Suami Sementara

Suami Sementara
Di pecat


Happy reading zheyeng 😘


___________________________________


Amora beserta team berdiri di seberang meja atasan mereka dengan kepala tertunduk. Mereka sedang berada di dalam ruangan bos untuk mempertanggungjawabkan kesalahan mengenai file yang hilang.


"Siapa yang bertanggung jawab atas masalah ini?" tanya Pak Handoko, bos berkepala pelontos yang kini sedang menatap Amora beserta team. Pria itu terlihat sangat marah dengan apa yang terjadi, sementara Sania selaku sekretaris berdiri di samping sang bos dengan melipat kedua lengan di dada. Menatap Amora dengan pongah, dagunya terangkat di hiasi senyum sinis.


"Saya, Pak." Evan maju ke depan, apa yang di lakukan Evan membuat Amora beserta rekan lainnya mengangkat kepala yang semula tertunduk. Menatap punggung pria itu dengan tak percaya. Sania pun tak kalah terkejut. Wajah yang semula full senyum itu kini matanya melotot sempurna dengan bercampur wajah kesal.


"Jadi, kamu yang bertanggung jawab atas semua kekacauan ini?"


"Iya, Pak. Ini semua salah saya, seharusnya saya menyimpan file itu dengan baik. Tapi akibat kecerobohan saya, file itu jadi hilang dan menyebabkan perusahaan merugi."


"Evan tidak salah, Pak. Ini semua murni kesalahan saya. Saya yang bertanggung jawab atas kekacauan ini." Amora maju, berdiri sejajar dengan Evan. Evan menoleh dengan wajah terkejut, ia mendelik dan menyuruh Amora menyingkir dengan tatapan matanya. Sedangkan Amora menggeleng, bahkan kali ini Amora tak mau menoleh pada Evan yang berusaha melindunginya.


"Diam di tempatmu! kenapa kamu ikut maju?" bisik Evan tapi tak di hiraukan oleh Amora. Wanita itu tetap memandang ke depan, ia tak ingin Evan berkorban demi dirinya dan mengakui kesalahan yang tak pernah di lakukan oleh pria itu.


"Jadi siapa yang bertanggung jawab atas semua ini? Amora atau Evan?" tanya Pak Handoko sekali lagi. Pria itu menatap Amora dan Evan bergantian.


"Saya, Pak." ujar Amora dan Evan berbarengan sehingga membuat Pak Handoko bingung.


"Amora yang harus bertanggung jawab atas semua ini, Pak. Bukan Evan!" kali ini Tiara menimpali. Ia tak rela jika Evan membela serta mengorbankan diri hanya karena Amora. Ia tidak akan pernah rela jika Evan selalu membela wanita itu.


"Benar yang di katakan Tiara, Pak. Semua ini salah saya, jadi saya yang harus bertanggung jawab atas semua kekacauan ini." sahut Amora mantap. Evan ingin mengatakan sesuatu tapi di cegah oleh Tiara.


"Kamu tahu berapa banyak kerugian yang di timbulkan akibat kekacauan yang kalian buat?"


Amora dan tim serempak menggeleng sehingga membuat Pak Handoko mengerang frustasi.


"Saya rugi sampai ratusan juta, !"


"Saya yang salah, Pak." Amora tetap pada pendiriannya.


"Gara-gara file itu hilang, kita jadi kalah tender. Harusnya perusahaan kita yang memenangkan tender itu! Kamu itu tidak pernah benar dalam bekerja! benar kata Sania, harusnya kamu itu saya pecat dari dulu!" Amora melirik Sania dengan ekor matanya. Wanita yang di lirik hanya tersenyum mengejek dengan sebelah alis yang terangkat.


"Mulai sekarang, kamu saya pecat!" putus Pak Handoko dengan wajah memerah. Semua yang ada di sana terkejut, kecuali Sania. Ia kembali tersenyum penuh kemenangan. Dewi dan Rizky saling pandang dengan mulut terbuka. Tak menyangka jika kesalahan yang di lakukan oleh Amora berakibat fatal untuk wanita itu.


"Pak, kenapa Amora harus di pecat?" tanya Evan tak terima.


"Kenapa? kamu mau bertanggung jawab? atau mau menggantikan posisi Amora?"


"Saya bersedia, Pak." jawab Evan mantap.


"Tidak, Evan. Ini kesalahanku, jadi aku yang harus bertanggung jawab." cegah Amora.


"Tapi, Ra ...." Amora menggeleng. Ia mencegah Evan untuk melanjutkan ucapannya.


"Baguslah kalau kamu di pecat, dari awal kamu itu memang tidak pantas bergabung dalam team kami." sahut Tiara sinis.


"Beraninya kalian bertengkar di depanku!" teriak Pak Handoko seraya berdiri. Ia menatap para karyawan yang ada di hadapannya. Mereka semua tertunduk kecuali Amora.


"Maafkan saya, Pak. Saya ingin meminta maaf atas kekacauan yang saya buat. Terimakasih atas beberapa tahun ini. Saya pamit." Amora menundukkan kepalanya, ia mundur beberapa langkah sebelum memutar tubuh. Kemudian ia melangkah keluar di ikuti oleh Evan, Dewi serta Rizky.


"Amora," panggil Evan pelan. Ia menyentuh telapak tangan Amora dengan lembut.


"Ada apa?"


"Jangan pergi!" Evan memelas.


"Aku sudah di pecat. Jadi untuk apa aku masih disini?"


"Aku akan membicarakan masalah ini kepada Pak Handoko agar kamu tidak di pecat."


Amora menggeleng.


"Terimakasih banyak, tapi aku sudah di pecat. Ini semua kesalahanku, jadi sudah sewajarnya aku harus menerima semua konsekuensinya."


"Tidak! aku yakin ada yang menjebak kamu."


"Sudahlah. Aku tidak apa-apa,"


"Aku akan mengungkapkan kecurangan ini. Aku bersumpah!" kata Evan dengan geram. Ia mengepalkan tangan kirinya, sementara tangan kanan masih menggenggam jemari Amora.


"Kita juga akan membantu Evan mencari dalang di balik semua ini." sahut Dewi dengan bersemangat dan Rizky menganggukkan kepalanya tanda setuju.


"Terimakasih, tapi itu tidak perlu." ucap Amora seraya tersenyum. Ia melepaskan genggaman tangan Evan.


"Aku bersyukur karena mempunyai teman sebaik kalian. Maafkan aku, belum bisa membalas kebaikan kalian satu persatu." Amora menatap mereka bergantian, matanya berembun.


"Amora. Aku sayang banget sama kamu." Dewi memeluk Amora dan menumpahkan air mata di bahu Amora. Amora pun tak kuasa menahan tangis. Keduanya berpelukan cukup lama di saksikan Rizky dan Evan. Mereka pun secara tak sadar mengusap sudut mata yang basah.


"Berjanjilah akhir pekan kita harus jalan bersama. Menghabiskan waktu bersama." kata Dewi di sela tangisnya.


"Iya, aku berjanji." balas Amora mengangguk di dalam pelukan teman yang ia temui beberapa lalu itu. Mereka belum lama berteman, tapi keduanya bersikap layaknya sahabat yang bertahun-tahun bersama.


Tanpa sadar, ada sepasang mata yang mengawasi dengan tangan yang terkepal. Sorot mata yang di penuhi dengan kebencian serta kecemburuan. Wanita itu berdiri tak jauh dari ruangan Pak Handoko. Menyaksikan semua drama yang membuatnya ingin muntah.


"Lihat saja nanti, Amora." gumam wanita itu dengan senyum misterius.


🌈🌈🌈


Halo sayangnya aku. Para readers yg baik hati dan tidak sombong. Maaf Author sengklek ini baru bisa up. Di karenakan mood yang menghilang entah kemana di telan dengan kesibukan serta kesehatan yang tidak mendukung. Tetap dukung karya receh author ya, biar semakin semangat.


i love you Zheyeng 😘