. Terima kasih." Mendadak suasana menjadi canggung. Amora mengunyah dalam diam, sedangkan Evan sibuk dengan pikirannya sendiri. Hanya terdengar suara jangkrik yang bersahutan dan suara motor yang lewat melintasi jalan itu.
Kruuuukkk .... kembali terdengar suara perut yang lapar. Amora melebarkan matanya, perutnya sudah terisi lalu perut siapa yang berbunyi?
Ia melirik Evan yang memeluk perutnya, sedangkan pria itu pura-pura tidak mendengar dan menatap ke atas langit yang kelam.
"Katanya tidak lapar." cibir Amora. Ia menggeser nasi itu ke hadapan Evan.
"Memang siapa yang lapar?" Evan menoleh.
"Tukang siomay." jawab Amora kesal.
"Wah kasihan, ya." Evan terkekeh.
"Ayo makan! jangan berpura-pura lagi, makanlah!" Kali ini giliran Amora yang menyuruh Evan makan.
"Aku kenyang. Makanlah, aku bisa nanti." tolak Evan seraya mendorong nasi itu ke depan Amora.
"Makanlah."
"Suapin ya?" ucap Evan jahil, ia menaik turunkan alisnya menggoda Amora.
"Mau aku suapin pakai cangkul?" Amora melotot.
"Galak amat neng. Ya udah aku makan sendiri." Evan meraih sendok plastik yang sama saat Amora gunakan.
"Eh, tidak apa-apa kita pakai sendok yang sama." tanya Evan ragu. Sendok plastik berwarna putih itu tergantung di udara.
"Memangnya ada sendok lain?" tanya Amora dan Evan menggeleng.
"Ya sudah, pakai saja. Aku tidak memiliki penyakit menular." jawab Amora acuh.
Bukan penyakit yang ku takutkan, tapi kata orang berbagi sendok yang sama itu berarti kita ciuman tanpa sengaja. ujar Evan dalam hati.
Evan memasukkan makanan ke dalam mulutnya, mengunyahnya perlahan.
"Mengapa rasa nasi ini berbeda dari biasanya ya."
"Berbeda gimana?" Amora mengernyitkan dahi.
"Ya beda aja, kok makin enak ya." Amora diam tak mengerti. Ia rasa semua nasi Padang sama saja.
"Lebih enak karena sendoknya bekas kamu." goda Evan yang langsung membuat Amora tak kuasa menahan tawa.
"Astaga bisa aja kamu. Ku kira kamu cupu, ternyata suhu." Ledek Amora. Evan memang berbeda dari yang lain, ia lebih pendiam di kantor. Terkesan dingin dan cuek, tak di sangka pria hitam manis ini punya selera humor yang tinggi.
Setelah menghabiskan makanan, Evan mengantar Amora pulang.
"Kamu nggak malu naik motor butut?" tanya Evan di tengah perjalanan.
"Kenapa harus malu? yang penting aku sampai rumah dengan selamat." sahut Amora dari belakang.
"Amora, ayo kita menikah."
"Apa?" Amora terkejut mendengar ajakan Evan yang tiba-tiba.
"Ayo kita menikah, karena cuma kamu yang mau aku bonceng pakai motor tuaku ini."
"Kamu mengajakku menikah hanya karena aku mau di bonceng pakai motor kamu?" tanya Amora heran.
Evan mengangguk dengan cepat.
"Dasar aneh." tak segan-segan Amora menoyor kepala Evan yang di tutupi helm,
Membuat Evan tertawa dengan keras.
Tapi jauh di dalam lubuk hatinya, ia berharap Amora akan benar-benar mau menikah dengannya suatu hari nanti. Tapi ia cukup sadar diri dengan keadaan yang tak memungkinkan.
πΌπΌπΌ
Hai zheyeng π
Semangat ya. Tetap tersenyum meski keadaan tak memihak pada kita.
Jangan selalu melihat dari keburukan, tapi lihat pula dari sisi kebaikan. Yang buruk tak selamanya buruk.
Semangat π₯°
I Love you zheyeng π