
Sania berdiri di depan kontrakan sederhana yang ada di hadapannya. Ia berdiri di sebelah koper bawaannya, menatap tak percaya dengan apa yang ia lihat. Netranya liar berkeliling mengamati setiap sudut rumah itu. Atap genteng yang tidak terlalu bagus dengan dinding berwarna biru dengan cat yang tampak mengelupas di sana-sini pada bagian luarnya. Ia mematung, langkahnya terpaku di luar bangunan yang masih layak di tempati itu meski tak sebagus dan senyaman apartemen yang pernah ia tempati sebelumnya. Ia menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya. Kepalanya menoleh ke belakang, menatap sendu pria yang sedari tadi hanya diam mengamati dirinya.
"Apakah bangunan tua ini masih layak untuk di tempati?" tanya wanita itu ragu.
"Layak kok," sahut Evan dengan mengangguk meyakinkan.
"Apakah tidak ada kontrakan lain?" tanya Sania lagi. Evan mengernyitkan dahi, menatap bingung pada Sania yang memasang wajah masam. Seolah mengerti apa yang ada dalam pikiran pria itu, Sania maju beberapa langkah mendekati Evan yang sedang menatapnya dengan bingung. Koper yang berisi pakaian miliknya ia tinggalkan sementara ia mendekati pria yang berdiri tak jauh darinya.
"Maksudku, apa tidak ada kontrakan yang lebih layak? Yang lebih bagus dari ini. Yang punya fasilitas lengkap di dalamnya." rengek Sania dengan memasang wajah sedih.
"Dengan uang tujuh ratus ribu, ya cuma ini. Kalau kamu mau kontrakan yang bagus dari ini ya ada sih. Memangnya kamu punya uang?"
Sania menggeleng pelan. Benar juga, pikirnya. Ia pun tidak memegang uang sama sekali. Bagaimana bisa ia mendapatkan kontrakan yang bagus? Sementara kontrakan kumuh ini saja Evan yang membayarnya.
"Apa kamu tidak mempunyai uang lagi?" tanya Sania penasaran.
"Uangku sudah habis untuk membayar kontrakan ini. Dasar tidak tahu terimakasih!" umpat Evan kesal. Pria itu melihat wanita yang ada di hadapannya penuh dengan kesal dan emosi.
"Aku tidak mau tinggal di rumah ini." kata Sania seraya memanyunkan bibirnya.
"Ya sudah, kalau begitu. Selamat tinggal di kolong jembatan."
Sania mendelik, tak pernah ia membayangkan sebelumnya jika harus tinggal di bawah jembatan seperti yang di katakan Evan.
"Aku tidak mau!" Wanita itu menggeleng dengan kuat.
"Ya sudah! Diam dan masuklah. Rumah seperti ini juga harusnya kamu berterima kasih. Bukannya malah protes!"
"Jika di perbolehkan memilih, maka aku tidak akan mau di sini. Aku tidak mau di rumah yang seperti ini." lirihnya dengan wajah cemberut sembari menatap rumah itu sekali lagi.
Evan meletakkan punggung tangannya di kening Sania. Dengan cepat pula Sania menepis tangan pria yang memiliki lesung pipi itu. Ia menatap kesal pada pria yang berdiri di hadapannya itu.
"Kamu yang kenapa?"
"Lah kok aku?"
"Lah iya. Sudah tahu tidak punya uang tapi masih saja berlagak sok kaya. Sudah dapat rumah ini saja sudah untung. Setidaknya kamu tidak kehujanan, tidak kebasahan. Ini malah protes terus. Jika tidak mau tinggal di sini, ya sudah cari kontrakan yang lebih layak menurutmu. Tapi aku sudah tidak punya uang." ucap Evan dengan terus berjalan menuju motor miliknya yang terparkir tak jauh dari tempatnya berdiri bersama Sania.
"Kamu mau kemana?" tanya Sania pada Evan.
"Ya pulanglah. Tidak mungkin kan, aku harus ikut masuk ke dalam dan menginap di kontrakan kamu?"
"Tapi ...."
"Tapi apa? Kalau kamu tidak betah, ya tinggal cari saja kontrakan yang baru. Yang fasilitasnya memadai sesuai dengan yang kamu mau. Tapi maaf nih, aku tidak bisa bantu lebih. Karena uang aku sudah habis buat bayar ini kontrakan." Evan mulai menghidupkan motornya dan siap untuk meninggalkan tempat itu tapi di tahan Sania.
"Kamu mau kemana?"
"Astaga ini perempuan susah banget di bilangin. Aku mau pulang! Rumah kontrakan aku tidak jauh dari sini. Kamu lihat rumah dengan cat berwarna hijau di sebelah kanan itu?" Evan menunjuk rumah sederhana yang berwarna hijau tak jauh dari tempat mereka berdiri. Amora mengikuti arah tangan Evan, lalu mengangguk perlahan ketika netranya menangkap apa yang di maksud pria itu.
"Nah itu kontrakan aku. Aku tinggal di sana. Jadi kalau kamu butuh apa-apa, kamu tinggal kesana. Oke?"
Sania hanya mengangguk lemah, lalu tanpa berkata apa-apa lagi Evan mulai melajukan motornya. Sepeninggalan Evan, Sania hanya menarik napas berat. Ia menyeret langkahnya menuju koper yang sedang menunggunya untuk di bawa ke dalam rumah.
"Ya setidaknya masih ada yang mau peduli dengan nasib burukku." lirih Sania dengan sendu. Ia menyeret kopernya memasuki rumah kontrakan yang sedikit berdebu dengan penerangan yang minim.
"Ya Tuhan mengapa rumah ini jelek sekali?" keluhnya. Ia menatap tak percaya setelah memasuki rumah itu. Ia tidak melihat apapun yang ada di sana. Semua kosong tanpa perabotan dan hanya ada satu kursi yang mulai usang berada di sana.
"Mengapa nasibku seburuk ini? Baru kemarin aku menempati apartemen mewah dengan fasilitas lengkap dan mewah pula. Mempunyai banyak uang dan segala barang mewah, tapi sekarang? Bahkan makanan seharga lima puluh ribu saja aku tidak bisa membayarnya. Mengenaskan sekali." keluhnya dengan tertawa miris.