
Mencintaimu adalah hal terbaik dalam hidupku
Memilikimu tak pernah terbayangkan sebelumnya
Dan bersamamu adalah hal yang paling ku inginkan seumur hidupku
❤️❤️
Jemari lentik itu bergerak menyusuri wajah tampan yang ada di hadapannya. Netra pria itu masih terlelap dengan dengkuran halus yang membuat ritme jantungnya tak beraturan. Alis tebal dengan bulu mata yang lentik, hidung mancung serta pahatan wajah yang sempurna. Ia merasa makhluk di hadapannya ini titisan dewa Yunani. Begitu sempurna tak ada celah sedikitpun.
Wajah wanita itu kini memerah karena sekelebat bayangan tadi malam kembali terbayang di ingatan. Menghabiskan malam panas berdua, bahkan saat ini tubuh polos keduanya hanya di bungkus dengan selimut.
Ia baru menyadari jika sepanjang malam setelah menghabiskan waktu bersama, keduanya jatuh tertidur setelah merasa kelelahan.
Amora sekali lagi menelusuri wajah pria yang ada di hadapannya, dengan wajah yang masih bersemu.
"Kenapa kamu begitu sempurna? dan aku baru menyadarinya sekarang," gumam Amora seraya tersenyum tipis.
"I love you." bisiknya lembut.
"I love you more my wife." balas Reyhan dengan suara serak khas bangun tidur. Sontak saja balasan Reyhan membuat Amora tersentak. Jemari yang semula bergerak di wajah pria itu terhenti di sertai mata yang membola. Tenggorokannya tercekat, dengan susah payah ia meneguk ludah.
"K-kau su-sudah bangun?" cicitnya.
"Bagaimana aku bisa tidur jika ada yang menggerayangi tubuhku?" sudut bibir pria itu terangkat.
"A-apa? si-siapa yang menggerayangi tubuhmu?"
"Ah entahlah. Mungkin dia baru menyadari jika pria menyebalkan ini begitu tampan." Reyhan mengerlingkan mata nakal pada Amora.
"Dasar narsis. Tampan dari mananya?" Amora menoyor kepala pria itu dengan geram.
"Apa kau tidak mau mengakuinya?"
"Iya, iya kamu tampan. Sangat tampan," ucap Amora dengan bibir yang mencebik.
"Kalau di lihat dari atas Monas." imbuhnya seraya menjauhkan tubuh, tapi langsung di tangkap oleh Reyhan bahkan membuat kedua tubuh polos itu bertemu.
"Reyhan ...!" pekik Amora kaget.
"Iya, sayang." jawab Reyhan seraya tersenyum manis. Menggoda sang istri yang kaget bukan main. Seringai licik tersemat di wajah pria itu. Dengan sekali hentakan, posisi Amora sudah berada di atasnya.
"A-apa yang kau lakukan?" protes Amora dan memberontak ingin turun. Tapi tangan kekar pria itu membuat usaha yang di lakukan Amora hanya sia-sia.
"Rey, lepaskan. Aku ingin mandi."
"Kenapa wajahmu terlihat berkali-kali lipat lebih cantik saat tidur?" mengabaikan ucapan sang istri dan malah mengamati wajah yang kini tersenyum malu yang ada di atasnya.
"Jangan gombal. Itu bukan dirimu."
"Suamimu ini tidak gombal sayang. Kamu terlihat sangat cantik dan ...." ia menggantung kalimatnya.
"Apa? jangan bilang aku gendut!" Amora melotot dengan tangan yang berada di dada telanjang pria itu.
"Seksi ...." bisik Reyhan mesra.
Blush....
Wajah cantik itu semakin bersemu. Amora memalingkan wajah karena malu. Rambut panjang miliknya terurai menutupi wajahnya, sehingga satu tangan Reyhan terulur untuk menyelipkan ke belakang telinga.
"Sayang ...."
"Kenapa terasa geli ketika kamu memanggilku dengan sebutan 'sayang'?" ujar wanita itu seraya menoleh. Reyhan terkekeh, netranya tetap menatap lekat pada wajah ayu yang polos tanpa polesan make up.
"Nanti juga kau akan terbiasa dan akan marah
jika aku hanya memanggil namamu."
"Mana mungkin aku begitu."
"Mungkin saja istriku sayang. Lihat saja nanti, aku akan membuatmu kecanduan di panggil sayang olehku."
"Tidak akan mungkin."
"Mungkin saja."
"Mimpi kamu. Lepaskan! aku ingin mandi." Amora memberontak.
"Tidak."
"Ayolah Rey."
"Kau mau aku lepaskan?" tanya Reyhan dengan alis yang terangkat. Sementara Amora hanya mengangguk dalam dekapannya.
"Apa? jangan macam-macam." Amora mendelik.
"Hanya satu macam." ujar Reyhan dengan tersenyum.
Belum sempat Amora melayangkan protes, kini posisi keduanya sudah terbalik. Reyhan dengan cepat memerangkap wanita itu dengan tubuhnya. Membungkam bibir wanita itu dengan bibirnya.
"Aku ingin sekali lagi," ucap Reyhan di sela ciumannya. Amora tak bisa menolak, cumbuan pria itu membiusnya. Pikirannya ingin menolak dan segera bangun, tapi tubuhnya berkhianat. Tubuhnya menerima segala sentuhan pria itu dan menikmatinya serta menginginkan lebih. Lagi, kamar itu menjadi saksi bisu antara dua insan manusia yang sedang di landa cinta yang penuh kehangatan.
***
"Sayang ... kemeja kerjaku di mana?" tanya Reyhan pada istrinya.
"Di lemari, Rey." sahut Amora dari arah dapur.
"Tidak ada. Aku tidak menemukannya." teriak Reyhan.
Amora yang sedang menyiapkan sarapan pun terpaksa meninggalkan pekerjaannya dan menyusul Reyhan ke kamar. Ia mendapati suaminya sedang kebingungan.
"Ini apa?" Amora mengangkat satu kemeja panjang berwarna navy di tangan kanannya.
"Ah kau menemukannya? di mana?" pria itu menghampiri istrinya.
"Di lemari." jawab Amora singkat.
"Ah benarkah? kenapa aku tidak menemukannya?"
"Karena kamu mencarinya di lemari yang lain, bukan lemari ini." Amora menunjuk sebuah lemari berwarna putih yang berada tak jauh darinya.
"Aku kira di lemari satunya."
"Ayo cepat pakai. Nanti kamu terlambat." Amora membantu pria itu mengenakan kemeja pilihannya. Kemeja itu membungkus tubuh atletis suaminya dengan sempurna, kini Amora meraih sebuah dasi berwarna putih bergaris navy lalu mengenakannya di leher pria itu. Membuat Reyhan tersenyum, diam-diam bersyukur karena memiliki istri sebaik Amora.
Cup
Sebuah ciuman mendarat di pipi kiri wanita itu.
"Rey?"
"Iya sayang. Kenapa? mau lagi?" godanya seraya mengedipkan mata.
"Astaga. Nanti bisa-bisa kau tidak ke kantor." Amora membalikkan tubuh, berniat menuju dapur kembali. Tapi baru satu langkah, ia merasakan pelukan dari belakang.
"Apa kau mau seharian ini di rumah saja bersamamu? mengulang kembali yang semalam?"
"Ya ampun Rey, kau ini benar-benar ya."
"Benar-benar tampan?" tanya Reyhan tersenyum.
"Benar-benar gila." sahut Amora seraya menepuk lengan yang tengah melingkari tubuhnya. Pria itu hanya terkekeh, mencuri ciuman sekali lagi.
"Iya, aku gila karena mu." ucapnya.
"Haish ayo kita sarapan. Nanti kamu bisa terlambat." melepaskan tubuhnya dari rengkuhan suaminya.
"Aku tidak usah ke kantor ya? aku ingin di rumah saja bersamamu." ucap pria itu seraya memasang wajah cemberut. Membuat Amora berbalik dan mendelik.
"Astaga. Kau sudah di tunggu client! mana boleh di rumah saja!"
"Kan kita pengantin baru sayang. Seharusnya aku ambil cuti kemarin."
"Selesaikan dulu pekerjaanmu,"
"Apakah setelah itu kita pergi bulan madu?" tanya Reyhan dengan mata berbinar. Amora hanya mengangguk menanggapi. Reyhan meloncat kegirangan seperti anak kecil yang di janjikan akan di belikan mainan sehingga membuat Amora hanya tersenyum seraya menggelengkan kepala.
"Ya ampun kau seperti anak kecil saja." ujar Amora menahan tawa.
"Aku akan selalu menjadi anak kecil ketika bersamamu, sayang. Jadi kau harus selalu menuruti kemauanku, supaya aku tidak menangis." ujar pria itu meraih jemari istrinya dan menggenggamnya menuju ke ruang makan bersama. Sementara Amora hanya tertawa seraya menggelengkan kepalanya.
❤️❤️❤️
Hayo pada senyum-senyum yah🤭
Awas ntar di katain orgil Loh.
Hehe...
Makasih buat kalian yg selalu setia nungguin kelanjutan Amora dan Reyhan. Maaf author Kadang ilang-ilangan karena lagi ada masalah di RL. Kalian adalah semangat buat author buat lanjutin cerita ini. Jangan lelah nungguin author up ya, karena sebisa mungkin author bakal lanjutin kisah ini sampe tamat. In sya Allah do'ain aja.
Author sayang kalian semua😘😘
Jaga kesehatan dan tetap bahagia ya.