
Happy reading zheyeng 😘
_______________________________
Setelah menunaikan ibadah Sholat subuh, Reyhan membuat segelas susu hangat untuk Amora dan segelas kopi untuk dirinya sendiri. Ia berjalan menuju meja makan, meraih roti dan mengoleskan selai coklat yang ada di hadapannya. Amora keluar dengan penampilan yang rapi, rok hitam sebatas lutut dan kemeja berlengan panjang berwarna milo. Rambutnya di ikat ke atas, menampakkan lehernya yang putih mulus membuat Reyhan terpana. Tangannya yang semula mengoleskan selai pada roti terhenti. Pandangannya jatuh pada wajah Amora yang terlihat sangat cantik.
"Aku harus ke kantor." kata Amora. Ia berusaha menghindari Reyhan karena kejadian tadi pagi membuatnya malu. Ia tidak mau terlalu lama berhadapan dengan pria itu.
"Eh, sarapan dulu." ujar Reyhan tersadar. Ia berdiri, meletakkan roti yang di pegangnya dan memberikan segelas susu hangat pada wanita itu. Amora mengurungkan niatnya untuk pergi, ia melihat wajah tulus Reyhan dan segelas susu yang ada dalam genggaman pria itu.
"Kau Membuatkan aku susu?" tanya Amora heran. Reyhan mengangguk.
"Kau tidak suka?"
"Aku tidak terlalu suka susu. Tapi karena kau telah susah payah membuatkan untukku, maka aku akan meminumnya." kini, gelas susu itu berpindah tangan. Amora meminumnya hingga habis membuat Reyhan tersenyum senang.
"Terima kasih." Amora meletakkan gelas kosong itu ke atas meja.
"Sarapan dulu." ajak Reyhan.
"Aku sudah terlambat, aku tidak sempat untuk sarapan." tolak Amora. Ia melihat jam berwarna hitam yang melingkar di tangannya.
"Aku antar. Tapi sarapan dulu," ujar Reyhan.
"Pakai motor?"
Reyhan mengangguk.
"Aku pakai rok, Rey." Amora menunjuk rok pendek yang dirinya pakai. Mana mungkin dengan rok sependek ini ia harus di bonceng naik motor.
"Gampang, ganti sana. Pakai celana panjang." ujar Reyhan cuek. Tangannya menarik ikat rambut yang Amora kenakan, membuat rambut berwarna coklat itu tergerai.
"Apa yang kau lakukan?" teriak Amora. Ia memegangi rambutnya yang jatuh menutupi lehernya yang jenjang.
"Kau lebih bagus seperti itu. Jangan mengikat rambutmu terlalu tinggi. Lehermu bisa masuk angin." ia kembali duduk menikmati secangkir kopi hitam dan selembar roti yang telah di olesi dengan selai coklat.
"Leher masuk angin? teori dari mana itu? kau sudah tidak waras?" protes Amora kesal.
"Kau belum tahu saja, mengikat rambut bisa menyebabkan penyakit."
"Penyakit apa?" Amora mendelik. Menurutnya alasan yang di katakan Reyhan sangat tidak masuk akal.
"Penyakit cemburu." gumamnya dalam hati.
"Apa? jangan mengada-ada kamu, Rey." ujar Amora tak terima. Ia sudah menata penampilannya sebaik mungkin, tapi Reyhan malah mengacaukan semuanya.
"Sudahlah, percaya saja. Cepat ganti rok pendekmu itu dengan celana panjang. Kita berangkat sekarang." Reyhan mengunyah roti yang ada di dalam mulutnya dengan santai.
"Kau ...!" Amora mengepalkan tangannya. Baru sehari pria ini sudah banyak mengaturnya.
"Apa?"
"Kau itu benar-benar ya."
"Benar-benar tampan?"
"Cih, mana ada tampan. Kau itu benar-benar menyebalkan!" teriak Amora kesal. Ia kembali ke kamar dengan menghentakkan kakinya dengan kesal. Sementara itu, Reyhan tersenyum gemas.
"Tidak ada yang boleh melihat tubuhmu selain aku." ujarnya pelan. Ia benar-benar tidak rela jika pria lain menatap Amora dengan penuh napsu. Ia cemburu, sangat cemburu. Meski hanya suami sementara, tapi Reyhan tetap suami sah di mata agama. Dimana semua yang berhubungan dengan istri, maka sudah menjadi tanggung jawabnya.
Beberapa menit kemudian Amora keluar dengan celana panjang berwarna hitam dengan high heels berwarna senada. Rambutnya ia biarkan tergerai, membuatnya semakin cantik dan manis. Ah rasanya Reyhan tak rela jika kecantikan Amora di nikmati oleh pria lain. Reyhan terpaku beberapa saat.
"Bisakah kau tidak ke kantor?" pinta Reyhan dengan sendu.
"Apa? kau sudah tidak waras?" tanya Amora tak percaya.
"Aku waras. Justru karena aku waras sehingga tidak membiarkan kecantikan mu di nikmati oleh pria lain." ujar Reyhan dengan jujur.
"Kau gila?"
Reyhan menggelengkan kepalanya.
"Jangan mengaturku ya, kamu itu hanya suami sementara. Jadi jangan bersikap seperti suami sebenarnya. Pernikahan kita hanya berjalan selama tiga bulan. Setelah itu, kita bercerai." ujar Amora kesal. Ia sudah sangat terlambat ke kantor dan sekarang Reyhan melakukan drama yang membuatnya semakin terlambat.
Ucapan Amora secara tak sadar membuat hati Reyhan terluka. Ia bagai tertampar oleh keadaan, rasanya perih bak tertusuk ribuan panah beracun. Rasa sakitnya menjalar ke seluruh tubuh, melumpuhkan ketahanan tubuhnya secara perlahan. Matanya hanya menatap satu titik di lantai yang dingin. Perkataan Amora membuat Reyhan menyadari posisinya saat ini, tak seharusnya ia cemburu dan mengatur apa yang wanita itu kenakan.
"Kau jadi mengantarku atau tidak?" tanya Amora kesal. Reyhan malah diam dan melamun, membuatnya kesal setengah mati.
"Ya sudah kalau begitu. Lain kali jangan menawarkan apapun kalau hanya harapan palsu." kata Amora seraya berlalu. Reyhan mengumpulkan kesadarannya, menariknya dari kubangan rasa sakit yang mendera. Ia melihat pintu yang di banting dengan keras, ia tersadar dan segera berlari meraih kunci motor yang berada di meja ruang tamu. Ia berlari menyusul Amora yang sudah berjalan jauh di depannya dan masuk ke dalam lift.
Reyhan merasa bersalah, ia tidak dapat mengejar Amora ke dalam lift. Hingga akhirnya ia berlari menuju tangga darurat agar cepat sampai ke baseman.
Amora hendak menuju mobilnya ketika motor Reyhan berhenti tepat di depannya. Amora memandangnya dengan kesal.
"Apa?"
"Naiklah." ucap Reyhan tanpa menoleh.
"Aku tidak mau!" tolak Amora.
"Kau bisa terlambat. Naiklah."
"Aku tidak mau. Kau sangat menyebalkan." Amora bersikeras tidak mau naik. Ia tetap berdiri di tempatnya. Tidak berniat sedikit pun untuk ikut bersama pria itu.
"Naik!" Reyhan menarik lengan Amora, membuat Amora terpaksa menaiki motor besar pria itu. Ia memberikan sebuah helm pada Amora, lalu tanpa berkata apa-apa Reyhan langsung tancap gas, membuat Amora menjerit dan refleks memeluk pinggang Reyhan. Reyhan tidak mengatakan satu patah kata pun, ia menjalankan motornya dengan kecepatan tinggi. Menyalip beberapa kendaraan lain tanpa memperdulikan Amora yang menjerit ketakutan.
Setengah jam perjalanan, kini mereka tiba di depan kantor tempat Amora bekerja. Amora memukul punggung Reyhan dengan kesal.
"Kau mau mengajak aku mati? kalau mau mati, mati sana sendiri! jangan mengajakku." teriak Amora seraya mengatur napasnya yang memburu. Ia memegangi dadanya yang naik turun. Ia melepaskan helm yang ia pakai dan memberikannya pada pria yang hanya diam menatap ke depan tanpa mau menoleh ke arah Amora. Ia menerima helm itu lalu pergi tanpa sepatah katapun. Meninggalkan Amora yang terbengong.
"Apa aku melakukan kesalahan? apa ucapanku ada yang salah?" tanya Amora pada diri sendiri. Ia berdiri sebentar, melihat Reyhan yang semakin menjauh. Pria itu melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Ada rasa khawatir menyelimuti hati Amora.
"Ah, terserah. Aku sudah terlambat." Amora memilih mengabaikan sikap Reyhan dan berlari dan masuk ke dalam lift untuk pergi lantai atas dimana ruangannya berada. Sesampainya di sana, ia di kejutkan dengan wanita yang sedang duduk di meja kerjanya. Ia menghentikan langkahnya, berdiri tak jauh dari meja kerjanya yang kini di tempati wanita yang sedang fokus pada beberapa berkas yang ada di hadapannya.
"Kau? Kenapa kau di sini?" tanya Amora kesal.
Wanita itu menoleh lalu tersenyum mengejek.
"Halo, Amora. Perkenalkan, aku sekertaris baru yang akan menggantikanmu." Perkataan wanita itu membuat Amora tercengang dan tak percaya.
"Apa maksudmu?"
🍀🍀🍀
Hayo loh, siapa sekretaris yang tiba-tiba menggantikan posisi Amora?
Jangan lupa like dan komentar ya, biar author Makin semangat.
salam sayang buat kalian semua😘