Suami Sementara

Suami Sementara
Sekretaris baru


Happy reading zheyeng 😘


____________________________


Reyhan berjalan menuju ruangannya, ia datang terlambat ke kantor hari ini. Seorang wanita muda yang merupakan sekretaris pribadinya langsung berdiri menyapa.


"Selamat pagi, Pak." wanita itu membungkuk sebentar. Reyhan hanya mengangguk tanpa menoleh. Ia membuka pintu ruangannya dan mengabaikan sapaan sekretarisnya.


"Cool banget sih." ujarnya setelah Reyhan tak terlihat oleh pandangannya. Ia meraih beberapa berkas yang telah di siapkan, merapikan penampilannya sejenak. Tak lupa membuka kancing kemeja paling atas hingga memperlihatkan dua aset yang menyembul sedikit. Ia tersenyum percaya diri, lalu mulai berjalan berlenggak-lenggok. Mengetuk pintu ruangan Reyhan, setelah mendengar suara Reyhan yang menyuruh masuk barulah ia membuka pintu besar itu dan melangkah menuju meja kerja atasannya. Reyhan tampak duduk di kursi kebesarannya dengan tangan yang sedang memijat kepala.


"Pagi pak, ada banyak dokumen yang harus bapak tanda tangani." ucap wanita itu setelah berada tepat di depan Reyhan. Reyhan melirik sebentar, menelisik penampilan sekretarisnya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Kemeja panjang berwarna hitam yang ketat, sehingga lekuk tubuhnya terlihat. Dua aset yang menyembul mengintip malu-malu. Dengan rok span berwarna senada di atas lutut. Reyhan memutar bola mata jengah. Lalu fokus pada beberapa dokumen yang di berikan oleh sekretarisnya.


Menyadari bahwa Reyhan sempat memperhatikannya, sang sekretaris menjadi salah tingkah karena salah tanggap, ia mengira Reyhan tertarik padanya. Ia menyelipkan beberapa rambut yang tergerai ke belakang dengan gerakan menggoda. Tersenyum genit seraya mendekat ke meja Reyhan, membungkuk sedikit sehingga dua aset itu tampak semakin menyembul dan hampir meloncat keluar.


Reyhan tak memperdulikannya, ia fokus pada satu dokumen yang ada di tangannya. Satu tangannya memijit pelipisnya karena merasakan pusing karena memikirkan Amora. Perkataan Amora tadi pagi membuat moodnya buruk pagi ini.


"Pak Reyhan pusing ya?" tanya Nia, sang sekretaris. Reyhan hanya diam tak menanggapi. Ia menandatangani satu dokumen dan berpindah pada dokumen lainnya.


"Kalau bapak pusing, saya bisa memijat kepala Bapak." tawarnya dengan suara mendayu.


Reyhan menghentikan kegiatannya, ia menoleh sebentar menatap tak suka pada sekretaris genit yang ada di hadapannya. Ia menurunkan tangannya dari kepala. Melipatnya di depan dada dan bersandar pada belakang kursi kebesarannya.


"Kau mau alih profesi?" tanya Reyhan datar.


"Maksud Bapak?" tanya Nia kebingungan.


"Kau itu sebenarnya sekretaris apa tukang pijat?" alis Reyhan terangkat.


"Berdiri dengan benar!" wanita yang bernama Nia itu terkejut, ia segera berdiri dengan tegap.


"Kenapa tidak di buka sekalian?" ucap Reyhan yang membuat wanita itu tersenyum menang.


"Bapak mau aku membuka semuanya?" tanya Nia senang.


"Buka di luar dan jangan pernah kembali ke kantor ini!" tegas Reyhan.


"A-apa?" wajahnya memucat.


"Kau masih mau bekerja di sini atau mau saya lempar ke rumah bordil?" tanya Reyhan dengan tatapan mematikan, membuat sang sekretaris mengigil ketakutan. Ia meremas jemari yang saling bertautan. Ia tak mampu mengucapkan satu kata apapun.


"Keluar! kancingkan kemejamu dengan benar! Dan jika masih mau berkerja di sini, maka perbaiki penampilanmu!"


"Ba-baik, Pak." Nia mengangguk takut. Dengan cepat tangannya yang gemetar mengancingkan satu kancing yang terbuka.


"Mulai besok, pakai baju panjang yang longgar dan celana panjang longgar. Kalau perlu, pakai gamis dan kerudung sekalian!" ucap Reyhan.


"Eh ...." Nia melotot. Itu bukan style-nya.


"Kenapa? tidak suka?"


"Bu- bukan pak. Bukan begitu." Nia tergagap.


"Jika tidak suka, silahkan tulis surat pengunduran diri." kata Reyhan. Ia kembali fokus pada setumpuk dokumen yang ada di hadapannya. Sementara Nia masih berdiam diri di tempatnya. Mencerna baik-baik ucapan sang atasan yang berkepribadian sangat dingin dan tak tersentuh. Ia pikir akan mudah menggoda pria ini tapi ternyata ia salah.


"Jika tidak ada kepentingan lain, silahkan keluar." ujar Reyhan tanpa menoleh. Sekretaris muda itu tersentak, ia mengangguk takut.


"Ba-baik Pak. Saya permisi." ia buru-buru melangkah meninggalkan ruangan sang direktur. Ia memilih untuk menyelamatkan diri.


"Sekretaris pilihan Farhan tidak ada yang beres!" gerutunya dengan kesal. Sekretaris itu baru bekerja selama beberapa hari atas rekomendasi dari Farhan. Moodnya semakin buruk hari ini. Ia meraih ponsel yang ada di saku jasnya lalu menghubungi seseorang.


Sementara itu di kantor lain.


"Untuk sementara, kamu di pindahkan ke bagian marketing." ucap pria berkepala pelontos yang merupakan atasan Amora.


"Apa?" Amora terkejut. Bagaimana bisa ia di pindahkan begitu saja tanpa konfirmasi apa-apa sebelumnya.


"Kenapa? kamu tidak terima?" Amora hanya diam dengan mengepalkan kedua tangannya.


"Sania akan menggantikan posisimu dan segeralah keluar. Saya sibuk." usir sang atasan seraya mengibaskan tangan.


"Tapi, Pak."


"Kenapa? kamu tidak mau?" tanya sang atasan seraya menopang dagu dengan kedua tangannya di atas meja. Ia menelisik penampilan Amora dengan tatapan mesum. Meski memakai celana panjang, tubuh Amora yang padat berisi tentu saja menggugah jiwa kelelakiannya yang pada dasarnya memang mesum.


"Kamu mau jadi simpanan saya? saya jamin kamu akan menjadi sekretaris tetap dan tidak akan pernah saya gantikan dengan yang lain." ucapnya dengan senyum penuh arti.


Amora memandang pria berkepala pelontos itu dengan jijik. Ingin sekali rasanya ia meludahi wajahnya yang tersenyum penuh minat menatapnya.


"Tidak. Terima kasih. Saya permisi." Amora memutar tubuhnya dan berjalan dengan cepat meninggalkan ruangan yang seperti neraka baginya.


"Sok jual mahal! suruh sekretaris baruku masuk. Aku butuh servis pagi hari." serunya dengan kencang yang membuat Amora bergidik.


"Dasar atasan gila!" umpatnya seraya membuka pintu yang ada di hadapannya.


Saat keluar, Sania yang merupakan sang sekretaris baru sudah berdiri di hadapannya.


"Bagaimana? kau puas dengan jabatan barumu?" ucapnya dengan pongah. Ia berdiri tegak dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Amora memandang Sania dengan tatapan tak percaya. Bagaimana bisa Sania yang ia kenal baik dan pendiam menjadi monster mengerikan yang sangat merugikan.


"Setidaknya jabatan itu lebih baik daripada menjual diri!" balas Amora dengan sengit. Kali ini ia akan menghilangkan hati nuraninya untuk menghadapi wanita licik seperti Sania.


Ucapan Amora membuat wajah yang penuh senyum itu berubah marah. Sania menggertakkan gigi dengan geram.


"Siapa yang kau bilang menjual diri?" kedua tangannya yang semula bersedekap, kini terkepal dengan kuat.


"Aku tidak bilang siapa-siapa. Kenapa kau marah? Kau tersinggung?" sindirnya. Amora menarik sudut bibirnya.


"Kau ...."


"Apa? di panggil bos tuh. Katanya dia butuh servis pagi hari dari sekretaris baru. Wah pantas saja sekretaris mahal sepertiku bisa di geser dengan mudah. Ternyata ada sekretaris yang lebih murah rupanya." cibir Amora tersenyum miring. Ia tak ingin lagi berbaik hati pada Sania yang semakin hari semakin menjadi.


"Keterlaluan kamu! Pergi sana! selamat bergabung dengan rakyat jelata. Jangan lupa bawa barang-barang kamu pergi dari sini. Semua barang kamu sudah aku bereskan!" Sania menunjuk sebuah kardus yang ada di lantai dengan semua barang Amora yang berada di dalamnya.


"Wah, terimakasih banyak. Maaf merepotkanmu!" Amora berjalan menjauh dengan dagu terangkat. Ia membawa kardus yang berisi semua barang-barangnya. Meninggalkan Sania yang di selimuti amarah yang berkobar hampir membakarnya.


🌿🌿🌿


Hai zheyeng 😘


Semangat yah. Apapun yang kamu alami hari ini, jangan lupa untuk tersenyum dan bersyukur. Semangat pokoknya πŸ₯°πŸ˜˜


Jangan lupa like dan komentar.


Terima kasih.


❀️❀️❀️