Suami Sementara

Suami Sementara
Ingin memakanmu


"Ayo ceritakan. Lama-lama aku bisa mati penasaran sungguhan jika kau tidak menceritakan semuanya." ujar Amora yang siap mendengarkan kronologi kejadian kemarin.


"Baiklah tuan putri, dengarkan baik-baik."


kata Reyhan dengan wajah serius. Amora hanya mengangguk antusias.


"Saat Farhan menodongkan senjata api kepadamu, saat itulah team kepolisian datang. Mereka sengaja menembak tangan kanan Farhan yang sebentar lagi akan menarik pelatuknya. Untunglah, aku sangat bersyukur ada keajaiban datang dan tepat waktu. Yah meski harus berdarah-darah terlebih dulu," kata Reyhan dengan kekehan kecil di ujung ceritanya.


"Apa kau tahu? Aku kira saat itu aku sudah mati kena tembak. Tapi ternyata aku masih hidup dan terbangun dengan kepala yang sangat sakit dan teramat berat."


"Kau tidak tahu, honey? Betapa aku sangat mengkhawatirkan kamu. Aku juga mengira dirimu kena tembak. Aku pikir semuanya akan berakhir dengan kehilanganmu selamanya. Untung polisi itu tepat sasaran. Jika meleset sedikit saja, maka akan aku bunuh semua polisi itu." ucap Reyhan dengan geram. Ia tidak akan membiarkan polisi itu hidup dengan tenang jika benar tembakannya meleset dan mengenai istri yang sangat di cintainya.


"Tenanglah, Rey. Aku baik-baik saja sekarang. Aku masih hidup dan sehat tanpa kurang suatu apapun." Amora meremas jemari suaminya. Pria itu membalasnya dengan menggenggam lebih erat jemari lentik wanita itu membawanya ke depan bibir lalu mengecupnya lembut.


"Aku sangat mencintaimu, sayang. Entah apa jadinya jika aku kehilangan kamu. Baru membayangkannya saja sudah membuat dadaku sesak dan terasa sakit." Reyhan mencebik. Sungguh ia tak pernah sanggup sekalipun hanya sekedar membayangkan hal mengerikan itu akan terjadi.


"Aku juga mencintaimu, Rey." balas Amora dengan senyum hangat. Keduanya saling tatap dengan penuh cinta, entah siapa yang memulai terlebih dulu hingga kedua bibir itu saling menyatu. Saling menyesap rasa manis, saling menyalurkan kerinduan yang terpendam serta rasa cinta yang meluap. Tak lagi berharap tapi saling mendekap dan menatap.


Keduanya menutup mata menikmati ciuman yang awalnya biasa, menjadi ciuman yang semakin menuntut. Reyhan menekan tengkuk leher Amora untuk memperdalam ciuman. Keduanya larut dan mereguk manisnya cinta bersama, tautan bibir keduanya terlepas ketika Reyhan dan Amora hampir kehabisan napas. Keduanya terengah dengan kening yang bertemu. Menghirup oksigen yang sama, mengatur napas yang masih terengah.


"Apa kamu sudah sembuh sayang?" lirih Reyhan seraya memejamkan matanya.


"Ummm mengapa kau bertanya seperti itu?" tanya Amora curiga.


"Entahlah," jawab Reyhan asal. Amora menarik diri, menatap pria yang ada di hadapannya dengan penuh selidik. Sebelah matanya menyipit penuh rasa curiga.


"Katakan. Kau mau apa? Apa yang akan kau lakukan?" todong wanita itu.


"Aku lapar." jawab Reyhan dengan senyum misterius.


"Apa kamu mau?"


"Tidak! Aku tidak lapar."


"Bukan itu maksudku, sayang." rajuk Reyhan seraya memanyunkan bibirnya beberapa senti. Mata wanita itu kembali menyipit, menatap suaminya dengan bingung.


"Jadi maksud kamu apa? Jika kamu lapar, ya makan dong."


"Bukan lapar itu,"


"Lapar apa? Jangan bercanda. Aku sedang malas bercanda."


"Siapa yang bercanda? Aku juga serius, asal kau tahu."


"Ya sudah. Katakan! Jangan berbelit-belit." kata Amora tidak sabar.


"Aku lapar." ucap Reyhan lagi.


Amora tak segan-segan memutar bola matanya kesal. Jika di perbolehkan, maka ingin sekali dirinya mencekik pria yang ada di hadapannya ini.


"Kau sudah mengatakannya ribuan kali, Reyhan!"


"Benarkah?" tanya Reyhan dengan bingung. Rasanya ia belum sampai seribu mengatakan hal itu. Sementara wanita cantik yang ada di hadapannya hanya mengangguk membenarkan.


"Aku ingin memakan kamu." bisik Reyhan di telinga istrinya. Sontak saja hal itu membuat Amora mendelik.


"Dasar mesum!" wanita itu memukul pelan lengan suaminya seraya tersenyum malu.