Suami Sementara

Suami Sementara
Ciuman pertama Reyhan


Happy reading zheyeng 😘


____________________________


Sekelebat bayangan muncul, keduanya terkejut ketika ada sesuatu yang melintas di depan mobil.


"Reyhan! awas ....!!!" teriak Amora.


Brakk ....


Terdengar suara benturan yang cukup keras, Reyhan dan Amora saling berpandangan. Keduanya terlihat sangat terkejut dan panik. Dengan cepat Reyhan membuka sabuk pengamannya dan turun dari mobil.


"Reyhan, kita menabrak orang." ucap Amora dengan takut.


"Kamu diam di sini dan jangan turun." Amora hanya mengangguk. Ia menggigit kuku tangannya untuk menghilangkan kegugupan yang mendera.


Ia melongok ke depan, mencoba mengintip apa yang terjadi di depan. Hujan masih mengguyur bumi, membuat jarak pandang Amora samar dan tak bisa melihat ke depan dengan jelas. Amora membuka sabuk pengaman, lalu membuka kaca jendela mobil, bau khas hujan langsung menyerbu indera penciumannya. Ia mengeluarkan kepala untuk melihat apa yang terjadi di luar.


Netranya menangkap sosok Reyhan yang sedang berbicara pada seorang pria yang ada di hadapannya. Mungkin pria itu adalah orang yang Reyhan tabrak tadi. Siluet pria itu seperti tak asing di mata Amora. Ia seperti mengenal pria itu. Amora menyipitkan matanya untuk memperjelas penglihatannya.


"Saya benar-benar minta maaf, saya tidak sengaja." suara Reyhan yang meminta maaf terdengar samar di bawah guyuran hujan.


Tak lama Reyhan masuk ke dalam mobil dengan keadaan basah kuyup.


Ia tersenyum menenangkan.


"Bagaimana?" tanya Amora dengan cemas.


"Tidak apa-apa, cuma lecet sedikit. Dia tidak mau di bawa kerumah sakit." jelas Reyhan. Ia meraih beberapa lembar tisu yang ada di dashboard mobil. Menyeka tetesan air hujan yang jatuh dari rambutnya yang lepek.


"Syukurlah kalau tidak apa-apa." ucap Amora lega. Kini ia bisa bernapas dengan lega. Reyhan hanya tersenyum dan mengangguk.


"Ya syukurlah orangnya baik dan tidak membawaku ke kantor polisi." Reyhan terkekeh lalu kembali melanjutkan mengelap wajahnya yang masih belum kering.


Melihat Reyhan yang sibuk mengeringkan wajah serta tubuhnya yang basah, Amora meraih beberapa lembar tisu dari tangan Reyhan. Ia membantu mengelap wajah Reyhan yang basah.


"Biar aku bantu." Amora mengambil alih, dengan lembut wanita itu mengeringkan wajah serta rambut Reyhan yang basah. Reyhan terpaku, ia hanya bisa diam seraya menatap wajah cantik yang ada di hadapannya. Tanpa sadar pria itu mengulas senyum, mengagumi wajah Amora yang nyaris sempurna tanpa celah. Ah Amora benar-benar cantik. Ia merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang paling indah menurutnya.


Pandangannya turun pada hidung Amora yang mancung, lalu turun ke bibir Amora yang merah bak buah persik. Bibirnya mungil, sangat pas dengan kontur wajahnya. Reyhan meneguk ludah, membayangkan betapa manisnya bibir itu. Detak jantungnya seakan berhenti, pikirannya sudah lari entah kemana. Membayangkan bibirnya dan bibir Amora menyatu. Saling mereguk manisnya bibir masing-masing, saling menyalurkan rasa cinta yang indah. Tanpa Reyhan sadari ada yg mengeras di bawah sana. Yang membuat tubuhnya terasa panas meski tubuhnya basah .


"Kenapa kamu?" tanya Amora seraya menyipitkan matanya menatap Reyhan curiga. Tangannya terhenti di kepala Reyhan.


"Apa? Memangnya aku kenapa?" tanya Reyhan gugup. Ia tersadar dengan apa yang ia lakukan. Ia mengedarkan pandangannya ke arah lain. Tak sanggup melawan tatapan Amora yang memabukkan.


"Kamu mikir apa?" Amora melotot.


"Tidak ada. Sudah selesai?" Reyhan mencoba menutupi kegugupannya. Ia mengutuki pikirannya yang berlarian entah kemana. Bisa-bisanya ia berpikiran hal mesum di saat begini. Ia lupa bahwa mereka sedang berada di jalan.


Amora menurunkan tangannya, lalu membuang tisu yang ia gunakan ke jendela mobil.


"Sudah selesai. Lagipula bagaimana bisa kering semua dengan menggunakan tisu?"


"Eh iya juga sih." Reyhan menggaruk kepalanya.


"Aku sangat kedinginan, apa kamu mau memelukku sebentar?"


"Hah?" Amora mendelik dengan raut wajah terkejut tak percaya.


"Aku bercanda." Reyhan terkekeh. Padahal hatinya sangat berharap Amora benar memeluknya, memberikan kehangatan agar tubuhnya tak merasakan kedinginan seperti sekarang ini. Ia mulai menggigil, bibirnya sudah berubah warna menjadi pucat kebiruan. Giginya bergemeletuk serta tangannya gemetar.


"Dingin banget ya?" Reyhan terkesiap, tiba-tiba Amora sudah memeluknya. Seketika rasa hangat menjalari tubuhnya.


"Amora." lirih Reyhan seraya menatap wanita itu tanpa berkedip. Tak ada jarak di antara keduanya, bau khas mawar dari tubuh wanita itu menguar masuk ke indera penciumannya. Menimbulkan rasa yang tak biasa di dalam tubuh serta hatinya.


"Kenapa? tadi katanya minta peluk?" Amora melotot tanpa melepaskan pelukannya. Reyhan tersenyum. Ia pun membalas pelukan Amora dengan erat.


"Jangan kenceng-kenceng meluknya. Aku tidak bisa bernapas!" teriak Amora seraya menepuk bahu Reyhan dengan kesal. Reyhan terkekeh, ia pun merenggangkan pelukannya. Ia tak kuasa menahan rasa yang bergejolak di hati, rasa senang karena Amora yang mau memeluknya membuat ia lupa. Sehingga ingin selamanya memeluk wanita ini bahkan mungkin tak akan melepaskannya walau hanya sekejap.


"Maaf, aku kedinginan." ujar Reyhan dengan bibir gemetar. Amora memandang Reyhan dengan sendu. Ia merasa kasihan serta khawatir dengan pria ini. Keduanya saling berpandangan, napas keduanya sangat dekat. Tak ada jarak yang menghalangi dan entah siapa yang memulai, kedua bibir itu menyatu. Saling menyesap dan menyalurkan kehangatan. Tangan Reyhan menekan tengkuk Amora untuk memperdalam ciuman. Amora merasakan bibir Reyhan yang dingin bagai es, ia menyesapnya perlahan membuat bibir itu perlahan kembali hangat. Keduanya menikmati momen itu dengan rasa yang tak bisa di jelaskan. Mengikuti naluri yang dan alur yang tak pernah di rencanakan sebelumnya. Dengan suara hujan yang mengiringi dan cuaca dingin yang menusuk ke tulang, membuat keduanya larut dalam momen yang tak pernah mereka lakukan sebelumnya.


Hingga keduanya saling melepaskan tautan bibir mereka ketika mulai kehabisan napas.


Pandangan keduanya sama-sama sayu, tapi Reyhan segera menarik diri. Ia duduk menjauh sehingga menciptakan lubang kecewa di hati Amora.


"Maaf Amora. Aku tidak bermaksud begitu." ucap Reyhan tak berani menatap Amora. Ia tak mengerti kenapa semuanya terjadi.


"I-iya tidak apa-apa." Amora pun membuang pandangannya ke luar jendela mobil. Ia juga salah tingkah. Keduanya sama-sama tidak mengerti dengan apa yang telah mereka lakukan barusan. Semuanya terjadi begitu cepat tanpa bisa di cegah.


"Kita pulang." ajak Reyhan dan di balas dengan anggukan oleh Amora. Ia kembali mengenakan sabuk pengaman yang ia lepaskan sebelumnya.


"Kau kuat menyetir?" tanya Amora khawatir. Reyhan mengangguk.


"Iya, aku kuat kok." ujarnya gugup. Ia pun melajukan mobilnya membelah jalanan yang masih di guyur hujan. Sesekali ia meraba bibirnya yang mulai kering. Rasa manis bibir Amora masih tertinggal di sana, ah ini ciumannya yang pertama. Dan ia bahagia bisa merasakan itu bersama wanita yang di cintainya.


Amora



Reyhan



❀️❀️❀️


Hai zheyeng 😘


Gimana dah panjang belum part-nya kali ini🀭


Maaf ya udah bikin kalian semua menunggu. Kesehatan serta mood author lagi naik turun, jadi belum bisa crazy up. Dan maaf juga, belum bisa balas komentar kalian satu persatu. Makasih ya, udah setia menunggu kelanjutan cerita Amora dan Reyhan. Dukungan dari kalian semua sangat berarti untuk author πŸ₯°πŸ₯°πŸ˜˜πŸ˜˜


Sayang kalian 😘


Jaga kesehatan ya dan jangan lupa bahagia ❀️