Suami Sementara

Suami Sementara
Apa Reyhan meninggal?


Happy reading zheyeng 😘😘


______________________________


Aku bukan apa-apa tanpamu


Hanya sekeping hati yang tak menentu


Rindu hadir bukan karena jarak yang memisahkan, tapi karena dirinya telah merasuk ke dasar hati yang terdalam.


❤️❤️❤️


Bunyi alarm membangunkan wanita cantik yang sedang terlelap terbungkus selimut tebal yang menghalau hawa dingin di pagi hari. Dengan sedikit enggan Amora membuka matanya yang masih terasa berat. Wanita itu meraih ponsel yang berada di atas nakas, bergetar karena bunyi alarm yang terus mengalun memenuhi kamar. Amora menekan tombol merah untuk mematikan alarm, melihat tak ada satupun notifikasi yang masuk. Amora meletakkan kembali benda pipih itu ke atas nakas di samping tempat tidur. Ia duduk perlahan menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang, mengumpulkan nyawa yang sedang berserakan belum sepenuhnya kembali ke raga.


Wanita itu mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar, ah ia baru ingat semalam ia tertidur di kamar Reyhan. Tapi mengapa semuanya terasa ada yang kurang? ia merasakan sesuatu yang hilang. Ia menelan kekecewaan karena tak mendapati Reyhan. Menghela napas sesak yang tiba-tiba merasuki paru-parunya. Amora menyingkap selimut yang masih menutupi seluruh tubuhnya lalu menurunkan kaki ke lantai putih yang dingin, dalam sekejap rasa dingin menjalar membuat siapapun enggan untuk bangun. Tapi wanita itu tetap memaksakan diri karena ia harus menunaikan kewajibannya sebagai umat muslim. Ia berjalan keluar kamar, menuju kamarnya sendiri.


Setelah membersihkan diri, Amora segera memakai mukena untuk melaksanakan sholat subuh. Lagi-lagi ia kembali termenung, lagi-lagi ia merasa ada yang kurang. Biasanya Reyhan akan menjadi imam ketika sholat, tapi hari ini sepertinya keadaan berbeda. Ia harus sholat sendirian tanpa imam. Ah mengapa ia merasa sangat kehilangan? Apa benar ia mulai menaruh rasa pada pria itu?


"Ah aku hanya belum terbiasa dan terlalu mengkhawatirkan Reyhan." Amora menepiskan segala praduga yang ada dalam pikirannya. Ia segera menunaikan ibadah Sholat subuh seorang diri di kamarnya, melupakan sejenak urusan duniawi.


Setelah sholat, Amora menyiapkan sarapan untuknya. Hanya sepotong roti dengan selai cokelat kesukaannya. Tangannya yang semula mengoles selai pada roti mendadak terhenti ketika kembali mengingat pria itu. Biasanya mereka akan sarapan bersama, bersenda gurau dan saling mengejek satu sama lain.


"Apa iya aku merindukan pria menyebalkan itu? Ah tidak. Untuk apa aku merindukannya?" sangkal wanita itu seraya kembali mengoleskan selai pada roti tawar yang berwarna putih itu dengan cepat. Setelah selesai, dengan cepat ia masukkan ke dalam mulut lalu mengunyahnya. Tangannya terulur meraih ponsel, berharap ada notifikasi dari seseorang yang semenjak semalam ia tunggu. Ia kembali meletakkan gawai itu dengan lesu, memutuskan meminum susu coklat yang ia buat tadi.


Baru saja ia akan mencuci gelas dan piring yang ia gunakan, terdengar nada dering dari ponselnya. Dengan cepat ia segera meraih benda pipih itu tanpa melihat siapa yang menghubungi.


"Halo Rey, kamu kemana saja? kenapa tidak pulang?" wajah Amora terlihat ceria, suaranya terdengar sangat bersemangat. Senyum tak berhenti terbit di wajahnya.


"Rey? siapa?" suara Evan terdengar di seberang telepon membuat Amora terkejut. Seketika wajah yang semula ceria itu berubah bingung, wanita itu menjauhkan ponsel dari telinga dan melihat sekali lagi nama yang tertera di layar ponsel. Seketika ia menepuk jidatnya, menyadari kesalahan yang ia lakukan.


"Evan, maaf aku salah orang." kata Amora setelah kembali mendekatkan benda pipih itu ke telinga.


"Reyhan siapa, Amora? mengapa kedengarannya kamu sedang menunggu pria itu?"


"Nanti akan ku ceritakan kalau kita bertemu."


"Jadi benar kamu sudah mempunyai suami?"


"Darimana kamu tahu?" tanya Amora kaget.


"Maaf aku belum menceritakan semuanya padamu." sesal Amora.


"Tidak apa-apa, aku mengerti. Kamu pasti punya alasan yang kuat sehingga tidak menceritakan semuanya kepada kami. Aku tutup teleponnya, ya. Jangan lupa sarapan dan jaga kesehatan."


"Terimakasih." ucap Amora canggung. Sambungan telepon terputus.


Amora menggenggam ponsel itu di depan dada. Ia merasa gundah, bukan karena Evan tapi karena Reyhan. Ia pikir yang menghubunginya tadi Reyhan, tapi ternyata itu Evan. Padahal ia sudah sangat senang karena mendapatkan kabar dari pria itu, tapi ia harus kembali menelan kekecewaan karena nyatanya sampai sekarang Reyhan tidak menghubunginya.


"Aku harus mencarinya! aku tidak bisa hanya diam di sini menunggu kabar dari pria menyebalkan itu!" kata Amora seraya menganggukkan kepala. Ia tidak ingin terlalu lama larut dalam ketidakpastian yang terus membuatnya cemas serta khawatir. Ia bergegas menuju pintu, tujuan utamanya adalah apartemen Reyhan yang masih berada dalam satu gedung. Apartemen mereka hanya berbeda lantai sehingga dengan mudah Amora mencari Reyhan tanpa keluar dari gedung itu.


"Loh, kok pintunya terbuka? apa Reyhan ada di dalam?" gumam Amora. Ia bergegas masuk ke dalam apartemen pria itu. Tapi ia tak mendapati siapapun di sana, semuanya terlihat sepi tak berpenghuni. Amora memeriksa satu persatu ruangan, hanya kamar Reyhan yang belum ia lihat.


Ceklek ....


"Reyhan ...!" teriak Amora terkejut. Seorang pria tergeletak di lantai tak bergerak. Amora berjongkok lalu bersimpuh di lantai yang dingin, tangannya mengguncang tubuh Reyhan yang terasa sangat dingin. Wajah pria itu pucat seperti tak teraliri darah.


"Rey, bangun! Kamu kenapa?!" Amora panik. Ia meletakkan kepala pria itu di pahanya. Menyentuh wajah Reyhan, hatinya terasa sakit melihat keadaan pria itu. Tak terasa cairan hangat kelar begitu saja. Amora menangis!


"Reyhan bangun! Jangan bercanda! aku tidak suka!" teriaknya histeris. Ia tergugu, sungguh ia tidak ingin terjadi apa-apa dengan pria itu.


Amora mengguncang tubuh Reyhan yang diam tak bergerak, tapi tak ada respon apapun dari sang pemilik tubuh sehingga membuat Amora semakin histeris.


Apa Reyhan meninggal? Amora segera menggelengkan kepalanya dengan kuat. Lelehan air mata terus membanjiri wajahnya.


"Reyhan jangan mati! kamu harus tetap hidup! bangun Rey!" jerit Amora histeris. Wanita itu terus mengguncang tubuh Reyhan di iringi tangis pilu.


❤️❤️❤️


Nah loh, Reyhan kenapa ya kira-kira?


😳😳😳


Ada yang tau kenapa??


Ikuti kelanjutan ceritanya ya zheyeng 😘 makasih banyak yang udah setia ngikutin cerita recehku😘


elepyyuuuuuu full pokoknya 🥰