
Happy reading zheyeng ๐
____________________________
Farhan duduk di kursi depan batender, meneguk segelas minuman berwarna jernih itu berulang kali. Seorang wanita penghibur bergelayut manja di lengannya. Sesekali mereka bercumbu tak perduli lingkungan sekitar.
Seorang pria seumurannya datang menghampiri, menepuk bahu Farhan pelan.
"Sana ke hotel kalo udah nggak tahan lagi?!" celetuk pria itu. Ia meminta pada batender itu sebotol wisky dan menuangkannya pada gelas kecil lalu meneguknya. Ia memejamkan mata kala cairan bening itu melewati tenggorokannya.
"Brengsek kau!" Farhan mengumpat.
"Kenapa lagi kamu? sepertinya sedang stres."
"Aku pusing sama Sania. Kerjaannya ngomel terus di rumah. aku di suruh masak. Enak saja!" kesalnya. Pria itu kembali meneguk minumannya.
"Dimana harga diri kamu sebagai pria! harusnya yang masak itu perempuan!"
"Sania sangat jauh berbeda dengan Amora. Dulu saat bersama Amora, ia tak pernah menyuruhku masak ataupun protes akan apa yang aku lakukan. Tidak pernah marah-marah dan menghinaku seperti yang Sania lakukan."
"Kau menyesal sekarang?" ejek pria yang bernama Dika itu.
Farhan mengangguk.
"Ya, aku sangat menyesal. Tapi tenang saja, setelah tiga bulan lagi aku akan bercerai dengan Sania begitu pula Amora dan Reyhan. Kita bisa rujuk lagi." Farhan tersenyum penuh arti. Membayangkan bisa memiliki Amora kembali di hidupnya, membuat ia bersemangat. Sungguh kepalanya sangat pusing mendengar ocehan Sania setiap hari.
"Memangnya Amora mau kembali padamu?" Dika mengangkat sudut bibirnya.
"Kau meragukanku?" tanya Farhan tak suka. Ia menatap pria yang duduk di sebelahnya itu dengan kesal. Sedangkan Dika menyulut rokoknya, menghisap dalam-dalam tembakau itu dan menghembuskan perlahan asap putih ke udara.
"Aku tidak meragukan kamu, aku hanya ragu dan tidak yakin jika Amora mau kembali padamu!"
"Jangan khawatir, Amora itu cinta mati kepadaku. Dia tidak akan bisa menolak pesonaku." ucap Farhan percaya diri. Ia mengecup bibir wanita yang sejak tadi tak mau melepaskannya sedikit pun. Mereka berciuman sebentar, sedangkan Dika hanya melirik dengan ekor matanya lalu menggelengkan kepala.
"Jangan terlalu yakin. Kau tidak tahu siapa yang sedang bersama Amora saat ini."
"Apa maksudmu?" Farhan dengan cepat menoleh pada Dika. Ia sangat geram dengan ucapan pria itu. Ucapan temannya itu cukup menyulut emosinya.
"Reyhan itu pria baik, religius. Bisa saja Amora jatuh cinta pada Reyhan dan melupakan kamu. Ibarat kata, kalian itu surga dan neraka!" ucap Dika secara tertawa. Sepertinya pria itu sudah mulai mabuk.
"Amora tidak akan mungkin jatuh cinta pada Reyhan. Dia itu pria kaku dan dingin, pasti akan membosankan!" Farhan menyangkal ucapan Dika.
"Lihat saja nanti. Aku yakin, Amora akan jatuh pada pesona Reyhan. Dan kamu, akan terjebak dalam permainan yang kamu buat!"
Farhan terdiam. Ucapan Dika barusan mampu menciptakan perang di otaknya. Ia mengenyahkan segala pikiran buruk tentang apa yang belum terjadi. Ia yakin, Amora cinta mati padanya. Ia juga yakin Reyhan tidak akan bisa membuat Amora jatuh cinta pada pria kaku itu.
Surga dan neraka.
Kata-kata yang di lontarkan temannya yang bernama Dika itu terus terngiang di kepalanya.
"Sial! masak aku di ibaratkan sebagai neraka!" umpat Farhan seraya melirik kesal pada Dika yang sudah meletakkan kepalanya di atas meja. Pria itu mabuk!
๐ผ๐ผ๐ผ
"Kau selalu pulang dalam keadaan mabuk, mas!" teriak Sania kesal.
"Terserah aku. Mau mabuk atau tidak, bukan urusan kamu!" ujar Farhan seraya berbaring di sofa ruang tamu. Ia meluruskan kakinya, mengacak rambutnya yang mulai panjang.
"Kamu benar-benar keterlaluan, mas. Dan apa ini, kau bermain dengan perempuan murahan lagi?" Emosi Sania semakin menjadi kala mencium bau parfum wanita dari tubuh pria itu.
"Kenapa? Kamu tidak suka? " bentak Farhan.
"Aku ini istri kamu, mas. Mana mungkin aku suka ketika suaminya suka bermain-main dengan wanita penghibur dan selalu pulang dalam keadaan mabuk!"
"Istri kau bilang?" Sania mengangguk.
"Kami bukan istriku! istriku cuma Amora, kau mengerti?"
Bagai di sayat pisau di ujung hatinya. Sania Merasakan perih yang teramat sangat. Membuat bulir bening itu turun membasahi wajahnya.
"Kau tega, mas. Dulu kau mencintaiku, tapi kenapa kini kau mencintai wanita naif itu? Dulu kau berjanji akan menikahiku, tapi setelah menikah? Kau malah mengharapkan wanita itu!" ucap Sania putus asa. Ia sangat sakit hati atas sikap dan perlakuan Farhan padanya. Ia kira menikah dengan Farhan akan membuat hidupnya lebih baik karena berhasil merebut suami sahabatnya sendiri. Ia pikir, ia berhasil menghancurkan hidup Amora. Tapi ternyata, ia yang hancur.
"Asal kamu tahu, aku menikahimu agar bisa rujuk kembali pada Amora. Tunggulah setelah ini kau bisa bebas! Aku akan kembali pada Amora dan memilikinya. Hahahaha." Farhan tertawa terbahak-bahak. Membayangkan tubuh Amora yang sangat berbeda dengan Sania, membuat alam bawah sadarnya menginginkan wanita itu. Sentuhan lembutnya, perlakuan manis wanita itu. Ah, Farhan sungguh merindukan semua yang ada pada wanita itu.
"Amora." panggilnya tanpa sadar. Membuat tangis Sania makin pecah. Ia menangis tertahan, hatinya di selimuti kebencian dan dendam yang teramat sangat. Tangan wanita itu terkepal, matanya menatap miris pada pria yang tergeletak di atas sofa dengan terus melantunkan nama wanita yang sangat ia benci dalam hidupnya.
"Amora, kau kah itu sayang?" tiba-tiba Farhan bangkit, ia duduk menatap Sania dengan penuh kerinduan. Ia melihat Sana sebagai Amora yang sedang tersenyum manis. Pengaruh Alkohol membuatnya berhalusinasi.
"Aku bukan Amora!" teriak Sania dengan penuh amarah dan kebencian. Wajahnya telah basah akan air mata kepedihan. Ia duduk bersimpuh di lantai yang dingin.
"Amora, kau telah kembali sayang?" Farhan berjalan mendekati Sania. Ia berjongkok, memegang kedua bahu Sania yang bergetar karena tangis. Farhan langsung memeluk tubuh Wanita itu, Sania meronta. Tak ingin jika dirinya di anggap sebagai Amora, musuhnya.
"Aku bukan Amora! Aku Sania!" teriak wanita itu dengan amarah yang berkobar. Ia memukul tubuh Farhan berulang kali.
"Aku minta maaf, sayang. Aku minta maaf." Sania terdiam mendengar kata yang keluar dari mulut Farhan. Farhan menangkup wajah Sania dengan kedua tangannya, lalu ******* bibir Sania dengan rakus. Ia membayangkan Sania itu Amora, sehingga ia ingin melampiaskan segala kerinduan yang selama ini terpendam. Bau alkohol menyeruak di indera penciuman Sania, tapi Sania berusaha tak memperdulikannya dan mencoba menikmati sentuhan Farhan.
"Amora." lirih Farhan ketika berhasil memasuki inti tubuh Sania. Membuat wanita itu melebarkan matanya.
"Aku bukan Amora!" teriaknya. Tapi Farhan segera membungkam bibir wanita itu dengan bibirnya. Sania menangis dalam diam, hatinya sakit mendapati kenyataan bahwa Farhan melakukan dengannya tapi membayangkan musuhnya. Tapi tubuhnya menikmati setiap sentuhan Farhan di setiap inci tubuhnya. Membuatnya hanya pasrah meski Farhan berkali-kali mengucapkan nama Amora di setiap erangan kenikmatannya.
๐ผ๐ผ๐ผ
Hai zheyeng ๐
Like dan komentar jangan lupa.
Semangat terus ya buat kalian semua ๐
Jaga kesehatan โค๏ธ
Jangan lupa bahagia โค๏ธ
Elepyyuuuuuu full pokoknya buat kalian๐ฅฐ๐