Suami Sementara

Suami Sementara
Desiran aneh


Happy reading zheyeng 😘


________________________


"Aku lupa cara wudhu." ucap Amora dengan sangat pelan tapi masih bisa di dengar oleh Reyhan. Wanita itu menunduk malu.


"Hah ....?" Reyhan tercengang. Rahangnya jatuh ke bawah. Ia maju menghampiri Amora, takut jika ia salah dengar.


"Kau bilang apa?" tanya Reyhan bingung. Ia masih belum mengerti dengan situasi yang Amora hadapi. Sedangkan Amora hanya menunduk, sesekali melirik Reyhan antara takut dan malu bercampur jadi satu.


"Katakan, waktu tidak menunggu kita." Reyhan melihat jarum jam yang terus bergerak. Ia berdiri dengan gelisah.


"Ayo, sholat. Jangan bercanda," ujarnya kemudian dan hendak berbalik tetapi langkahnya tertahan karena ujung bajunya di tarik Amora.


"Ajari aku dulu." ucapnya dengan malu. Reyhan melongo, ia melirik tangan Amora di ujung bajunya. Wajah Amora menatapnya dengan memelas.


"Astaga, jadi aku tidak salah dengar?"


Amora mengangguk lemah.


"Ya Tuhan, Amora." Reyhan menatap Amora nanar. Ada kesedihan sekaligus penyesalan dalam dirinya.


Farhan, apa yang sebenarnya kau lakukan selama ini? sampai-sampai istrimu lupa niat wudhu. lirihnya dalam hati. Ia menarik napas berat, lalu menghembuskan secara perlahan. Ada sesak di relung hatinya yang tak bisa di ungkapkan dengan gamblang.


"Ya sudah, ayo aku kasih tahu." kata Reyhan kemudian. Amora menatap haru pria itu, ia tersenyum. Menampakkan sederet gigi putih miliknya. Tangan yang semula memegang ujung baju Reyhan kini terlepas.


"Terima kasih." lirihnya seraya menatap Reyhan tulus. Reyhan hanya mengangguk, lu menggiring Amora untuk kembali masuk ke kamar mandi.


Dengan telaten Reyhan mengajari Amora dari niat wudhu hingga tata cara berwudhu. Setelah selesai, Reyhan mengajak Amora untuk sholat berjamaah.


"Kamu masih ingat niat sholat Maghrib?"


Amora mengangguk ragu,


"kamu berdiri di belakang menjadi makmum. Kita sholat berjamaah." Lagi-lagi Amora hanya mengangguk patuh, membuat Reyhan gemas dan ingin sekali mencubit pipi Amora.


Reyhan berdiri di shaf depan menjadi imam, sedangkan Amora berdiri di belakang. Keduanya menjalankan ibadah Sholat Maghrib dengan khusyuk.


Setelah salam, Reyhan menghadap ke belakang lalu memberikan tangannya pada Amora. Membuat Amora terdiam melihat tangan Reyhan yang tergantung. Ia melirik wajah Reyhan yang menunggu Amora untuk mencium punggung tangannya.


"Apa?" tanya Amora bingung.


"Cium." Reyhan menyodorkan kembali tangannya.


"Hah?"


"Ayo, kamu mau dapat pahala tidak?"


"Memangnya mencium tangan kamu bisa dapat pahala?" cibir Amora.


"Jangan lupa, aku sekarang suami kamu." Reyhan mengingatkan.


"Iya iya , pak suami." gerutu Amora seraya menarik tangan Reyhan dan mencium punggung tangan pria itu.


"Ingat, yang ikhlas Bu. Biar pahalanya berkah." canda Reyhan sembari tersenyum.


"Ibu? kapan aku nikah sama bapak kamu." gerutu Amora seraya berdiri. Ia melepas mukena yang ia kenakan.


Reyhan terkekeh, "Kan kamu duluan yang manggil aku Bapak, heh?"


Amora mengerucutkan bibirnya, "Iya iya,"


Reyhan terkekeh, ia hanya menggelengkan kepala lalu membaca do'a. Setelah berdo'a ia meraih Al Qur'an yang tadi sempat di baca sebelum sholat. Sedangkan Amora pergi ke dapur untuk mencari makanan karena perutnya lapar. Tadi siang ia hanya memakan sepotong kue karena tidak merasa lapar sama sekali. Barulah sekarang penghuni perutnya berdemo minta makan.


Amora duduk di sofa kesayangannya, meraih remote televisi dan menyalakannya. Tak ada yang menarik untuk di tonton hingga membuat ia bosan. Amora menekan tombol Off pada remote, ia menghembuskan napas bosan. Ia menghabiskan apel yang ada dalam genggamannya karena ia benar-benar merasa lapar.


"Uhh mas Farhan sedang apa ya?" tiba-tiba ia teringat Farhan. Sebenarnya ia merindukan pria itu, bagaimana pun hatinya masih untuk Farhan. Farhan merupakan cinta pertamanya, sulit baginya untuk melupakan orang yang sangat ia cintai. Meskipun di balas dengan penghianatan, tapi logika dan akal pikirannya terkalahkan oleh hati yang telah mengagungkan namanya. Ah, kadang cinta bisa membuat manusia menjadi bodoh.


Samar-samar terdengar alunan merdu suara Reyhan yang sedang mengaji. Membuat hati Amora tergerak untuk mendengarkan lebih dekat. Ia menurunkan kakinya ke lantai yang dingin, alas kaki berbulu berwarna pink itu menghindarkan kaki Amora dari sengatan dingin yang menusuk. Ia berjalan perlahan menuju kamar, mengintip Reyhan yang melantunkan ayat-ayat Al-Qur'an dengan khidmat. Suaranya mengalun merdu hingga menyentuh ke relung hati yang paling dalam.


Amora tak menyangka, Reyhan yang suka usil dan dingin itu mempunyai pribadi yang sangat baik dan unik. Pria yang suka menjahilinya itu, tak di sangka pintar mengaji dan taat beribadah. Amora tersenyum secara tak sadar di balik pintu. Pemandangan di depannya tak bisa di samakan dengan para K-Pop yang menari di atas panggung. Inilah karya Tuhan yang paling indah yang pernah ia lihat. Entahlah, desiran aneh itu kembali hadir di sudut hatinya. Amora pun merasa bingung dengan apa yang terjadi kepada dirinya.


"Apa sebenarnya aku jatuh cinta?" gumamnya. Tapi dengan cepat ia menepis argumennya sendiri. Ia menggeleng kuat-kuat.


"Ah, tidak. Mana mungkin jatuh cinta sama pria menyebalkan itu. Aku hanya kagum, ya hanya kagum." Ucapnya meyakinkan diri sendiri.


"Hayo, jatuh cinta sama siapa?"


"Astaga." Amora melonjak kaget. Ia refleks memegangi dadanya, hampir saja ia terjatuh.


"Kau." Amora melotot marah.


"Kenapa aku?"


"Kau mengejutkanku!"


"Lah, kenapa kau menyalahkan aku? salah siapa mengintip orang segala?" cibir Reyhan.


"Siapa yang mengintip? aku tidak mengintip." elak Amora. Kepalanya mencari alasan agar tidak ketahuan. Bisa besar kepala jika ia mengaku memang mengintip Reyhan. Begitu pikirnya.


"Jangan mengelak, kau ketahuan." alis Reyhan naik turun. Kedua tangannya berada di atas pinggang.


"Jangan kepedean, aku mau ambil hp." Amora melewati Reyhan lalu mengambil ponselnya yang tergeletak di atas kasur.


"Ohya?"


"Iya. Tidak percaya? Ya sudah." Amora berjalan melewati Reyhan lalu menjulurkan lidahnya membuat Reyhan kembali menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Eh tapi, omong-omong suara kamu keren juga." ujarnya sebelum menghilang di balik pintu. Reyhan tak kuasa menahan senyum, ia menjadi salah tingkah. Mengusap tengkuknya perlahan dan senyum tak mau pergi dari wajahnya. Lesung pipi tercetak jelas di wajahnya, menambah ketampanannya.


"Cie, yang salah tingkah. Aku bercanda, suara kamu biasa-biasa aja. Lebih bagusan suara Pak Tarno!" ujar Amora yang tiba-tiba muncul di balik pintu. Membuat Reyhan terkejut bukan main.


"Kau." geram Reyhan kesal. Ia menggertakkan giginya. Amora berlari meninggalkan Reyhan yang tampak malu sendiri. Wajahnya merona bak udang rebus. Samar terdengar tawa Amora yang menggema di ruang tamu. Wanita itu sangat puas telah mengerjai Reyhan yang suka menyebalkan itu. Sementara itu, Reyhan menutup wajahnya yang memerah. Ingin rasanya ia menutup wajahnya dengan karung atau tong sampah.


♥️♥️♥️


Hai zheyeng 😘


Cie yang ikutan senyum- senyum sendiri. Awas ada yang liat, ntar di kira gila. ehh🤭✌️✌️


Beberapa bab ini author kasih yang manis manis dulu ya, kayak author. Awas diabetes


Eakk🤣🤣


Author PD tingkat dewa🤣


Jaga kesehatan ya guys, karena nyatanya sakit itu nggak seindah jatuh cinta.


Awok awok🤣🤣


Jangan lupa like dan komentarnya yah.


Wajib komen, awas kalo nggak. Author samperin kerumah 🤭🤭 Mode maksa 🤣


Salam dari author sengklek😜😜