
'Jangan salahkan orang lain atas kehancuranmu, tapi lihatlah dirimu. Apakah ada yang salah dalam hati serta dirimu?'
-
"Saya hamil." ucap Sania seraya memandang pada wajah pria yang tampak terkejut di hadapannya. Pria itu bergeming, duduk di kursi kebesarannya dengan memijit pelipisnya yang mulai terasa pening.
Hening sesaat. Tak ada yang mengeluarkan suara di ruangan ber AC dengan berbagai furniture mewah yang tertata sedemikian rupa. Hanya sesekali terdengar helaan napas dari dua orang yang berbeda genre tersebut.
"Lalu?" suara Pak Handoko, memecah keheningan yang sedari tadi tercipta di antara keduanya. Pria itu melipat kedua tangannya ke atas meja yang di penuhi beberapa berkas yang menumpuk. Sania terkesiap, keterkejutan tak bisa di sembunyikan dari wajah pucat wanita itu. Ada sedikit memar serta robekan di sudut bibirnya.
"Apa maksud Bapak?" tanya Sania dengan bingung. Pria itu menatap Sania dengan malas, ada segaris senyum mengejek yang tercetak di sana.
"Lalu apa hubungannya dengan saya?"
"Hah?" otak yang biasanya encer itu tiba-tiba menjadi beku. Tak bisa menangkap dengan baik apa yang di katakan atasannya.
"Bukankah katamu, kamu hamil?"
Wanita itu mengangguk ragu.
"Lalu apa hubungannya dengan saya? bukankah kamu mempunyai suami? Ayolah, Sania. Saya bukan tempat curhat," imbuhnya dengan sikap acuh tak acuh.
"Pak, ini anak Bapak! saya sedang mengandung anak Bapak!" teriak Sania histeris. Ia menatap pria yang ada di hadapannya dengan marah. Netranya melotot sempurna, tak menyangka dengan tanggapan pria yang ada di hadapannya.
"Apa ada hal yang membuktikan bahwa anak yang sedang kamu kandung itu anak saya?" mengangkat alis, lalu bersandar dengan nyaman di kursi empuk miliknya. Menatap remeh pada wanita yang sedang berdiri di hadapannya dengan penampilan kacau.
"Pak, suami saya mandul. Jadi kalau bukan Bapak yang menghamili saya, lalu siapa lagi?"
"Benarkah? Apa ini bukan sekedar akal-akalan kamu saja agar bisa menuntut tanggung jawab dari saya?"
"Bukankah Bapak memang harus bertanggung jawab? karena ini benar anak Bapak!" teriaknya marah. Bahkan kini ia mengepalkan kedua tangannya dengan kuat.
"Mana saya tahu. Bisa saja itu anak orang lain. Karena saya yakin, mudah sekali bagi wanita seperti kamu menjajakan diri." pria itu mengangkat kedua bahunya seraya mencibir.
"Jaga mulut anda!" ucap Sania dengan geram.
"Haha ... jangan sok suci kamu! aku sudah biasa menghadapi wanita murahan serta licik seperti kamu!"
"Saya hanya minta pertanggungjawaban anda, Pak!"
"Pertanggungjawaban yang bagaimana maksudmu?"
"Kita sama-sama sudah menikah, kamu punya suami. Saya pun sudah punya istri, jadi ...." pria itu menggantung kalimatnya. Menikmati wajah marah serta kesal Sania.
"Anda harus bertanggung jawab!"
"Haha ... Sania ... Sania. Lucu sekali sih, kamu. Kita melakukannya atas dasar suka sama suka. Kamu tahu simbiosis mutualisme? yah, seperti itulah kita." ujar pria itu dengan senyum licik.
"Anda tidak bisa lepas dari tanggung jawab, Pak. Suami saya tidak mengakui anak ini! Jadi Bapak harus bertanggung jawab. Saya akan terima kok kalau Bapak mau menjadikan saya istri kedua."
"Sania ... Sania. Kamu lucu sekali, selain bodoh kamu juga gila! Jangan mimpi, kamu!" pria itu mengusap sudut matanya yang berair karena terlalu banyak tertawa.
"Kamu pikir saya sebodoh itu, Hah? memangnya di mana saya bisa mendapatkan istri seperti pemilik perusahaan ini? Cantik, kaya raya dan juga bodoh. Bodoh karena terlalu percaya dengan kata manis yang saya katakan. Saya sangat menikmati posisi ini, dan sekarang kamu mau menghancurkan segalanya?" pria itu mendelik, kini tubuhnya berdiri. Berjalan mendekati wanita yang mematung di seberang meja dengan amarah yang semakin terkobar.
"Dasar pria iblis! kenapa kalian semua sama saja, Hah? kalian hanya menjadikan aku sebagai pemuas nafsu kalian saja!" teriak Sania histeris. Hatinya terasa sakit, tubuhnya gemetar menahan marah. Bahkan kini cairan hangat itu keluar tanpa permisi.
"Sania ... kamu itu cantik, tapi bodoh." pria itu menggulung Surai coklat yang tergerai, menghirup lamat-lamat aroma yang membuat hasratnya naik. Sementara Sania mati-matian menahan diri agar tidak mencekik pria yang kini sedang mengendus leher belakangnya.
"Jangan meminta pertanggungjawaban, karena kita hanya sebatas rekan ****. Sama-sama saling menguntungkan, seperti simbiosis mutualisme. Ingat itu? Aku mendapatkan tubuhmu, sementara kamu mendapatkan uang. Jadi, jangan bermimpi untuk menjadi istri meski yang kedua sekalipun. Karena saya tidak sebodoh itu. Bisa-bisa nanti istriku yang kaya raya itu akan mengusirku. Oh, tidak. Itu tidak boleh sampai terjadi." bisiknya.
Sania memejamkan mata, kepalan tangannya semakin kuat. Rasanya ia tidak bisa lagi menahan amarahnya dan hampir saja ia benar-benar membunuh pria tidak punya hati yang tengah tersenyum mengejek menatapnya, jika pintu ruangan itu tidak terbuka.
Keduanya terkesiap, seorang wanita cantik dengan make-up paripurna melangkah dengan angkuh memasuki ruangan kerja milik suaminya.
"Sayang ... kenapa kau tidak memberi kabar kalau mau kemari?" ujar pria itu panik. Ia segera menyongsong sang istri dengan wajah bahagia yang sangat jelas di buat-buat. Bahkan Sania sampai memutar bola mata karena melihat sikap sok manis dari pria menjijikkan yang sayangnya adalah atasan. Oh, mungkin sebentar lagi akan menjadi mantan atasan.
"Siapa wanita ini?" tanya sang istri seraya menelisik penampilan Sania dari atas sampai bawah.
"Bukan siapa-siapa, sayang. Dia sekretaris ku, eh maksudku mantan sekretaris." Sania melotot sempurna setelah mendengar penuturan sang bos.
"Apa maksud anda, Pak? Bukankah saya masih sekretaris anda?"
"Ya, tadinya iya. Tapi sekarang tidak lagi."
"Semenjak kapan? Anda tidak bisa memecat saya dengan seenaknya, Pak. Saya tidak merasa melakukan kesalahan apapun." ujar Sania tak terima.
"Semenjak saat ini!"
"Apa maksudnya?" Sania masih tidak mengerti dengan situasi ini. Ia kemari karena ingin meminta pertanggungjawaban, bukan tanggung jawab yang ia dapatkan tapi malah pemecatan sepihak yang sangat merugikannya.
"Saya memecat kamu, Sania! Mulai saat ini kamu di pecat!" putus Pak Handoko tegas.
"Saya tidak terima, Pak!" teriak Sania marah.
"Terima atau tidak, itu sudah keputusan saya! kamu tidak bisa membantah keputusan seorang bos!"
"Pa, tunggu. Ini sebenarnya ada apa?" tanya istri bos dengan bingung. Menatap suami dan Sania bergantian mengharapkan penjelasan yang bisa membuat hatinya tidak bertanya-tanya dengan apa yang telah terjadi. Yang bahkan ia tak mengerti dengan semua ini.
"Sayang, aku harus memecatnya. Karena kalau tidak, dia akan terus menggodaku." ujarnya tanpa beban.
"Apa?" wanita dengan dress berwarna pink soft itu tak sadar membuka mulutnya. Sementara Sania tersenyum miris, mengakui kehebatan pria ini dalam memutar balikkan fakta.
"Makanya sayang, kita harus segera memecatnya. Aku pria setia, sayang. Aku tidak ingin mempertahankan wanita murahan seperti dia."
Istrinya sedang menatap suaminya bingung, mengumpulkan kesadaran yang terburai.