
Lepaskan jika itu menyakitkan
Pertahankan jika itu membahagiakan
_
_
"Le- lepaskan mas," tak terhitung lagi berapa banyak air mata yang jatuh. Ia mengigil ketakutan, berusaha mencari cara untuk lepas dari pria yang tak lagi ia kenali.
"Tidak akan! Sebelum kamu mau bercerai dari pria brengsek itu!" wajah pria itu memerah, terlihat urat di lehernya yang menegang.
"Kau harus kembali padaku, Amora. Aku tidak akan pernah rela jika Reyhan benar-benar memiliki mu!" mata itu berkilat penuh amarah dan dendam.
"Tapi aku sudah tidak mencintaimu lagi, Mas." cicit Amora dengan suara yang bergetar.
"Tapi aku mencintaimu, sayang. Aku mencintaimu."
"Tak apa jika kamu sudah tidak mencintaiku, akan ku buat kamu kembali mencintaiku seperti dulu. Lagi pula, cinta yang ku miliki cukup besar sayang. Cintaku cukup untuk kita berdua." imbuhnya dengan suara yang lembut. Wajah yang semula memerah karena amarah itu kini membingkai senyum mengerikan. Amora kembali bergidik takut.
"A-aku tidak bisa mas." ujar Amora lagi.
Brakk ....
Amora berjengkit kaget ketika tembok yang berada di sebelahnya menjadi sasaran kemarahan Farhan. Ia menatap ngeri pada sang mantan suami yang rahangnya telah mengeras dengan kedua tangan yang masih bertumpu pada dinding, mengungkung Amora yang semakin ketakutan.
"Apa kamu mau aku membunuh pria itu? kau mau aku membunuhnya, Amora?" Farhan tersenyum licik, menikmati wajah ketakutan yang tak bisa Amora sembunyikan. Wanita itu menatap Farhan dengan tak percaya. Matanya terbuka lebar di sertai mulutnya yang ikut terbuka.
Membayangkan Farhan akan membunuh suaminya membuat Amora menggeleng dengan kuat. Baru membayangkan saja sudah membuat dadanya sesak. Ia tidak akan pernah membayangkan Reyhan akan mati di tangan Farhan dengan bersimbah darah.
"TIDAK!" teriak Amora histeris. Farhan tersenyum menang, ia merasa ikan telah memakan umpan yang ia berikan.
"Tolong! jangan sakiti Reyhan!" pintanya dengan air mata yang mengucur semakin deras. Ia mengatupkan kedua tangannya memohon pada Farhan yang tak menghilangkan senyum di wajahnya. Segaris senyuman yang penuh kelicikan serta kemenangan.
"Apa kamu begitu mencintainya?" pria itu tersenyum sinis. Amora hanya mengangguk takut. Farhan menggeram diam-diam, menyusun rencana licik di otaknya.
"Apa kamu ingin pria brengsek itu tetap hidup?" Amora kembali mengangguk.
"Baiklah," Farhan meraih Surai coklat Amora yang tergerai. Mencium lamat-lamat aroma yang selalu di rindukan. Baru mencium ujung rambut wanita itu saja sudah membuat gairah membakar seluruh tubuhnya. Ah, ia sangat merindukan hangatnya tubuh wanita yang sedang berdiri ketakutan di hadapannya ini. Imajinasi liarnya mulai bermunculan di kepalanya. Membayangkan bercinta dengan sang mantan istri dengan tangan yang di ikat ke atas di sertai wajah ketakutan, akan menambah kepuasan yang akan di capainya.
Ia merasakan bagian bawah tubuhnya mengeras, hasrat itu semakin menguar membuat dirinya menatap wanita yang ada di hadapannya dengan sayu penuh nafsu.
"Amora," desahnya dengan suara serak.
"A-apa?" Amora mendelik dengan wajah masih ketakutan. Bahkan kadar ketakutan dalam dirinya semakin bertambah berkali-kali lipat.
"Kembalilah padaku." bisiknya lagi.
"Sayang ... Kembalilah dan ceraikan pria itu, maka dia akan selamat. Jika kamu bersikeras tidak mau bercerai dengannya, maka ...." Farhan menggantung kalimatnya. Menunggu ekspresi Amora.
"Maka apa mas?"
"Ummm ... nanti ku pikirkan lagi bagaimana cara untuk menghabisi pria perebut istri orang itu. Oh, nama yang bagus untuk dia adalah PEBINOR." sengaja menekan kata pebinor dengan penuh emosi.
"Mas, aku mohon. Jangan lakukan itu." Amora memelas dengan sangat. Hal itu semakin membuat Farhan tersenyum licik.
"Ohya, bagaimana kalau nanti aku ikat dia di atas tiang gantungan. Lalu ku cabut kukunya satu persatu," Amora membeliak ngeri seraya menggelengkan kepalanya.
"Lalu, aku akan merusak wajahnya dengan pisau kecil. Ah tidak, lebih baik memakai silet. Setelah itu di siram air garam atau perasan jeruk nipis, sepertinya sangat seru." bola mata Amora kian mendelik, membayangkan apa yang di katakan Farhan barusan. Sementara pria itu semakin terbahak-bahak membayangkan hal menyenangkan yang akan ia lakukan nanti. Pria ini benar-benar psikopat. Apa yang ada di pikirannya membuat Amora merinding.
"Oh iya aku lupa. Bagaimana kalau langkah selanjutnya mengambil jantungnya? bukankah ia juga mencintaimu? Ah, sepertinya itu ide yang bagus. Baiklah, aku akan ...."
"Hentikan! aku mohon hentikan mas! Jangan lakukan semua itu. Aku mohon ...." Amora sudah tidak tahan lagi. Ia tidak akan sanggup jika benar Farhan melakukan hal gila itu pada orang yang ia cintai. Dan jika benar ada hal buruk yang terjadi pada Reyhan, maka orang yang berhak di salahkan adalah dirinya. Tubuhnya luruh ke lantai yang dingin, di iringi derai air mata yang jatuh semakin deras. Ia berlutut di hadapan pria yang pernah menjadi suaminya itu.
"Aku mohon mas. Jangan lakukan apapun kepada Reyhan. Jangan sakiti Reyhan, aku mohon ...."
Hati Farhan sangat sakit mendengar ucapan Amora. Tapi meski begitu, ia tersenyum penuh arti. Ia akan menggunakan kesempatan ini sebaik-baiknya.
"Baiklah, Amora. Dengarkan aku!"
Amora mendongak dengan wajah yang bersimbah air mata. Mengharap belas kasih dari sang mantan suami demi pria yang menjadi pusat dunianya saat ini. Farhan berjongkok, meraih dagu Amora dengan lembut.
"Kau harus menuruti segala perkataan ku!" Amora hanya mengangguk pasrah. Ia tidak akan membiarkan Farhan menyakiti Reyhan seujung kuku pun.
"Apa kau mau?"
Amora kembali mengangguk tanpa keberdayaan.
πΊπΊπΊ
Halo zheyeng π
Mana nih kemaren yang minta crazy up?
Mumpung author lagi berbaik hati, hari ini author up dua chapter.
Makasih banyak buat kalian yang selalu mendukung karya receh author sengklek ini. Komentar kalian yang bikin author semangat up. Jangan males komentar ya, karena itu moodbooster buat author.
Maaf belum bisa balas komentar kalian satu-satu π
Yang pasti author sayang kalian semuaππ