Suami Sementara

Suami Sementara
Bunuh diri


Farhan terpaku menatap kertas putih bertuliskan gugatan cerai yang ada di dalam genggamannya. Ia hanya diam tanpa mampu berkata-kata. Rasa sakit menyeruak dari dalam dadanya, menjalar ke seluruh tubuh membuat tubuhnya semakin lemah. Ia mengalihkan pandangannya pada wanita yang ada di seberang meja tempatnya duduk.


"Apa aku harus menandatanganinya?" tanya Farhan sekali lagi.


Wanita yang sebentar lagi akan resmi menjadi mantan istrinya itu mengangguk mantap.


"Yah, kau harus menandatanganinya."


"Mengapa?"


Amora mengernyitkan dahi.


"Kau tanya mengapa?"


Farhan hanya mengangguk pelan sehingga membuat Amora mendesah.


"Tidak ada yang harus di pertanyakan. Seharusnya kamu sudah bisa menebak kisah kita akan berakhir bagaimana." ujarnya dingin.


"Apa kamu tidak bisa memberikan kesempatan padaku?" tanya pria itu penuh harap.


"Bukankah semua itu sudah aku berikan? Bahkan berulang kali."


Farhan memejamkan mata mengutuk kebodohannya.


"Amora, sekali lagi. Aku mohon,"


"Maaf, saya tidak bisa dan harusnya kamu tahu jawabannya."


Farhan melirik pria yang sedari tadi hanya diam di samping sang mantan istri seraya menggenggam jemari Amora.


"Aku tahu."


"Dan aku pun sadar kesalahan yang aku lakukan sudah terlalu banyak dan sangat menyakitimu. Aku minta maaf." Imbuhnya seraya membuang napas lelah. Bahkan kini ia merasa mudah lelah.


"Aku akan menandatangani surat ini." Ia segera meraih pulpen yang berada di atas meja. Menatap wajah Amora sebentar lalu memejamkan mata untuk meyakinkan diri.


Amora berhak bahagia. Bisiknya dalam hati.


Dalam hitungan detik, pulpen itu menggores dengan lancar di atas kertas putih bertuliskan nama Farhan. Setelah selesai, Farhan meletakkan pulpen yang ada di tangannya ke atas surat gugatan cerai itu dan menyerahkannya pada Amora.


"Semoga kalian bahagia. Dan aku meminta maaf atas segala kesalahan yang pernah aku lakukan. Meski aku sadar, kesalahanku sangat banyak. Tapi aku hanya ingin meminta maaf." ujarnya sungguh-sungguh. Ia beralih pada sepupunya, menatapnya sebentar.


"Aku meminta maaf atas semua yang telah aku lakukan dan aku mohon jaga Amora baik-baik. Bahagiakan dia dan jangan pernah melakukan hal bodoh seperti yang pernah aku lakukan. Amora wanita baik, jangan pernah menyakiti hatinya."


Reyhan tersenyum.


"Aku juga meminta maaf padamu. Aku harap hubungan kita baik-baik saja setelah ini. Terimakasih karena telah memilihku untuk menjadi suami sementara."


Farhan mengangguk seraya terkekeh, menutupi rasa sakit yang menikam jantungnya. Ia paksakan senyum agar terlihat baik-baik saja di depan sang mantan istrinya serta sepupunya itu.


"Kau pria baik, aku memilihmu karena itu. Untungnya aku memilih kamu sehingga sekarang pun aku bisa pergi dengan tenang."


"Pergi? Maksudmu?" tanya Reyhan bingung. Ia menatap Farhan dengan bingung begitu pun Amora. Farhan terlihat gelagapan dan dengan cepat ia mencari alasan.


"Ah maksudku, aku bisa tenang sekarang karena Amora berada di tangan laki-laki yang tepat." tukasnya seraya tersenyum terpaksa.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Amora khawatir.


"Tubuhmu semakin kurus dan wajahmu terlihat sangat pucat. Bahkan tadinya aku sempat tidak mengenali kamu." kata Amora seraya menelisik tubuh Farhan yang terlihat menurun sangat drastis. Matanya cekung dengan rambut yang agak gondrong tak terawat. Wajahnya pucat dengan tatapan mata yang kosong.


"Kamu sakit?" tanya Reyhan.


"Tidak. Aku sehat kok. Mungkin karena lama di dalam penjara sehingga membuat tubuhku seperti ini." tukasnya dengan cepat.


"Apakah benar begitu?"


"Iya. Jangan khawatirkan aku, berbahagialah. Aku harus istirahat, tubuhku mudah lelah akhir-akhir ini." ujarnya seraya berdiri.


"Baiklah. Beristirahatlah dan terimakasih." kata Reyhan. Farhan hanya mengangguk seraya tersenyum getir. Ia segera meninggalkan kedua orang yang menatap punggungnya yang perlahan menjauh.


"Aku merasa Farhan sedang berjuang menahan sakit." kata Amora tanpa melepaskan pandangannya pada punggung mantan suaminya yang semakin menjauh.


"Aku juga merasakan hal yang sama."


sahut suaminya.


"Semoga Farhan baik-baik saja."


"Ya, aku harap juga begitu." Pria itu mengeratkan genggaman tangannya seraya berdo'a di dalam hati agar sepupunya baik-baik saja. Biar bagaimanapun, mereka tetap saudara.


🌸🌸🌸


Di tempat lain, Sania sedang terbaring lemah di tempat tidur. Kandungannya sudah membesar, memasuki usia kandungan sembilan bulan. Ia mengelus perutnya dengan perasaan sedih yang teramat sangat.


"Maafkan Ibu, Nak. Ibu malah menurunkan penyakit ini padamu. Apa sebaiknya kita pergi bersama?" ujarnya seraya menatap perutnya yang bergerak-gerak di iringi lelehan air mata yang tak mau surut dari tadi.


Ia tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupan anaknya nanti. Ia di vonis menderita penyakit HIV/AIDS. Dan dokter juga mengatakan anak yang berada di dalam kandungannya berpotensi besar juga ikut tertular HIV AIDS yang ia derita. Semenjak mengetahui hal itu, Sania merasa sangat hancur. Ia pun menarik diri dari orang-orang luar termasuk Evan. Ia takut jika terlalu dekat dengan Evan, maka pria itu akan ikut tertular penyakitnya.


"Ibu ini manusia yang sangat menjijikkan, ya nak. Ibu itu sangat jahat. Mungkin ini semua balasan atas apa yang Ibu lakukan pada orang lain, terutama Amora." Ia menerawang jauh, menyesali segala perbuatannya yang keterlaluan.


"Padahal Amora begitu baik," lirihnya di sela isakan memilukan yang keluar dari bibir pucatnya.


"Ibu ini jahat, Nak. Maafkan Ibu karena kamu harus ada di rahim wanita jahat ini. Bahkan Ibu malah membuatmu menderita nantinya."


"Ah Ibu tidak bisa melihat kamu menderita karena penyakit ini. Bagaimana jika kita mati bersama agar kamu tidak merasakan penderitaan akibat perbuatan Ibu?" Sania tersenyum ketika ide buruk yang melintas di kepalanya. Ia tidak ingin jika anaknya menderita dan di jauhi orang-orang.


Orang-orang pasti akan jijik melihat anaknya dan tidak akan ada yang mau berteman dengan anaknya nanti.


"Ya, lebih baik mati." ia mengangguk yakin. Selanjutnya, ia segera turun dari tempat tidur. Berjalan keluar kamar menuju dapur, mencari pisau yang ada di sana. Ia meraih pisau dapur miliknya, air mata terus turun tanpa mau berhenti.


"Aku harus mengakhiri hidupku dan hidup anakku. Aku tidak ingin melihatnya tumbuh dalam penderitaan dan di kucilkan orang. Mereka pasti jijik karena penyakit memalukan ini."


Ia mengarahkan pisau tajam itu ke lengan kirinya. keputusannya sudah bulat, ia harus mengakhiri hidupnya agar anaknya tidak menderita nantinya.


"Maafkan Ibu, Nak. Semua ini Ibu lakukan karena Ibu sangat menyayangimu. Ibu tidak akan sanggup jika nanti kamu menderita karena penyakit yang Ibu tularkan ini."


Tanpa ragu, Sania segera menyayat tangannya. Ia meringis ketika rasa perih dan sakit menjalar. Darah keluar dengan deras dari urat nadi yang terpotong, membasahi lantai putih yang ada di bawahnya. Tapi beberapa detik kemudian ia tersenyum.


"Akhirnya kamu tidak akan menderita, Nak. Kita akan bersama-sama di sana tanpa merasakan sakit lagi."


Tubuh wanita itu luruh ke lantai putih yang dingin. Darah tergenang sangat banyak, penglihatannya menjadi gelap. Detik selanjutnya ia benar-benar menutup mata dan tak bersuara.