Suami Sementara

Suami Sementara
Dimana dia


Reyhan berjalan tertatih dengan tubuh penuh luka. Ia berusaha menghindar dari kejaran Farhan yang sudah di kuasai emosi yang menggila. Pria itu tidak lagi di kenali, sosoknya telah berubah menjadi sosok yang mengerikan. Penuh dendam dan amarah yang menguasai diri.


Sesekali Reyhan menoleh ke belakang, kemeja putih yang ia kenakan penuh dengan noda merah yang berasal dari tubuhnya. Terdengar suara Farhan yang memanggilnya di ujung lorong apartemen.


"Sepupuku, dimana kamu? ayolah, berhenti berlari karena kamu di takdirkan mati di tanganku."


Reyhan dengan cepat memencet tombol lift, tapi pintu lift tidak terbuka juga. Sementara itu suara Farhan semakin dekat, lorong ini entah mengapa sangat sepi. Tidak ada seorang pun yang terlihat. Reyhan segera berlari menuju tangga darurat, tertatih meniti satu persatu anak tangga seraya melihat ke atas sesekali. Tadinya ia terlibat perkelahian dengan Farhan. Karena kondisinya yang tidak memungkinkan akibat tusukan di bahu, membuatnya kalah dari Farhan.


Pria itu menusuk kembali bagian tubuh Reyhan dengan brutal. Bahkan wajah Reyhan pun mendapat goresan pisau beberapa kali. Beruntung ia berhasil lepas dan segera berlari sejauh mungkin. Farhan tak mungkin bisa di ajak bicara baik-baik untuk sekarang.


"Rey, mau lari kemana hah?" suara Farhan kembali terdengar. Reyhan menoleh ke atas, terlihat bayangan seorang pria yang menuruni anak tangga. Reyhan baru akan melangkah ketika kakinya terpeleset, ia jatuh terguling ke bawah.


"Akh ...." ia meringis seraya memegangi luka di bahunya yang parah.


Sreet ... Sreett ...


Terdengar suara pisau yang bergesekan dengan dinding. Memberikan rasa kengerian yang teramat sangat. Cahaya remang di tangga darurat membuat suasana semakin mencekam. Reyhan berusaha berdiri kembali, tapi tubuhnya luruh ke bawah ketika ia merasakan kesakitan luar biasa di kakinya. Kakinya terkilir sehingga membuat pria itu kembali terduduk pasrah di lantai putih yang dingin.


"Ya Tuhan. Apa aku memang harus mati di tangan psikopat gila itu?" teringat wajah Amora, membuat pria itu kembali berdiri. Ia tidak akan mati sia-sia di tangan sang sepupu.


"Aku harus bisa bertahan demi Amora. Aku tidak akan kalah dari Farhan." ujarnya seraya menahan segala rasa sakit yang menusuk. Menjalar ke seluruh tubuh dan seluruh urat nadi. Sesekali ia meringis, menyeret langkahnya yang terseok menuju beberapa anak tangga yang masih banyak untuk di lewati. Berjuang mempertahankan diri dari kejaran pria gila yang tak lelah memburunya.


"Dia kira bisa lepas dariku?" kata Farhan sembari terus berjalan dengan tenang mengejar buruan. Senyum aneh tak lepas dari wajahnya sedari tadi. ia teramat yakin jika Reyhan akan mati di tangannya.


"Kau akan menyadari dengan siapa kau bermain, Reyhan. Kau berani mengambil milikku, maka bersiap untuk MATI!" ujarnya dengan geram. Matanya menyiratkan rasa dendam yang mendalam. Berkilat api emosi yang membara dan aura membunuh yang begitu kental. Tak ada lagi belas kasih menyertainya, yang ada hanya dendam dan obsesi yang semakin menguasai. Ia kembali berjalan, bayangan Reyhan yang berjalan tertatih membuatnya tersenyum puas. Kini ia bersiul seraya terus membiarkan pisaunya bersentuhan dengan pinggiran anak tangga. Membayangkan kematian Reyhan di depan mata, membuatnya tertawa puas.


"Hahaha ... Kau akan mati sepupu. Dan setelah itu, Amora akan kembali menjadi milikku." jarak antara dirinya dan Reyhan semakin dekat. Apalagi kini Reyhan kembali terjatuh dengan luka parah yang ia derita. Kakinya semakin sakit ketika di paksa untuk berjalan. Ia terpaksa berbaring lemah tanpa daya. Tubuhnya benar-benar tidak bisa di ajak berjuang. Ia benar-benar pasrah sekarang.


"Kau akan mati malam ini, Reyhan!" tawa Farhan menggelegar. Ia bersiap untuk kembali melukai tubuh sepupunya. Tapi saat Farhan sampai di tempat Reyhan terbaring lemah, ia sangat terkejut. Sepupunya tidak ada!


"Dimana dia?!"