Suami Sementara

Suami Sementara
Sama-sama mesum


"A-apa?" Amora tak kuasa untuk tidak melotot sementara Reyhan penuh dengan seringai kemenangan.


"Ayolah. Aku sangat merindukanmu. Kamu membuatku candu." Reyhan menghirup lamat-lamat aroma tubuh Amora yang selalu membuatnya candu.


"Rey, kamu masih sakit." tolak Amora seraya menjauhkan tubuhnya. Ingin berdiri dan melarikan diri, tapi pelukan Reyhan sangat erat. Membelit tubuhnya serta menempel seperti gurita.


"Apa kamu tidak merindukan ku Beibeh?" rajuk Reyhan dengan wajah cemberut. Kepalanya kini tegap mengarah pada istrinya dengan jarak hanya beberapa senti.


"Ya ampun Rey. Jangan memanggilku begitu."


"Kenapa? Apakah kamu tersanjung beibeh?" goda Reyhan seraya mengangkat sebelah alisnya.


"Mana ada tersanjung! Yang ada aku geli." wajah yang semula full senyum itu kini cemberut.


"Aku kan pengen romantis-romantisan sama kamu sayang." pria itu kembali menyurukkan kepalanya ke pundak istrinya. Mengendus kembali aroma tubuh yang menenangkan baginya.


"Tapi manggilnya jangan beibeh juga, Rey. Geli tau."


"Iya sayang iya."


"Kamu mau sampai kapan begini, Rey?"


"Aku tidak mau seperti ini."


"Lalu?"


"Aku ingin lebih." bisiknya mesra.


"Hah? Lebih apa maksudnya?"


"Ya lebih dari ini, sayang."


"Astaga. Dasar mesum!" Amora mencubit pinggang suaminya dengan gemas.


"Sakit atuh yang. Tega banget deh." pria itu mengusap pinggang kirinya yang terkena sasaran Amora.


"Biarin. Makanya siapa suruh kamu mesum."


"Mesum sama istri sendiri kan tidak apa-apa sayang. Kalau sama istri orang baru bahaya."


"Berani kamu mesum sama istri orang?" Amora melotot.


"Bukan begitu ih."


"Terus gimana?"


"Ya aku tidak akan pernah mesum sama istri orang. Aku itu cuma berani mesum sama istri sendiri dan itu kamu."


Amora menatap suaminya dengan penuh selidik.


"Awas aja kalau kamu berani mesum sama istri orang. Ku potong punya kamu." Amora mendelik.


"Astaga. Abis dong." sontak saja pria itu bergidik ngeri membayangkan hal mengerikan yang benar-benar akan terjadi.


"Nah makanya! Awas kalau berani macam-macam. Akan ku potong menjadi beberapa bagian." ancam wanita itu dengan wajah serius. Reyhan hanya menggeleng dengan takut. Tak di sangka istri imutnya ini bisa berubah menjadi galak layaknya singa betina.


"Ingat itu baik-baik!" peringat Amora. Reyhan hanya bisa mengangguk takut.


"Serem kamu yang." cicit Reyhan.


"Baru tau?"


Reyhan mengangguk pelan.


"Awas aja kamu!" sekali lagi ia memperingatkan.


Reyhan tersenyum, kemudian memeluk wanita itu lebih erat. Meraih jemari istrinya yang lentik lalu meremasnya. Dagunya ia letakkan di bahu sang istri.


"Bagaimana mungkin aku butuh cinta yang lain jika cintamu sudah lebih dari cukup untukku. Sudah sejak lama aku menantikan semua ini. Memilikimu adalah hal yang paling mustahil bagiku. Apalagi setelah kamu menikah dengan sepupuku sendiri. Aku hanya bisa melihatmu dari jauh tanpa bisa merengkuhmu. Aku hanya bisa mendo'akan kebahagiaan mu meski aku harus mati-matian mengubur dalam-dalam perasaan ku. Tapi sekuat apapun aku berusaha membunuh perasaan ini, sekuat itu pula rasa itu tumbuh. Aku tidak bisa melupakan semua rasa yang sudah ada sedari dulu. Ketika aku mulai pasrah, Tuhan malah memberikan jalan untuk kita bersama." Reyhan mengulas senyum tulus. Senyum yang terbingkai indah di wajah tampan miliknya. Tatapannya menerawang jauh ke depan, mengingat bagaimana perasaannya dulu.


"Aku tidak tahu harus sedih atau bahagia ketika kalian berpisah dan Farhan memintaku untuk menjadi suami sementara untukmu. Aku tidak tega ketika ia selalu menyakiti kamu. Aku tidak tega setiap kali kamu merasakan sakit akibat perbuatannya. Aku tidak pernah rela setiap tetes air mata kamu yang jatuh. Aku tidak akan pernah rela. Dan sampai saat ini, perasaan ini akan tetap selalu sama dan tidak akan pernah berubah. Selamanya, hatiku akan tetap menjadi milikmu."


"Jika pun nanti suatu saat kamu pergi dariku, maka semua kesalahan ada padaku."


Amora tidak bisa berkata apa-apa lagi dengan luapan cinta Reyhan. Ia merasa terharu sekaligus sedih dengan semua perasaannya. Tak terasa bulir bening itu turun begitu saja. Tak pernah ia merasa di cintai dengan begitu sangat oleh seorang pria. Pria yang tak pernah terbayangkan sebelumnya oleh dirinya. Pria yang hanya ia anggap teman biasa rupanya memiliki cinta yang begitu besar untuknya.


"Terimakasih, Rey. Terimakasih sudah mencintaiku begitu dalam. Terimakasih atas semuanya." lirihnya dengan tenggorokan tercekat. Ia tidak habis pikir dengan cinta pria ini. Bagaimana mungkin rasa itu tidak berubah sama sekali setelah sekian lama. Bahkan nyaris tak ada harapan dan cela sedikit pun karena ia pernah menikah dengan orang lain. Bagaimana mungkin ia teguh dengan cintanya sementara kecil kemungkinan bisa memiliki.


"Bagaimana bisa kau begitu tulus padaku?"


Hening sebentar. Hanya terdengar helaan napas dari keduanya. Merasakan perasaan masing-masing dengan rasa bahagia yang menyebar ke seluruh sudut hati.


"Aku tidak tahu. Aku hanya mencintaimu dengan tulus tanpa balasan apapun. Cinta itu tidak bisa di paksa karena tidak akan baik pada akhirnya. Aku mencintaimu meski kamu tidak mencintaiku. Bohong jika aku tidak berharap. Tapi aku lebih menaruh harapan pada yang memberi rasa. Tidak perlu merayu pada orangnya, tapi merayu sang pemilik hidup. Dan benar bukan? Ketika kita berharap hanya kepada sang pemilik, maka kita tidak akan pernah kecewa. Karena sebaik-baiknya menaruh harapan, hanya kepada sang pemilik kehidupan. Aku tidak hanya memiliki ragamu, tapi juga hatimu."


Amora menoleh kepada suaminya, menatapnya penuh keharuan dan rasa cinta yang semakin meluap.


"Hey, kenapa kamu menangis?" Reyhan merenggangkan pelukannya, jemarinya terulur menghapus jejak air mata yang ada di wajah orang yang sangat di cintainya. Amora hanya menggelengkan kepalanya, ia tidak bisa berkata apapun. Dengan cepat, ia memeluk Reyhan dengan erat. Lalu sesenggukan di bahu suaminya.


"Ssst ... jangan menangis," lirihnya sembari mengusap lembut punggung sang istri.


"Kamu kenapa? terharu? Kamu baru tahu kalo suamimu ini selain menyebalkan ternyata juga puitis sekaligus romantis?" ledeknya sehingga membuat Amora memukul pelan punggung pria itu. Reyhan hanya terkekeh.


"Jangan menangis terus. Awas saja kalau sampai membuang ingus di bajuku. Ini baju mahal, nanti nodanya susah hilang." candanya yang membuat Amora semakin kesal.


"Dasar menyebalkan!"


"Tapi kamu cinta, 'kan?"


"Tidak." elak Amora.


"Tidak salah lagi."


"Apa sih."


"Jangan malu-malu monyet."


"Kucing! bukan monyet." protes Amora masih sambil memeluk suaminya.


"Eh salah ya. Iya deh kucing."


Amora hanya diam tak menyahut. Sesekali terdengar suara tangis yang jarang.


"Sudahlah jangan menangis. Ah kamu ini. Gagalkan mau anu."


"Anu apa?" Amora melepaskan pelukannya dan melotot menatap Reyhan.


"Itu loh yang. Anu."


"Anu apa hah? dasar mesum!"


"Ish akunya mau mandi. Memang kamu pikir apa?"


"Alasan."


"Dasar mesum." tuding Reyhan.


"Kamu tuh mesum."


"Kamulah! Kenapa aku?"


"Dasar mesum!"


"Ya sudah, kita sama-sama mesum." kekeh Reyhan dan di sambut dengan pelototan menyeramkan dari Amora.