Suami Sementara

Suami Sementara
Perdebatan kakak adik


"Apa yang anda inginkan?" tanya Reyhan tanpa basa-basi.


"Cabut tuntutan terhadap Farhan!" Pinta wanita yang berdiri dengan angkuh di depan Reyhan. Pria itu tertawa sinis dengan sudut bibir yang terangkat.


"Apa saya tidak salah dengar?" Ibu Farhan hanya menatapnya dengan geram.


"Apa tadi? Cabut tuntutan terhadap Farhan?" ulangnya seraya tersenyum geli.


"Saya tidak main-main. Saya mau kamu cabut tuntutan terhadap Farhan sekarang juga!" ujar wanita itu dengan napas yang naik turun.


Reyhan terdiam seraya menatap tantenya dengan dingin dan menusuk.


"Atas dasar apa anda meminta saya mencabut tuntutan kepada penjahat?"


"Anak saya bukan penjahat!" Sanggah Ibu Farhan dengan marah.


"Lalu apa? Pembunuh?"


"Anak saya bukan pembunuh!" teriak wanita itu dengan marah. Ia menatap Reyhan penuh amarah yang meluap-luap.


"Bagaimana anda bisa mengatakan jika anak anda bukan seorang penjahat atau pembunuh? Dia berusaha membunuh saya bahkan akan memperkosa istri saya!" ucap Reyhan dengan kesal. Ada emosi ketika ia mengatakan saat memperkosa istrinya, kedua tangannya terkepal dengan kuat. Ingatan beberapa hari silam masih melekat tanpa bisa di hilangkan begitu saja. Ia melihat sendiri bagaimana Farhan dengan brutal berusaha menyentuh istrinya. Menatap Amora dengan penuh napsu yang tak bisa terkontrol. Bahkan saat itu ia sangat ingin mencongkel mata yang menatap istrinya dengan liar.


"Amora itu masih sah istri Farhan, jadi sudah sepantasnya Amora memberikan hak pada suaminya!"


"Mereka bukan suami istri lagi! Ketika Farhan menjatuhkan talak sampai tiga kali, maka keduanya bukan lagi suami istri! Mereka bisa kembali jika menikah lagi dengan orang lain!"


"Tapi di mata hukum dan negara mereka masih suami istri. Mereka belum mengajukan gugatan cerai ke pengadilan."


"Besok Amora akan mengajukan gugatan cerai ke pengadilan! Maka dengan itu mereka resmi bercerai baik di mata agama ataupun hukum!" tegas Reyhan yang membuat mata wanita yang ada di hadapannya melotot dengan sempurna.


"Kamu tidak bisa mempengaruhi Amora! Saya tidak akan pernah setuju mereka bercerai!"


"Apa hak anda? Kami tidak perlu persetujuan dari anda. Lagi pula, mengapa sekarang anda menentang perceraian mereka? Bukankah Anda tidak pernah menganggap Amora sebagai menantu?"


Ibu Farhan terdiam seribu bahasa. Apa yang di katakan oleh Reyhan benar adanya. Ia tidak pernah memperlakukan menantunya dengan baik. Ia hanya memanfaatkan Amora untuk menopang kehidupannya dan style-nya.


"Mengapa anda diam? Anda baru sadar sekarang?" Reyhan mengangkat sebelah alisnya.


"Ah saya lupa. Manusia seperti anda mana bisa sadar karena anda kan tidak punya hati." Sindir Reyhan dengan sinis.


"Bisa-bisanya seorang keponakan dengan tidak tahu malu mengatakan tantenya tidak punya hati? Apa kamu punya perasaan?" teriak Ibu Farhan marah.


"Bisa-bisanya Ibu dari seorang pembunuh meminta pada korban agar mencabut tuntutannya? Apa anda punya pikiran?" Balas Reyhan dengan sinis.


"K-kau ...." geram wanita itu dengan emosi yang sebentar lagi akan meledak.


"Jangan pernah meminta pada istri saya atau pun kepada saya untuk mencabut tuntutan itu. Karena kami tidak akan pernah mencabut tuntutan itu."


"Cabut tuntutan itu, Rey. Bukankah dia sepupu kamu? Biar bagaimanapun kalian masih ada ikatan darah. Aku adik dari mama kamu!"


"Apakah Farhan memandang saya ketika akan membunuh? Menyerang saya begitu saja dan tega melukai saya? Apakah bisa seorang sepupu di maafkan ketika ia dengan sadar ingin membunuh serta memperkosa istri sepupunya sendi?" Reyhan membalikkan pernyataan itu.


"Kamu yang salah! Seharusnya kamu tidak merebut Amora dari anak saya! Kamu yang tega menghancurkan hidup anak saya! Kamu tidak punya hati!"


"Saya?" Reyhan tertawa kecil.


"Saya tidak pernah merebut Amora dari Farhan. Bahkan pria itu sendiri yang meminta saya menikahi Amora. Saya tidak pernah menghancurkan hidup anak anda! Anak andalah yang menghancurkannya sendiri. Seandainya ia lebih bersyukur sedikit saja, maka ia tidak akan berakhir seperti ini. Dan mungkin saya memang salah karena membuat Amora mencintai saya."


"Keterlaluan kamu, Rey! Dasar keponakan tidak punya hati! Farhan hanya meminta kamu menjadi suami sementara! Bukan selamanya! Ia mau kamu menikahi Amora hanya sebagai muhalil. Tapi kamu dengan licik malah merayu Amora! Dasar sepupu tidak tahu diri!"


Maki wanita itu dengan amarah yang meluap-luap.


"Salah saya dimana? Apakah salah jika kami saling mencintai?"


"Kamu salah karena mencintai istri sepupu kamu sendiri!"


"Ralat, mantan istri!" kata Reyhan.


"Sebentar lagi." ucap Reyhan dengan yakin.


"Dasar PEBINOR!"


"Terserah!" ujar Reyhan tidak peduli.


"Cabut tuntutan pada anak saya dan tinggalkan Amora! Kembalikan Amora pada anak saya!"


"Tidak akan!"


"Dasar brengsek! Tidak punya hati!"


"Terserah apa kata anda! Saya tidak peduli. Dan yang pasti saya tidak akan menyerahkan istri saya pada siapa pun! Amora akan tetap menjadi istri saya. Hari dan seterusnya!"


"Amora belum resmi jadi istri kamu! Pernikahan kalian tidak sah!"


"Kata siapa?"


"Kalian belum resmi secara hukum!"


"Secepatnya. Setelah Amora dan Farhan resmi bercerai, saya akan mengadakan resepsi besar-besaran. Akan saya umumkan pada semua orang bahwa Amora telah resmi menjadi milik Reyhan. Anda paham sekarang?"


Wanita itu menatap keponakannya dengan marah. Wajahnya memerah dengan tangan yang terkepal dengan kuat. Sebelah tangannya terangkat ke atas akan menampar Reyhan, tapi ada tangan lain yang menahan tangannya di udara sehingga membuat Ibu Farhan menoleh.


"K-kakak?" ia terkejut begitu pun dengan Reyhan.


"Mama?"


"Jangan pernah berani-beraninya menyentuh anak saya seujung kuku pun! Kau tidak berhak sama sekali!" ucap Mama Riana dengan tatapan tajam dan menusuk membuat Ibu Farhan bergidik ngeri. Aura kelam itu amat terasa membuatnya menggigil takut.


"Lepas kak, sakit!" rintihnya karena merasakan kesakitan ketika Mama Riana yang memegang dengan kuat pergelangan tangan Ibunya Farhan. Mama Riana menyentak dengan kuat pergelangan tangan itu sehingga Ibu Farhan meringis.


"Berani sekali kamu ingin menyakiti anak saya? Dari dulu kamu tidak berubah, Ren." ujar Mama Riana seraya menatap kecewa pada adiknya yang meringis seraya mengelus pelan pergelangan tangannya.


"Apa sih kak? Aku kesini cuma mau meminta Amora dan Reyhan mencabut tuntutan kepada Farhan. Itu saja!"


"Apa kamu sudah tidak waras? Bisa-bisanya kamu meminta pada anak dan menantu saya untuk mencabut tuntutannya! Anak kamu itu sudah keterlaluan! Dia hampir membunuh anak saya dan memperkosa menantu saya!"


"Itu semua salah anak kamu, kak. Seandainya dia tidak merebut Amora, maka Farhan tidak akan senekat itu."


"Jangan selalu membela anak kamu! Farhan itu jelas-jelas bersalah, dan kamu selalu membelanya sejak dulu. Jangan salah mendidik anak, Rena!"


"Farhan tidak bersalah! Reyhan lah yang bersalah! Anak kakak akar dari permasalahan ini semua!"


"Dari dulu kamu itu tidak pernah berubah. Tidak pernah mau di salahkan meski kamu memang salah! Biarkan dia di penjara dan menanggung akibat yang telah dia perbuat! Jangan selalu membelanya! Biarkan dia belajar bertanggung jawab atas apa yang telah ia lakukan. Jangan menjadi orang tua yang abai, Rena. Apa kamu akan bertanggung jawab atas menantu dan anak saya? Anak kamu itu sudah gila! Dia bahkan menodongkan pistol kepada Amora. Dia ingin membunuh Amora agar tidak ada yang bisa memiliki menantu saya. Apakah itu bukan gila namanya?"


"Farhan begitu mencintai Amora, kak. Makanya dia kalap dan tidak bisa berpikir dengan jernih. Dia tidak mau kehilangan Amora."


"Apa? Mencintai katamu?" Mama Riana tersenyum sinis sementara adiknya hanya mengangguk. Reyhan hanya menjadi penonton perdebatan antara adik dan kakak itu.


"Itu bukan lagi cinta,Rena. Itu Obsesi, Farhan tidak mencintai Amora. Ia hanya terobsesi untuk memilikinya karena ia tidak mau jika Reyhan sampai benar-benar memiliki Amora. Bahkan jika benar ia cinta, mengapa selama ini ia menyia-nyiakan Amora? Jika ia mencintai dan menjaga Amora dengan baik, maka semua ini tidak akan pernah terjadi. Jika Farhan memperlakukan Amora dengan baik, maka rumah tangga mereka pun akan baik-baik saja. Tidak akan ada perceraian di antara mereka."


Ibu Farhan memandang kakaknya dengan sayu, air mata menggenang di pelupuk matanya.


"Dengar, Ren. Jadilah orang tua yang bijak. Jangan selalu membela anakmu jika itu salah. Nasehati dia dan bimbing dia agar kembali ke jalan yang benar. Jangan kamu tutup mata hati kamu hanya karena terlalu mencintai anak kamu. Jika kamu benar menyayangi Farhan, biarkan dia menuai apa yang ia tanam. Biarkan dia mendapat pelajaran atas semua yang telah terjadi saat ini. Jangan selalu membelanya ketika ia salah."


"Ta-tapi kak,"


"Farhan bersalah, dan biarkan dia menjalani masa tahanannya. Jenguklah dia dan beri dia nasehat serta semangat. Aku yakin, kamu pasti mau yang terbaik untuk anak kamu kan?" Ibu Farhan mengangguk lemah. Bulir hangat itu turun berkejaran menuruni wajah Ibu yang telah lelah itu. Sebenarnya, hatinya telah lelah. Ia merasa bersalah, tapi jiwa gengsi serta egoisme yang terlalu tinggi membuatnya menjadi angkuh.


Tanpa di duga, Mama Riana melangkah mendekati adiknya. Membawanya ke dalam dekapan hangat seorang kakak. Ia tidak ingin adiknya terjerumus terlalu jauh.


"Hanya kamu yang bisa membuat Farhan berubah." ucapnya di sela dekapan serta tangisan kencang dari adiknya. Reyhan yang melihatnya tersenyum haru, begitu juga dengan Amora yang melihatnya dari kejauhan. Ia menghapus bulir bening yang tak sengaja ikut turun karena terharu.