Suami Sementara

Suami Sementara
Istri bos


Happy reading zheyeng 😘


_____________________________


Amora kembali bersama rekannya ke kantor, mereka bersenda gurau bersama beriringan dengan membawa segelas kopi di tangan masing-masing.


"Amora, bagaimana kalau malam minggu kita keluar?" tanya Evan setelah Dewi dan Rizky berjalan terlebih dulu.


Amora menoleh pada Evan sebentar, lalu tertawa ringan.


"Kamu ini seperti ABG saja! aku lebih memilih di rumah untuk istirahat."


"Kau tidak mau pergi bersamaku?" Amora menggeleng pelan.


"Nonton ke bioskop, atau sekedar makan malam?"


Amora kembali menggeleng.


"Maaf Evan, aku tidak bisa." ucap Amora dengan raut wajah menyesal.


"Baiklah, aku tidak memaksa." ujar Evan lemah. Ia pasrah, tidak mungkin memaksakan kehendak.


"Sekali lagi aku minta maaf." ucap Amora merasa tidak enak. Evan mengangguk.


"Aku mengerti. Tidak apa-apa, mungkin lain kali kau mau keluar denganku." Evan memaksakan senyum.


"Aku sedang tidak ingin keluar, pekerjaan di kantor akhir-akhir ini cukup menguras tenaga dan pikiran. Jadi ku rasa menghabiskan malam Minggu dan hari Minggu dengan tidur atau bermalas-malasan akan memulihkan mood nanti di hari Senin."


Evan mengangguk mengerti.


"Ya, aku mengerti. Terlebih lagi kamu baru saja menguasai pekerjaan baru kamu dan baru saja menyesuaikan. Jadi wajar sih, kamu pasti agak tertekan."


Amora mengangguk mengiyakan.


"Begitulah kira-kira." kata Amora seraya tersenyum.


"Eh bukan karena kamu malu aku bonceng pake motor butut, kan?" Evan berhenti berjalan melihat Amora dengan serius. Mau tak mau Amora juga ikut berhenti menatap Evan.


"Apa sih! mana mungkin begitu."


"Siapa tahu kamu malu naik motor butut milikku."


"Mana ada begitu. Aku hanya ingin beristirahat di rumah, mungkin lain kali saja ya."


Evan kembali mengangguk.


Keduanya pun kembali melanjutkan langkah mereka yang sempat terhenti. Berjalan beriringan di iringi tatapan cemburu dari beberapa rekan karyawan lainnya. Sedangkan Dewi dan Rizky tidak tampak lagi batang hidungnya.


"Amora," Amora dan Evan berhenti, menoleh ke arah sumber suara. Wanita itu berjalan anggun dengan hak tinggi yang mengetuk lantai dengan berirama. Rambut lurus panjang wanita itu tergerai dengan kacamata yang melekat membingkai wajahnya yang oval. Memakai dress ketat berwarna soft sebatas lutut yang sangat pas di tubuh wanita itu.


"Bu Lily." sapa Amora sembari tersenyum. Ia mengangguk sebentar lalu kembali berdiri tegak ketika wanita yang bernama Lily itu sampai di tempatnya.


"Kamu kok tidak ikut suami saya ke luar kota?" tanya wanita itu heran, ia melepaskan kacamata hitam yang ia pakai. Amora dan Evan saling berpandangan sebentar.


"Maaf Bu, saya sudah tidak menjadi sekretaris Pak Pram. Saya sudah di pindahkan ke bagian lain." ucap Amora dengan sopan.


"Apa? di pindahkan?" wanita itu terkejut.


Amora mengangguk membenarkan. Istri dari bos mesum berkepala botak itu mengulurkan tangannya meraih ID card yang tergantung di leher Amora.


"Marketing?" tanyanya terkejut. Amora kembali mengangguk.


"Kenapa suami saya tidak pernah mengatakan tentang hal ini pada saya?"


"Kamu itu sekretaris terbaik yang kami miliki. Bekerja selama bertahun-tahun dengan suami saya dan saya sangat suka perkejaan kamu. Lalu, apa ini? kenapa tiba-tiba kamu di pindahkan ke bagian marketing?" Wanita itu tak habis pikir. Wajahnya sangat terkejut dan tidak setuju akan apa yang ia temukan hari ini. Niatnya ingin mengecek kantor hari ini, makanya ia datang selagi suaminya pergi.


"Siapa sektretaris pengganti yang menggantikan kamu?" Amora melirik Evan sebentar, lalu di balas dengan anggukan dan kedipan oleh pria itu. Amora kembali melihat Bu Lily yang menunggu jawaban Amora.


"Sania, Bu." jawab Amora.


"Apa? Sania? kok saya baru dengar nama itu di kantor ini?"


" Sebelumnya Sania merupakan salah satu Office girl di kantor ini, Bu." Evan yang menjawab.


"Apa? office girl?" Evan dan Amora mengangguk. Beberapa karyawan yang lewat tak berani menyapa bos mereka yang terlihat sedang marah itu.


"Bisa-bisanya seorang office girl menggantikan posisi kamu yang sudah bertahun-tahun!" wanita itu mengeram marah.


" Pasti ada yang tidak beres. Aku harus menyelidikinya!" ujar Bu Lily. Ia kembali mengenakan kacamata hitamnya dan berjalan menuju lift untuk naik ke atas. Dagunya terangkat, berjalan berlenggak-lenggok bak model papan atas. Wanita itu menuju ruangan suaminya menjadi tujuan utama saat ini. Sedangkan Amora dan Evan hanya saling pandang.


"Sepertinya dunia perkantoran kita sebentar lagi akan di guncang musibah."


"Bisa jadi." Amora mengangguk mengiyakan. Keduanya menatap kepergian istri bos yang di kuasai amarah itu dengan tatapan tak menentu.


🍀🍀🍀


Halo zheyeng 😘


Mohon dukungannya yah.


Like dan komentar jangan sampai lupa, makasih 😘