Suami Sementara

Suami Sementara
Salah paham


"Jangan menyalahkan orang lain atas kesalahan yang kamu lakukan." ucap Reyhan datar seraya menatap pria yang ada di hadapannya.


"Kesalahan apa? Jangan mengalihkan pembicaraan! Kamu itu pebinor!"


"Kalian sudah bercerai dan kamu memintaku untuk menikahi Amora, sementara kamu juga menikahi Sania bahkan sekarang wanita itu hamil anak kamu. Bahkan jauh sebelum kamu dan Amora berpisah pun, hubungan kalian sudah sangat jauh."


"Anak yang ada di dalam kandungan Sania itu bukan anak aku!" sanggah Farhan dengan marah. Netra hitam kelam itu menatap Reyhan dengan pandangan menusuk.


"Lalu?" sebelah alis pria itu terangkat ke atas menunggu jawaban dari sepupunya.


"Jangan katakan kalau kamu tidak mengakui anak itu?" imbuh Reyhan seraya memicingkan matanya, menatap penuh curiga pada pria yang hanya menyeringai di hadapannya itu. Amora menatap Farhan dengan datar. Tak perlu di jelaskan, Amora sudah tahu jawabannya dan apa yang telah terjadi. Ia sangat mengenal pria yang ada di hadapannya ini, tahu rahasia yang selama ini di sembunyikan dan fakta yang di putar balikkan oleh sang mantan suami.


"Aku tidak akan bisa memiliki anak," jawabnya tanpa ekspresi. Ia menatap Amora sangat dalam, mengumpulkan kepingan memori yang sempat terkubur emosi. Berada di sudut hati, diam tergeletak tanpa adanya kasih. Ia biarkan saja kepingan itu menjadi sebuah kenangan yang mungkin sedikit terabaikan tapi tak kan pernah terlupakan.


"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Amora risih. Reyhan menoleh pada istrinya, lalu netranya beralih pada pria yang masih menatap Amora dengan intens.


"Berhenti menatap istriku!" Reyhan menggeram. Menatap marah pada Farhan yang terlihat acuh tak acuh. Ia merasa percuma berbicara pada Farhan.


"Kamu tidak berhak apa-apa, Rey. Jangan mentang-mentang kamu sudah menjadi suaminya, kamu semena-mena karena aku dan Amora masih pasangan yang sah di mata hukum dan negara."sinis Farhan tanpa mengalihkan pandangannya. Malah tatapan itu semakin intens dan tak mau jua beralih.


"Brengsek kau!" umpat Reyhan kesal. Pria itu berdiri dan menarik kerah baju yang Farhan kenakan sehingga mau tak mau pandangan Farhan teralihkan dan menatap Reyhan penuh kemenangan. Amora yang terkejut melihat itu pun ikut berdiri, memegang lengan Reyhan dan bermaksud untuk menenangkannya.


"Rey, jangan terpancing emosi. Kita sedang berada di kantor polisi, tolong kendalikan emosi kamu." ucap Amora seraya menatap suaminya khawatir.


Farhan menyeringai, menatap remeh pada sepupunya yang marah. Gurat kemarahan terlihat sangat jelas di wajah Reyhan, entah mengapa pria itu terlihat sangat emosi berbeda dari biasanya. Entahlah, ia merasa sangat takut dengan kenyataan yang memang benar adanya itu. Amora dan Farhan belum resmi bercerai dan ia sangat takut akan kehilangan wanita yang sangat berarti dalam hidupnya itu. Entah bagaimana jadinya jika benar akan kehilangan Amora. Baru membayangkannya saja hatinya terasa sakit, bak tertusuk duri yang di lumuri racun mematikan.


Reyhan tersenyum, dengan pelan ia melepaskan cengkraman tangannya di kerah baju Farhan.


"Akan aku pastikan kalian akan berpisah secepatnya! Akan aku pastikan Amora akan menjadi istriku selamanya. Dan terimakasih telah menyerahkan Amora waktu itu. Terimakasih atas kebodohanmu yang dengan sadar telah menyia-nyiakan wanita sesempurna Amora. Terimakasih telah memilihku untuk menjadi suami sementara bagi Amora. Terimakasih, SE-PU-PU." Reyhan menarik sudut bibirnya, menatap Farhan yang kini sudah di kuasai emosi. Pria yang awalnya tersenyum dengan menang itu kini wajahnya memerah menahan marah.


"Dasar brengsek! PenghianatTanpa aba-aba, ia berdiri dan langsung melayangkan sebuah pukulan yang sangat keras pada sepupunya itu.


Bugh ....


Kepala Reyhan terpelanting ke samping di susul jeritan Amora.


"REYHAN ...!" Amora membekap mulutnya tak percaya. Ia menyentuh suaminya dengan lembut penuh rasa khawatir.


"Rey, apa kamu tidak apa-apa?" tanya wanita itu dengan sangat khawatir. Suaranya bergetar menahan tangis, ia menyentuh sudut bibir suaminya yang robek.


"Aww ...." Reyhan meringis ketika luka itu terasa perih akibat sentuhan kecil dari Amora.


"Ah maafkan aku, Rey. Aku tidak sengaja," kata Amora dengan penuh penyesalan. Ia meringis melihat sedikit darah yang ada di sudut bibir suaminya, mengusapnya penuh kehati-hatian dengan sesekali meniupnya dengan sayang.


"Kenapa minta maaf, sayang? Aku hanya terkejut," pria itu mengelus pipi kiri Amora dengan lembut full senyum. Tatapannya hangat dan penuh kasih, tatapan yang selalu Amora rindukan setiap waktu.


Emosi Farhan semakin meluap bahkan kini napasnya memburu. Sikap kedua orang yang ada di hadapannya saat ini mampu membakarnya hidup-hidup terutama hatinya. Hatinya terasa sangat sakit dan panas kala keduanya bersikap romantis penuh sayang dan saling mengkhawatirkan satu sama lain.


Ia kembali akan menghajar Reyhan ketika para penjaga datang melerai.


"Jangan membuat keributan atau hukuman kamu akan di tambah!" ucap salah satu sipir dengan wajah garang berbadan tegap. Ia menarik tubuh Farhan yang di penuhi amarah serta napsu membunuh yang kuat.


"Lepaskan aku! Biarkan aku membunuh pengkhianat itu! Biarkan aku memutilasi tubuh pebinor itu!" teriak Farhan dengan marah. Ia terus meronta sehingga satu sipir saja tak bisa mengendalikan tubuh pria yang sedang di gulung dengan emosi itu. Tiga sipir memegangi tubuhnya, menahan Farhan agar tak menyerang Reyhan lagi.


Amora segera menyingkir, menarik lengan suaminya agar menjauh. Ia pun tidak rela jika Farhan kembali melukai suaminya. Sementara itu Farhan terus di tarik paksa untuk kembali ke ruang tahanan.


"AKU AKAN MEMBUNUH KAMU, REYHAN! AKU AKAN KELUAR DARI SINI DAN AKU AKAN MENCARIMU! TIDAK AKAN PERNAH AKU BIARKAN KALIAN BAHAGIA! AKU AKAN MEREBUT KEMBALI ISTRIKU! TIDAK AKAN KU BIARKAN KALIAN BAHAGIA! HAHAHA ...!" Farhan terus berteriak ketika di bawa menuju ruang tahanannya.


"DIAM!" bentak salah satu sipir berbadan tegap dengan wajah garang itu.


"Mengapa Farhan menjadi seperti itu, ya?" Amora menatap sedih pada Farhan yang semakin jauh. Bahkan kini sudah menghilang di balik tembok bersama tiga sipir yang menarik paksa tubuhnya.


"Mengapa? Apa kau mengkhawatirkannya?"


"Iya, aku sangat mengkhawatirkannya." lirih Amora menatap pintu menuju ruangan para narapidana tanpa menoleh pada suaminya. Ia tidak mengetahui raut wajah sang suami yang kini berubah.


"Oh, jadi begitu. Berarti kau masih punya rasa dengan sang mantan suami?" sindir Reyhan yang seketika langsung membuat Amora tersadar telah salah bicara dan membuat wanita itu perlahan menoleh pada sang suami yang berdiri di sampingnya memasang wajah yang pura-pura cemberut.


"Haish ... Apa yang kau katakan? Bagaimana kamu bisa berkata seperti itu?"


Reyhan mengangkat kedua bahunya.


"Cepat hilangkan pikiran buruk dari kepalamu! Aku sudah tidak punya perasaan apa-apa pada pria itu! Dan satu lagi, perasaan itu tak lagi sama."


"Lalu, mengapa kau begitu terlihat khawatir padanya? Bahkan kau menatap tak rela ketika ia di bawa paksa oleh para sipir itu."


"Aku?" Amora menunjuk dirinya sendiri.


Reyhan hanya mengangguk mengiyakan.


"Apa ada orang lain di sini?" lanjutnya.


Amora tertawa kecil.


"Kamu salah paham, Rey. Aku hanya menyesali semua perilaku pria itu. Seandainya ia tidak seperti ini, mungkin kehidupannya tidak akan hancur dan semua pasti baik-baik saja." jelas Amora yang malah membuat Reyhan semakin salah paham.


"Jadi, seandainya ia tidak seperti itu maka rumah tangga kalian akan baik-baik saja dan kalian masih menjadi suami-istri, begitu?"


"Astaga, Reyhan! Kok malah kemana-mana sih?" Amora mendesah putus asa.


"Aku tidak kemana-mana. Aku sejak tadi berdiri di sini, di sampingmu. Dan kamu malah memikirkan pria lain." gerutu Reyhan yang membuat Amora ingin berteriak karena frustasi.


"Hey tuan Reyhan! Siapa yang memikirkan pria lain? Bukan begitu maksudku.Aku sama sekali tidak memikirkan pria itu! Kamu salah tanggap dan salah paham."


"Apanya yang salah paham? Jelas-jelas kau memikirkannya bahkan mengkhawatirkannya." sindir Reyhan lagi.


"Ya Tuhan, bantu aku menjelaskan pada pria ini." ujar Amora frustasi.


"Kau salah paham, Rey. Tunggu dulu. Apa kau cemburu?"


"Menurutmu?" Reyhan mengangkat kedua alisnya seraya bersedekap menatap datar pada istrinya.


"Ya Tuhan. Begitu saja kau cemburu?"


"Pria mana yang rela jika wanita yang di cintainya memikirkan dan mengkhawatirkan pria lain? Terlebih pria yang di pikirkan itu pernah ada di hati sang wanita."


Amora terdiam. Ia tidak dapat berkata apa-apa lagi. Apa yang di ucapkan Reyhan ada benarnya.


"Maaf." lirih Amora akhirnya. Reyhan tersenyum, lalu menarik tubuh istrinya ke dalam pelukan.


"Tidak ada yang perlu di maafkan. Kau tidak salah." bisiknya lembut di telinga sang istri.


"Aku salah, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu cemburu." cicit Amora yang berada di dalam pelukan sang suami.


"Iya sayang. Aku mengerti, Maafkan suamimu yang cemburuan ini ya. Aku hanya takut jika rasamu masih ada untuk Farhan. Dan aku takut jika kamu akan kembali padanya. Apalagi di mata hukum, kamu masih istri Farhan yang sah." lirih Reyhan di sela sakit yang di rasa. Sesekali ia mengecup ujung kepala istrinya.


Hening tercipta beberapa saat di antara keduanya. Saling berperang dan sibuk dengan pikiran serta perasaan masing-masing.


"Aku akan mengurus perceraian secepatnya." ucap Amora memecahkan keheningan yang beberapa waktu tercipta.


"A-apa?"