Suami Sementara

Suami Sementara
Panggil aku, SAYANG


"Ma ...." panggil Reyhan.


"Kenapa Rey?" tanya Mama yang beranjak dari sofa di ujung ruang rawat Reyhan. Wanita itu melangkah pelan mendekati ranjang dimana anaknya sedang duduk bersandar.


"Mama mengantuk?"


"Tidak. Mama hanya menguap sedikit,"


"Kenapa memangnya? Kamu perlu sesuatu?" tanya Mama seraya menyentuh lengan sang anak. Reyhan menggeleng.


"Lalu?" kening wanita itu berkerut seraya menatap heran pada anaknya yang tersenyum simpul.


"Kalo mama mengantuk, sebaiknya Mama pulang saja. Kan sudah ada dokter cinta di sini, Ma." Reyhan mengedipkan sebelah matanya.


"Hah? Maksudmu?" tanya Mama Riana bingung.


"Kan sekarang Reyhan punya dokter cinta, Ma."


"Apa sih, kalau berbicara itu yang benar Rey!" rutuk Mama Riana.


"Ish masak Mama tidak tahu, sih."


"Mama tidak tahu, apa sih Rey? Jangan main teka-teki sama Mama. Mana ada dokter cinta."


"Ada Mama sayang, ada."


"Mana?" Mama Riana melotot dengan kedua tangan di pinggang. Ekor mata Reyhan beralih pada wanita yang keluar dari kamar mandi.


Sontak saja Mama Riana mengikuti arah pandangan Reyhan. Tampak Amora keluar dengan wajah segar setelah mandi. Ia berhenti sebelum sampai di depan dua orang yang di sayanginya. Keningnya pun tak urung berkerut melihat keduanya yang tengah memandangnya dengan tatapan aneh.


"Kenapa Mama dan Reyhan menatapku seperti itu?"


"Apa ada yang salah?" imbuhnya dengan raut wajah yang kebingungan. Menelisik penampilan serta memandang kedua orang yang ada di hadapannya ini dengan kebingungan luar biasa.


"Oh, ini yang kamu maksud?" Mama kembali melihat Reyhan.


"Mama sih, begitu saja tidak paham."


"Ya mana Mama tahu." wanita itu mengangkat kedua bahunya.


"Sebenarnya ada apa sih?" tanya Amora seraya meneruskan langkahnya. Mendekati bibir ranjang yang sudah di tempati sang mama mertua.


"Ini sayang. Mama khawatir dengan keadaan aku. Aku kan sudah sembuh, apalagi sekarang sudah ada kamu. Jadi Mama bisa beristirahat dengan tenang sekarang."


"Kamu mendoakan mama mati, Rey?" Mama Riana melototi anaknya dengan galak.


"Astaga. Siapa yang do'ain Mama mati sih?"


"Lah, itu tadi. Kamu menyuruh Mama berisitirahat dengan tenang!"


"Astaga Mama. Maksudnya, mama bisa istirahat di rumah tanpa memikirkan keadaan Reyhan. Reyhan baik-baik aja sekarang. Lagi pula ada Amora yang akan merawat Reyhan dengan sepenuh hati. So, tenang ya mama sayang. Anakmu sudah aman sekarang." ujar Reyhan dengan senyum jahil.


"Ya ya baiklah. Mama juga tidak ingin mengganggu pengantin baru." Mama mencibir. Melirik menantunya yang tersipu malu.


"Sudah, Amora. Jangan malu-malu begitu."


Amora mendelik. Lagi, wajahnya semakin tersipu. Ia berjalan mendekati mertuanya.


"Mama, jika mama masih ingin di sini ya tidak apa-apa. Kita rawat Reyhan bersama."


"Tidak sayang. Suamimu itu tidak mau lagi di rawat Mamanya. Mentang-mentang sudah punya dokter cinta sekarang." Mama mengerling ke arah Reyhan yang mengulum senyum.


"Maksudnya Ma? Dokter cinta apa?" tanya Amora bingung. Ia menatap Reyhan dan Mama Riana bergantian.


"Kamu sayang. Masak begitu juga tidak tahu sih." kata Mama Riana seraya melangkah menjauh, menyambar tas branded miliknya.


Wanita itu kembali mendekati anak dan menantunya.


"Mama pulang dulu ya. Jaga diri baik-baik, jangan kecapekan." ia mengecup ujung kepala Amora dan memeluk layaknya seorang Ibu pada anak perempuannya.


"Iya sayang. Dan kamu Rey."


Wanita itu berpindah pada Reyhan yang hanya mengulum senyum sedari tadi. Pria itu berjengkit kaget.


"Jangan merepotkan Amora! Kalo Amora sampai kewalahan menghadapi kamu, lihat saja nanti. Mama hukum kamu."


"Astaga. Kewalahan apa sih ma? Reyhan juga belum kuat ma. Nanti kalau Reyhan sudah sembuh, baru Amora akan Reyhan buat kewalahan. Kalau untuk sekarang yang ringan-ringan dulu lah Ma." kekeh Reyhan seraya mengedipkan sebelah matanya pada sang istri. Amora mendelik setelah mendengar apa yang di katakan suaminya barusan begitu juga dengan Mama Riana.


"Astaga! Dasar anak nakal!" Mama mencubit pelan di perut anaknya.


"Sakit Ma," lirih Reyhan.


"Makanya jangan sableng jadi anak."


Reyhan hanya tertawa melihat Mamanya begitu pun dengan Amora.


"Ohya, mengenai Farhan. Mama akan mengurusnya. Ini tidak bisa di biarkan. Mama akan buat dia membusuk di penjara karena apa yang ia lakukan benar-benar sudah kelewat batas. Tidak peduli dia sepupu kamu atau bukan. Jika tidak begini, maka nanti dia akan semakin merajalela. Sudah benar-benar gila anak itu." wajah yang semula penuh senyum, kini berubah menjadi serius. Reyhan dan Amora hanya mengangguk setuju.


"Reyhan setuju, Ma. Reyhan juga memikirkan keselamatan Amora." ia meraih tangan sang istri yang tergantung di udara. Mengecupnya dengan penuh kasih.


"Aku tidak ingin jika istriku ini dalam bahaya." ia menatap Amora dengan penuh ketakutan. Membayangkan jika Amora yang berada di posisinya kemarin, ah entahlah. Ia sangat takut membayangkan semuanya.


"Kamu jangan pikirkan yang lain. Fokus pada kesehatan kamu. Mama akan segera mengurusnya. Mama pulang dulu, baik-baik kalian di sini." ujar wanita itu dan segera melangkah meninggalkan ruang rawat anaknya. Amora dan Reyhan hanya mengangguk seraya mengulas senyum.


"Hati-hati, Ma." ucap Amora meski mertuanya sudah hilang di balik dinding.


"Kamu tidak di apa-apakan oleh pria gila itu kan sayang?" tanya Reyhan seraya menatap takut pada istrinya.


"Allhamdulillah tidak kok, Rey. Aku bisa lari saat dia lengah. Aku tidak akan sebodoh itu untuk menuruti segala kemauan gilanya. Aku tidak akan mau lagi terjebak dalam permainan yang ia ciptakan."


"Syukurlah kalau kamu baik-baik saja, sayang. Aku sangat takut jika sampai ia mencelakai kamu." pria itu menyurukkan kepalanya ke perut Amora. Sementara kedua tangannya melingkari pinggang Amora dengan Posesif. Amora sedang berdiri di sisi ranjang suaminya.


"Aku tidak apa-apa, jangan khawatir. Lagi pula itu sudah lewat." wanita itu mengelus kepala suaminya dengan lembut.


"Semoga polisi cepat menangkap Farhan."


"Iya, semoga saja." sahut Reyhan. Ia mendongak seraya menatap istrinya.


"Sayang," panggilnya mesra.


"Kenapa Rey?"


"Kenapa kamu tidak memanggilku dengan kata sayang juga?" protes Reyhan. Amora tak segan menggaruk kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal.


"A-aku ...."


"Apa sayang? katakan."


"Aku masih canggung, Rey. Terasa aneh." kata Amora sambil menyeringai.


"Nanti juga lama-lama akan terbiasa sayang." kata Reyhan kembali menyurukkan kepalanya.


"Atau jangan-jangan kamu memang tidak sayang?"


"Siapa bilang?" tukas Amora dengan cepat. Reyhan yang mendengarnya diam-diam tersenyum samar.


"Jadi, kamu benar-benar menyayangiku?" ia menahan senyum yang terasa akan meledak. Jantungnya berpacu dengan cepat, ah entahlah. Perasaannya membuncah teramat bahagia. Mendongak untuk menatap wajah sang istri yang bersemu.


"I-iya Rey." senyum Reyhan kini merekah, bahkan pria itu memejamkan mata sangking bahagia.


"Mulai sekarang, panggil aku sayang!"


"A-apa?" mulut Amora setengah terbuka, dengan mata yang terbuka lebar.


"Panggil aku SAYANG! Tidak ada penolakan!" kata Reyhan dengan mutlak. Amora hanya mengangguk pasrah dalam dekapan sang suami.