
"Ibu minta, cabut tuntutan kalian pada Farhan." minta sang mantan mertua, membuat Amora terkejut dan refleks melepaskan genggaman tangannya. Ia memandang terkejut pada wanita yang duduk di sebelahnya.
"I-ibu ... Ba-bagaimana Ibu bisa meminta itu pada Amora?" lirihnya seraya menahan sesak yang menghimpit dada. Wanita setengah baya itu menarik paksa tangan Amora dan menggenggamnya.
"Ibu mohon, Amora. Hanya kamu yang bisa membantu Ibu." mohon wanita itu dengan wajah memelas serta sedih penuh harap.
Amora menatap wajah mantan mertuanya dengan bingung. Ia tidak akan mungkin mencabut tuntutan pada Farhan karena itu sama saja dengan bunuh diri. Membayangkannya saja membuat Amora bergidik ngeri. Hal yang di lakukan Farhan sudah sangat fatal, jadi mana mungkin dia bisa menarik laporannya. Bahkan rasa trauma itu masih kerap datang menghampiri di waktu ia tertidur. Amora kerap sekali terbangun dari tidurnya dengan menjerit histeris dan hanya Reyhan yang mampu menenangkan dirinya kembali serta membujuk Amora agar bisa kembali terbuai oleh mimpi.
"Amora, Ibu sangat berharap kepadamu. Hanya kamu yang bisa menolong Ibu. Apa kamu tidak kasihan pada Farhan dan Ibu?"
"Farhan tersiksa di dalam sana. Badannya mulai kurus dan wajahnya terlihat pucat. Ibu tidak tega melihat kondisinya yang seperti itu. Ibu mohon, bantu Ibu." imbuh wanita itu dengan memelas dan wajah terlihat teramat sedih.
Tenggorokan Amora tercekat, sungguh ia tidak tega melihatnya. Meski mantan mertuanya pernah berbuat jahat padanya, tapi tetap saja ia merasa tidak tega ketika melihat kesedihan yang menaungi wajah wanita yang ada di sebelahnya.
"Ibu, tapi yang di lakukan oleh Farhan sudah melampaui batas. Ia sudah melakukan tindakan kriminal. Farhan sudah melukai Reyhan dan hampir membunuhnya. Semua ini tidak bisa di biarkan, Bu." Wanita itu menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tubuhnya bergetar, wanita itu terus menangis sehingga membuat Amora bingung fan tidak tahu harus berbuat apa.
"Ibu, Amora mohon jangan menangis. Farhan harus menjalani hukuman agar ia jera, Bu. Apa yang Farhan lakukan sudah tidak bisa di maafkan lagi. Farhan sudah benar-benar keterlaluan, Bu." Mendengar ucapan Amora membuat mantan mertuanya menangis semakin kencang. Amora terkejut dan bingung mendapati sikap mertuanya yang menangis histeris.
"Ibu mohon Amora, tolong cabut tuntutan itu. Ibu mohon." wanita itu bersimpuh di hadapan Amora. Amora pun terkejut dan memegangi dadanya dengan wajah semakin bingung dan merasa bersalah.
"Atau Ibu perlu mencium kaki kamu? Ibu akan melakukannya supaya kamu bisa memaafkan Farhan dan mencabut tuntutan kamu kepada anak Ibu." Amora dengan cepat mencegah mantan mertuanya yang akan benar-benar mencium kakinya. Ia memegang bahu wanita separuh baya itu dan menatapnya dengan sedih.
"Ibu,apa yang Ibu lakukan? Ibu tidak perlu melakukan hal seperti itu." ujarnya.
"Jadi, apa kamu akan mencabut tuntutan itu? Apakah kamu mau mencabut tuntutannya dan membebaskan Farhan? Lalu setelah itu kamu kembali lagi dengan Farhan?" ujar wanita itu dengan mata yg berbinar penuh harap. Ia segera berdiri lalu kembali duduk di sebelah Amora dan menghapus air mata yang membuat wajahnya semakin berantakan.
Amora menarik napas dalam-dalam, berharap bisa menghilangkan rasa sesak yang menghimpit dada. Dadanya terasa di tindih dengan batu besar yang sulit untuk di enyahkan.
"Maaf, Bu. Amora tidak bisa,"
Wajah yang awalnya sudah sumringah itu kini terlihat memucat. Senyum penuh harap yang tadinya terbingkai indah di wajahnya itu kini lenyap bak di telan bumi. Wajah yang awalnya penuh rona kebahagiaan di lambung harapan kini kering bagai taman bunga yang kemarau. Gersang, kering kerontang.
"Amora tidak bisa membantu Ibu. Kesalahan yang di lakukan Farhan kali ini sudah sangat fatal. Dia harus merasakan akibat dari perbuatannya. Amora mohon, Bu. Biarkan Farhan menjalani hukumannya. Biarkan dia menerima hasil perbuatannya. Ini semua demi kebaikan Farhan sendiri, Bu. Dan untuk kembali padanya ...."
Amora menjeda kalimatnya, ia menatap wajah mantan mertuanya dengan sangat tidak enak.
"Dan untuk kembali pada Farhan, maaf Amora tidak bisa. Amora sudah menjadi istri Reyhan sekarang." lirih wanita itu dengan rasa bersalah yang menyerangnya.
Wajah mantan mertuanya terlihat memerah, wanita itu mengepalkan kedua tangan gunu mengontrol emosinya. Menatap Amora penuh kebencian.
"Kenapa kamu sangat tega pada anakku, hah? Kenapa kamu tidak mau membantu kami? Bukankah kami pernah menjadi bagian dari hidupmu? Mengapa kamu begitu jahat pada Farhan? Farhan begini gara-gara kamu! Kamu yang membuat Farhan masuk penjara!" teriak wanita itu dengan amarah yang menguasainya. Meluap hingga membuatnya hilang kendali. Amora terkejut, ia beringsut mundur menghindari mantan mertua yang di kuasai emosi yang meluap-luap.
"Seandainya kamu mau kembali padanya dan tidak memilih Reyhan, Farhan tidak akan mungkin begini! Kamu penyebab semua ini! Kamu yang menyebabkan anakku menderita! Kamu perempuan tidak berguna dan pembawa sial!" Bulir bening itu luruh begitu saja di wajah cantik Amora. Hatinya bagai tertusuk anak panah yang di lumuri racun, menyebar ke seluruh nadi dan mematikan seluruh saraf tubuh.
"Me-mengapa I-ibu tega menga-takan hal i-itu?" lirihnya di sela air mata yang berkejaran menuruni wajah.
"Karena kamu memang begitu! Wanita tidak tahu diri yang hanya membuat hidup kami di penuhi kesialan! Wanita tidak tahu terimakasih!"
"Wanita mandul tidak berguna! Bahkan sudah menjadi mantan juga masih tidak berguna! Memang kamu itu sampah dan tidak sepantasnya bahagia!" teriak Ibu Farhan dengan penuh kebencian.
Amora memegangi dadanya yang terasa sesak, hatinya terasa sangat sakit mendengar ucapan mantan mertua yang tidak punya perasaan sama sekali.
"Apa salah Amora, Bu? Mengapa Amora selalu salah di mata Ibu?" lirih Amora dengan menahan perih yang menjalari seluruh tubuh. Ia menatap wanita yang ada di hadapannya penuh dengan kesakitan yang teramat sangat. Bagaimana pun ia berusaha, ia tidak akan pernah benar di mata mantan mertuanya. Kemarin hingga saat ini. Semua akan tetap sama, selalu terlihat buruk dan tak pernah benar. Sikapnya akan berubah manis jika sedang menginginkan sesuatu.
"Kamu dan Sania sama saja! Sama-sama tidak berguna!" maki wanita itu dengan emosi yang meluap-luap.
"Berhenti memaki istri saya!" teriak Reyhan dengan amarah yang berkobar. Netranya terpancar mengerikan menatap tajam pada manik hitam milik mantan mertua sang istri. Ia berjalan dengan cepat menuju ke tempat di mana Amora dan Ibu Farhan berada. Ia menghampiri sang istri dan memeluknya serta mengusap lembut wajah sang istri yang bersimbah air mata. Perasaannya tidak enak ketika berada di dalam meninggalkan Amora bersama sang mantan mertua sehingga ia cepat menghampiri Amora dan benar saja, Amora sedang tidak baik-baik saja.
"Jangan pernah berani-beraninya anda menghina atau bahkan memaki istri saya! Jangan pernah menyakiti istri saya!" teriak Reyhan dengan wajah yang memerah.