
Happy reading zheyeng 😘
_________________
Sudah satu bulan Amora bekerja di bagian marketing, ia sangat menikmati pekerjaan barunya. Meski gajinya tak sebesar saat menjadi sekretaris, tapi menjadi marketing tidaklah buruk menurutnya. Mempunyai tim yang kompak dan baik membuatnya betah bekerja di bagian itu.
Seperti biasanya, mereka akan makan siang bersama. Kadang di kantin kadang pula di cafe yang tak jauh dari kantor. Kali ini mereka berlima memutuskan untuk makan di cafe yang terletak tak jauh dari kantor, bahkan dengan berjalan kaki sebentar akan sampai di cafe yg ramai oleh pengunjung tersebut.
Duduk memutari meja persegi panjang dengan berbagai menu di atasnya. Mereka menyantap makan siang sesuai pesanan masing-masing.
"Makanlah." Evan memberikan kulit ayam miliknya pada Amora. Membuat Amora mendongak, begitu pun dengan teman yang lainnya. Mereka saling lirik, membuat Amora tidak enak.
"Kenapa di berikan kepadaku?" tanya Amora menatap Evan.
"Aku tidak terlalu suka, makanlah." ucap Evan, ia mengunyah ayam goreng crispy yang miliknya.
"Bukannya kamu sangat menyukai kulit ayam?" protes Tiara, membuat mereka yang ada di sana menatap Evan dengan heran.
"Aku tidak suka." ucap Evan tanpa menoleh.
"Evan, jangan bohong." tuding Tiara kesal. Ia sangat mengetahui bahwa pria itu sangat menyukai kulit ayam. Tapi kenapa sekarang ia pura-pura tidak suka hanya karena ingin memberikan pada Amora? ia benar-benar tidak habis pikir. Dulu, ia tidak akan memberikan kulit ayam miliknya jika Tiara meminta. Tapi dengan Amora, tak perlu di minta Evan akan memberikannya dengan suka rela. Ia meremas sendok dan garpu yang ada dalam genggamannya. Menatap Evan dan Amora dengan geram dan kesal. Ia cemburu.
"Kau benar-benar tidak menyukai kulit ayam?" tanya Amora pelan kepada Evan yang duduk di sampingnya. Ia melirik pria yang sedang fokus menyantap makan siang itu. Evan mengangguk, lalu tersenyum manis.
"Makanlah. Jangan merasa tidak enak, abaikan tatapan iri mereka." ucap Evan seraya melirik rekannya yang lain.
"Ya, anggap saja kami patung. Jatuh cinta emang gitu, dunia serasa milik berdua." sahut Rizky dan di balas anggukan oleh Dewi.
"Ya begitulah. Kita cuma bayangan di sini, lanjutin dah." ujarnya. Ia sempat melirik pada Tiara yang bermuka masam, wanita itu tak menyentuh makanannya sama sekali. Melihat kilat cemburu dan sakit hati yang mendalam dari temannya itu.
"Tiara, kau baik-baik saja?" tanya Dewi khawatir, tapi Tiara hanya diam menatap kedekatan Evan dan Amora yang duduk si seberangnya.
"Tiara." Dewi memanggil sekali lagi, mengibaskan tangannya ke hadapan temannya itu. Setelah beberapa kali, barulah Tiara tersadar. Ia menatap Dewi dan tergagap.
"Eh, iya kenapa?"
"Kamu baik-baik aja kan? kamu sakit?" tanya Dewi dengan sangat hati-hati.
"Ummm ... tidak. Aku tidak sakit, aku baik-baik saja. Hanya tidak berselera makan." jawabnya seraya menutupi perasaannya yang ingin sekali meledak. Api cemburu sudah menyebar hingga membuat hatinya terasa terbakar.
"Apa makanannya tidak enak?" tanya Rizky.
"Tidak. Enak kok, hanya saja aku tiba-tiba tidak berselera. Aku duluan balik ke kantor ya." ucap Dewi seraya berdiri dan mengambil tas. Ia meletakkan beberapa lembar uang kertas lalu berbalik dan pergi. Membuat mereka semua terbengong dan saling lirik.
"Lah kok pergi sih? kan makanannya belum habis?" ujar Dewi bingung. Ia memandangi tubuh Tiara yang semakin menghilang dan mulai menyebrang jalan.
"Biarin aja lah, kita habisin dulu makanannya. Sayang makanan mahal." kata Rizky sambil terkikik dan di balas dengan anggukan setuju oleh Dewi.
"Bener, kamu. Habisin dulu, nanti baru kita susul." Dewi ikut terkekeh. Keduanya kembali menikmati makanan mereka masing-masing.
"Tiara kenapa?" Amora bertanya pada Evan. Entah kenapa ia merasa tidak enak dan merasa bersalah atas kepergian Tiara.
"sudahlah, biarkan saja. Makanlah, sebentar lagi jam kantor akan habis. Makan yang kenyang, biar gemuk." ujar Evan seraya tersenyum.
Amora mengangguk, pikirannya tak lepas dari wanita yang berjalan menjauh di seberang jalan sana. Amora yang perasaannya sangat sensitif itu merasakan ada hal yang tidak enak pada Tiara. Terlebih lagi selama satu bulan ini Amora cukup memperhatikan gestur Tiara pada Evan yang ia yakini wanita itu mempunyai perasaan lebih pada Evan. Ia hanya menduga saja, tak berani jika harus mengatakannya di depan para rekan kerjanya. Karena ia bisa saja salah dalam menilai seseorang, terlebih lagi itu tentang perasaan.
Amora melanjutkan makan dalam diam dengan pikiran yang terus tertuju pada Tiara. Sesekali menanggapi dengan senyuman candaan ketiga rekannya. Ponselnya bergetar, nama Reyhan tertera di layar. Ia segera meraih benda pipih yang ia letakkan di atas meja itu lalu menggeser ikon berwarna hijau dan menempelkan di telinga.
Semua rekannya hanya diam memperhatikan terutama Evan.
"Halo."
"Waalaikumsalam."
"Lagi dimana? kok rame banget?"
"Lagi makan, di cafe depan kantor. Ada apa menghubungiku?"
"Sekedar memastikan, kamu masih napas apa tidak."
"Kalo aku masih bisa angkat telepon, berarti masih napas!" kesal Amora.
"Hehehe, santai Bu. Jangan marah-marah nanti cepat tua."
"Mau apa? cepetan! atau aku matikan teleponnya." ancam Amora.
"Galak banget sih istriku ini."
Amora memutar bola matanya dengan malas.
"Sudah sholat?"
"Belum." sahut Amora.
"Kenapa belum? sesibuk apapun, jangan tinggalkan sholat. Kan cuma lima menit? makan di cafe bisa, masak sholat lima menit tidak bisa?"
"Iya pak ustadz, setelah ini sholat."
"Nah pinter. Kan jadi makin sayang."
"Apa?"
"Tidak, itu makananku jatuh jadi sayang kalau tidak di ambil." jawab Reyhan beralasan.
"Ya sudah, aku matikan ya. Aku belum selesai makan."
"Iya, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Klik.
Sambungan telepon terputus.
Amora menyimpan ponselnya ke dalam tas.
"Siapa?" tanya Evan penasaran.
"Teman." jawab Amora singkat. Evan hanya mengangguk. Mereka pun kembali melanjutkan makan siang yang tertunda dengan pikiran masing-masing.
🍄🍄🍄
Hai zheyeng 😘
Maaf ya malam ini dikit aja, soalnya lagi nggak enak badan. Makasih kalian yang selalu mampir dan dukung karyaku.
Sehat terus ya kalian.
jangan lupa bahagia ❤️