Suami Sementara

Suami Sementara
Ceraikan Reyhan


Cinta tak perlu paksaan


Tak perlu pula pengakuan


Untuk apa di teruskan


Jika Yang ada hanya penderitaan


_


_


"Katakan padaku, Amora! Apa kau mulai mencintai pria brengsek itu?!" tanya Farhan sekali lagi. Giginya gemeletukan menahan emosi, sementara cengkraman tangannya semakin kuat di bahu Amora. Amora menatap mantan suaminya dengan takut.


"A-aku ...."


Farhan memejamkan mata dengan rahang yang mengeras. Tanpa di jawab pun ia sudah tau jawaban dari sang mantan istri. Ia membuka mata setelah seperkian detik terpejam. Mendapati wajah Amora yang ketakutan serta meringis menahan sakit membuatnya refleks melepaskan cengkraman tangannya.


"A-amora maafkan aku," ucapnya penuh rasa sesal. Ia ingin meraih Amora, tapi wanita itu melangkah mundur menghindari Farhan dengan takut.


"Jangan mendekat! Lebih baik sekarang mas keluar!" ucapnya dengan suara bergetar.


"Amora, ku mohon. Jangan begini," ujar Farhan dengan wajah memelas. Setangkai bunga yang ia bawa tadi sudah tergeletak di lantai dengan amat menyedihkan. Tercampakkan begitu saja, seolah sangat mewakili perasaannya saat ini.


"Pergi, Mas. Aku mohon." lirih wanita itu seraya mengatupkan kedua tangannya.


"Baiklah, aku akan pergi. Tapi aku minta satu hal." pria itu masih berusaha mencari kesempatan di situasi yang sangat genting itu.


"A-apa?" tanya Amora dengan pelan dan dengan suara bergetar.


"Ceraikan Rey, dan kembalilah padaku!"


Amora melebarkan matanya, tak habis pikir dengan apa yang Farhan katakan.


"Aku tidak bisa, Mas." Amora menggeleng.


Sementara Farhan menatap Amora dengan putus asa.


"Kenapa? Bukankah kita sudah sepakat menjadikan Rey sebagai suami sementara agar kita bisa menikah kembali?"


"Aku mencintainya."


Farhan mengumpat kasar. Ia menjambak rambutnya yang mulai panjang. Ia menatap Amora dengan tak percaya.


"Kami saling mencintai dan sampai kapanpun kami tidak akan pernah bercerai. Terimakasih karena memilihkan Reyhan untuk menjadi suami sementara untukku. Tapi sekarang semuanya berbeda. Aku ingin dia menjadi suamiku selamanya. Dan maaf, aku tidak bisa kembali padamu." lanjutnya. Ia pun tak tahu mendapatkan keberanian dari mana sehingga bisa mengatakan hal itu. Tapi jujur, sebenarnya ia telah mencintai Reyhan. Terlebih dari itu, ia tak pernah membayangkan jika harus terpisah dari pria yang kini menempati kerajaan hatinya.


"Aku tidak berbohong, mas. Lagi pula mas sudah punya Sania. Bahkan sekarang Sania hamil. Dimana hati nurani kamu, mas?"


"Bukankah seharusnya kamu mendampingi Sania di saat seperti ini? tapi mengapa malah sibuk menggangguku?" lanjutnya dengan tatapan kecewa pada Farhan.


Detik berikutnya terdengar suara tawa di ruangan itu dalam beberapa saat. Amora hanya mengernyitkan dahi karena bingung dengan perubahan emosi yang Farhan tunjukkan. Setelah puas tertawa, Farhan memasang seringai mengerikan sehingga membuat Amora bergidik ngeri.


"Kamu bilang apa? hamil?" tanya Farhan seraya menatap Amora dengan tajam. Sementara wanita itu kini beringsut menjauh, hingga tubuhnya membentur dinding sehingga wanita itu semakin ketakutan.


"Kamu tahu bahwa aku mandul, Amora. Apa kamu lupa? Hidup beberapa bulan dengan Reyhan membuat kamu melupakan hal sebesar itu?" masih menatap Amora dengan tatapan mendamba.


"Lalu jika bukan anak mas, anak siapa?"


"Mana aku tahu. Mungkin ia bermain dengan orang lain." kata Farhan dengan santai.


"Biarkan saja ia menjajakan diri sekarang serta sibuk mencari sang ayah dari janin yang di kandung." imbuh pria itu lagi dengan santai, tapi terselip juga kekesalan serta kekecewaan yang mendalam. Membayangkan Sania mengkhianatinya membuat ia kembali mengeram menahan emosi.


"Wanita murahan! tidak tahu diri. Harusnya dia bersyukur karena aku telah memungutnya." dengus Farhan dengan kesal.


"Harusnya aku bunuh saja wanita itu! Hahahaha ... kenapa aku baru berpikir sekarang ya?" ia berbicara sendiri. Sementara Amora membelalakkan mata mendengar penuturan Farhan yang mengerikan. Farhan tertawa terbahak-bahak dengan rencana pembunuhan yang sedang ia susun. Tanpa menyadari Amora yang perlahan melangkah menghindari sang mantan suami yang berubah menjadi semakin menakutkan. Tinggal beberapa langkah menuju pintu, Amora di kejutkan dengan berhentinya tawa Farhan. Ia berhenti, menoleh ke belakang. Matanya melebar ketika pria itu menatapnya dengan marah di sertai aura membunuh yang kuat.


"Mau kemana?" tanya pria itu dengan seringai licik. Bibirnya terangkat dengan tatapan mengerikan. Pria itu maju beberapa langkah mendekati tubuh Amora yang mendadak kaku. Otaknya memerintahkan untuk lari, tapi tubuhnya tak berhenti untuk bergetar hebat. Ketakutan merambat ke seluruh tubuh, melumpuhkan segala sendi sehingga membuatnya hanya terpaku di tempatnya.


"Mas, jangan mendekat. Aku mohon, menjauhlah." lirih Amora. Bahkan cairan hangat telah turun di wajahnya.


"Aku menginginkanmu, Amora." Farhan telah sampai pada wanita itu. Menyentuh wajah pucat Amora dengan telunjuk tangan yang terulur. Menikmati wajah ketakutan wanita yang menjadi mantan istrinya itu.


"Ah ayolah sayang. Jangan menangis," mengusap air mata yang membasahi wajah Amora.


"Lepaskan aku mas," mohon wanita itu tanpa berani menatap Farhan.


"Lepaskan?" tanya Farhan seraya menatap Amora dengan seringai mengerikan. Amora mengangguk takut.


"Tidak akan pernah!" Farhan berbisik. Tangis Amora semakin pecah, ia merasa mantan suaminya seperti psikopat. Entahlah, ia tak mengenali lagi pria yang pernah hidup bersamanya ini.


"Ssst ... jangan menangis, aku akan membuatmu bahagia. Percayalah! Asal kamu ceraikan Reyhan." dengan kuat Amora menggeleng. Sehingga membuat Farhan kembali marah.


"Ceraikan Reyhan atau aku bunuh dia!" pria itu mencengkeram dagu Amora dengan kuat. Amora memejamkan mata, meringis kesakitan.


"Le- lepaskan mas," tak terhitung lagi berapa banyak air mata yang jatuh. Ia mengigil ketakutan, berusaha mencari cara untuk lepas dari pria yang tak lagi ia kenali.


"Tidak akan! Sebelum kamu mau bercerai dari pria brengsek itu!"