
Happy reading zheyeng ๐
_______________________________________
"Jadi, kapan kita adakan resepsi?" tanya Mama Riana setelah puas memeluk menantunya. Pertanyaan Mama Riana sontak saja membuat Amora dan Reyhan mendelik. Keduanya saling berpandangan dengan bingung.
"Apa? Resepsi?" teriak keduanya dengan kompak sehingga membuat mama Riana tersenyum simpul.
"Ciee ... kaget aja barengan. Kalian manis banget sih?" puji Mama Riana seraya menutup mulut. Entah kenapa malah ia yang malu, teringat dulu ketika almarhum papa Reyhan masih ada.
"Apa maksud mama?" tanya Reyhan khawatir.
Wanita yang di panggil mama itu mengerutkan kening.
"Maksud apa?"
"Maksud Reyhan, apa perlu resepsi?" tanya Reyhan seraya menatap mamanya dengan serius.
"Kamu ini bagaimana sih? Resepsi itu wajib bagi mama! Kamu itu anak tunggal di keluarga kita. Lagian mama juga mau memperkenalkan Amora ke semua kolega serta teman mama. Masa kabar baik tidak di sebarkan? kamu ini bagaimana." gerutu Mama Riana dengan wajah kesal. Amora dan Reyhan saling berpandangan. Kedua mata mereka bertemu saling mengisyaratkan sesuatu.
"Ma, Reyhan dan Amora belum sah secara hukum. Lagipula, Amora dan Farhan belum resmi bercerai." tutur Reyhan. Kini pandangan matanya beralih pada mama Riana yang memasukkan sebuah sesendok puding coklat ke dalam mulutnya.
"Ya segera urus perceraiannya secepat mungkin. Lagipula, tidak ada yang di harapkan dari suami tidak berguna seperti Farhan. Lebih cepat lebih baik supaya kalian bisa sah di mata hukum. Mama tidak mau tahu, segera urus akta perceraian kalian ya Amora." tegas mama Riana seraya menatap Amora dengan serius.
Amora yang di tatap begitu seketika menjadi gugup. Ia dan Reyhan tak mungkin jujur tentang perjanjian rahasia mereka.
"Ba-baik, Ma. Secepatnya Amora akan mengurus surat perceraian kami." ucap Amora akhirnya sehingga membuat wajah mama Riana sumringah. Begitu pula dengan Reyhan, tak bisa di pungkiri ia mengharapkan semua itu benar terjadi. Diam-diam dia berterima kasih pada Mamanya yang secara tidak langsung telah membantunya.
"Nah, gitu dong. Nanti di kira anak mama jadi pebinor."
"Pebinor itu apa, Ma?" tanya Reyhan tak mengerti.
"Ya ampun anak muda kalah sama orang tua." cibir Mama Riana.
"Ya kan Reyhan tidak tahu, Ma." pria itu menggaruk kepalanya. Sementara Amora hanya mengamati interaksi keduanya tanpa mau menyela.
"Pebinor itu, Perebut bini orang! begitu saja tidak tahu." Reyhan hanya manggut-manggut tanda mengerti.
"Mama duluan ke kamar ya. Mama ngantuk banget." ujar Mama Riana. Amora mengangguk begitu pun Reyhan.
"Iya, ma. Istirahatlah, mama pasti capek." kata Reyhan.
"Lagipula Mama tidak mau mengganggu kebersamaan kalian. Nikmatilah." ujarnya seraya mengedipkan sebelah mata.
"Apa sih, Ma."
"Amora, jangan sungkan ya disini. Ini juga rumah kamu. Kalau perlu apa-apa bisa minta sama si mbok."
"Baik, Ma. Terima kasih banyak."
Mama Riana mengangguk, lalu segera berlalu meninggalkan keduanya. Seketika ruangan itu menjadi hening, hanya terdengar bunyi jarum jam dinding yang berdetak menjadikan detik berubah menjadi menit.
"Kita tidur sekarang?" tanya Reyhan kikuk.
"Aku belum mengantuk." ujarnya.
"Baiklah, bagaimana kalau kita ke balkon?"
"Boleh." Amora mengangguk. Keduanya lalu beranjak berdiri meninggalkan kursi masing-masing dan berjalan menaiki anak tangga menuju kamar Reyhan.
Sesampainya di balkon, keduanya berdiri berdampingan dengan tangan yang berpegangan pada pembatas Balkon seraya menatap langit cerah dengan ribuan bintang yang bertaburan serta rembulan yang mengintip malu-malu di balik awan.
"Indah, ya." kata Amora tanpa menoleh. Ia masih menatap langit yang memukau. Reyhan yang awalnya melihat langit pun menoleh. Menatap wajah Amora yang tersenyum memandang ke atas langit. Lebih indah dari apapun, menurut Reyhan.
"Iya, sangat indah." gumam Reyhan tanpa mengalihkan pandangannya. Amora tersenyum lebar, samar terasa semilir angin yang menyapu lembut wajah Amora. Menerbangkan beberapa helai rambut panjang wanita itu yang tergerai. Tangan Reyhan tak bisa di cegah untuk menyelipkan rambut Amora ke belakang telinga sehingga membuat wanita itu menoleh.
"Apa ada sesuatu di wajahku?" tanya Amora.
Reyhan mengangguk sehingga membuat Amora panik.
"Apa? ada apa? apakah sisa makanan tadi ada yang menempel?" Amora sibuk membersihkan wajahnya dengan jemarinya yang lentik. Reyhan tersenyum melihat tingkah Amora.
"Tidak ada apa-apa, aku hanya bercanda." ujar Reyhan, ia tertawa pelan.
"Kau mengerjaiku?" Amora mendelik seraya bertolak pinggang.
"Aku tidak mnegerjaimu. Memang ada sesuatu di wajahmu."
"Apa? di mana? jangan coba-coba membohongiku!" ancam Amora. Jari telunjuknya ia todongkan pada Reyhan yang tak berhenti tersenyum.
"Kenapa kau tersenyum?"
"Tidak boleh?"
"Tidak." Amora menggeleng tegas.
"Lalu apa yang boleh?" Reyhan maju selangkah, mengikis jarak di antara Keduanya.
"Kau mau apa?" Amora panik. Ia mundur ke belakang, tapi di cegah oleh Reyhan. Tangan pria itu berada di pinggang Amora, menariknya sedikit sehingga merapat ke tubuhnya.
"Reyhan, kau mau apa?" lirih Amora. Jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya.
"Aku?" tanya Reyhan mengangkat sebelah alisnya. Amora hanya bisa mengangguk tanpa bisa berkata apa-apa. Ia terlalu gugup dan takut. Reyhan menatap Amora dengan sayu, pandangannya berkabut.
"Aku mau kamu. Cuma kamu." bisik Reyhan di telinga Amora sehingga membuat semua bulu kuduk wanita itu meremang menimbulkan gelanyar aneh.
"Reyhan, jangan macam-macam."
"Aku cuma mau satu macam." Reyhan tersenyum miring. Entah mengapa ia menjadi lebih berani sekarang. Ciuman di mobil tadi masih sangat terasa baginya, membuatnya ingin mengulang kembali. Bibir manis Amora membuatnya candu, membuatnya ingin lagi dan lagi.
"A-apa?" Amora menarik wajahnya yang nyaris tanpa jarak. Tapi ia tak bisa pergi kemana-mana karena Reyhan menguncinya di antara pagar pembatas Balkon.
Pria itu semakin mendekatkan wajahnya pada Amora, mengikis jarak di antara keduanya. Bibir keduanya bertemu, semula Amora menolak tetapi Reyhan mengunci pergerakan wanita itu. Ia menyesap bibir itu perlahan, di sertai gigitan lembut sehingga membuat Amora terbuai. Semakin lama ia semakin menikmati permainan bibir Reyhan sehingga ia membuka mulutnya, memberikan celah bagi Reyhan untuk masuk mengeksplor lidah serta mulut Amora. Keduanya saling menikmati, bahkan Reyhan menekan tengkuk Amora untuk memperdalam ciuman keduanya.
Bibir Amora terasa sangat manis, sehingga Reyhan tidak ingin melepaskan bibir itu meski hanya sebentar. Keduanya sama terhanyut, Amora mencengkeram baju yang Reyhan kenakan. Reyhan melepaskan ciumannya, menyatukan kening mereka di sela napas yang tersengal.
"Bibirmu sangat manis, sehingga membuatku kecanduan. Bibirmu sangat candu." lirih Reyhan di telinga Amora. Keduanya masih berpandangan, entah siapa yang memulai sehingga kedua bibir yang sempat terpisah itu kini kembali menyatu. Lebih agresif penuh hasrat dan bergairah. Tanpa mereka sadari, ada dua pasang mata yang mengintip sejak tadi di balik pintu kamar yang terbuka.
"Lihat mbok, sebentar lagi rumah ini akan di penuhi tangisan bayi. Aku akan jadi nenek, mbok."
๐๐๐
Hai zheyeng ๐
Aduh bikin deg-degan nggak nih๐๐
Pasangan mana pasangan๐คฃ
Yang jomblo, maaf yak. Skip aja dulu, kasian ntar malah nelangsa๐คฃโ๏ธโ๏ธ
Maaf bercanda๐๐
Jangan lupa like, komentar, hadiah plus votenya yak. Hehehe.
Biar Author makin semangat.
Terimakasih all
I love you so much ๐