
Di sebuah kontrakan sederhana di sudut Ibukota, seorang pria berdiri di depan pintu yang berwarna coklat. Ia mengetuk beberapa kali seraya mengucapkan salam. Tak ada sahutan dari dalam membuatnya gelisah. Ia beralih pada jendela yang ada di sebelah kanan, mengintip ke dalam berharap bisa menemukan apa yang ia cari tapi hasilnya nihil. Ia tak menemukan siapapun di dalam sana, yang ada hanya kesunyian yang mendominasi sehingga hatinya semakin gelisah tak menentu.
"Sania," panggilnya pelan sembari terus mengintip ke dalam. Tak ada sahutan, wanita yang di panggilnya tidak membuka pintu yang terkunci rapat ataupun menyahuti panggilannya.
"Sania aku tahu kamu ada di dalam, ayo buka pintunya. Aku membawakan kamu bubur." ucapnya seraya melirik pada kantong plastik berwarna putih yang ada dalam genggamannya.
"Sania, ayolah. Jangan membuatku khawatir, cepat buka pintunya!" teriak Evan mulai kesal. Sudah lima bulan Sania berada di sini, di kontrakan yang berada tak jauh dari kontrakan tempatnya tinggal. Selama lima bulan ini, hubungan keduanya semakin dekat dan tanpa keduanya sadari benih-benih asmara mulai tumbuh bermekaran. Gelisah jika sehari saja tak bertemu, Evan akan menyempatkan diri untuk menemui Sania di pagi hari sebelum berangkat ke kantor.
Seperti pagi ini, seperti biasanya ia akan datang seraya membawakan makanan untuk Sania. Tapi hari ini Evan merasakan hal berbeda, jika biasa Sania akan cepat membuka pintu tapi kali ini tidak. Entah apa yang menyebabkan wanita itu begitu lama keluar untuk menemuinya.
"Sania, aku harus pergi ke kantor. Buburnya aku letakkan di atas meja, ya." katanya dengan suara yang agak keras. Ia pun meletakkan bubur yang ia bawa ke atas meja kecil yang ada di teras rumah. Ia menghela napas berat, entah mengapa tidak melihat wajah wanita itu membuatnya risau.
Ia menyeret langkahnya yang berat melewati perkarangan kontrakan yang tak terlalu luas menuju motornya berada. Ia menoleh sekali lagi, berharap sosok wanita yang tanpa ia sadari sudah berada di hatinya itu segera membuka pintu dan menampakkan wajahnya. Seperti yang ia harapkan, sebelum ia menaiki motor butut miliknya pintu berwarna coklat yang tadinya tertutup rapat kini terbuka lebar. Menampakkan sosok wanita yang memakai dress berwarna peach dengan rambut yang di Gelung ke atas serta perut yang membuncit berdiri di sana. Wajah wanita itu terlihat pucat dengan bibir kering, satu tangan wanita itu berada di pinggang.
"Sania, kamu baru bangun?" tanya Evan dengan senyum sumringah. Ia pun mengurungkan niatnya untuk segera berangkat ke kantor, ia berbalik menghampiri Sania yang memaksakan senyum di sela tubuhnya yang lemah.
"Hai Evan," sapa Sania seraya tersenyum.
"Hai, Sania. Apa kau baik-baik saja?" tanya Evan setelah menyadari wajah Sania yang terlihat sangat pucat.
"Yeah, aku baik-baik saja."
"Kau terlihat sangat pucat. Apakah kamu sakit?" tanya Evan setelah berdiri di hadapan wanita itu seraya memegang dahi Sania dan ia merasakan suhu panas pada tubuh wanita itu.
"Kau panas sekali. Kau demam," ujar Evan khawatir.
"Aku hanya sedikit pusing, cuma demam biasa. Nanti juga sembuh kok. Biasalah aku kan lagi hamil," Sania tersenyum menenangkan.
"Biasa apanya? Demam ya demam. Justru karna kamu lagi hamil makanya harus lebih menjaga kesehatan. Aku tidak mau jika kamu kenapa-kenapa."
"Cie, yang khawatir." ejek Sania seraya tersenyum jahil.
"Astaga. Aku hanya tidak ingin nantinya kamu makin merepotkan." elak pria itu seraya memasang wajah kesal. Ia tidak ingin ketahuan jika dirinya benar-benar mengkhawatirkan wanita yang berdiri seraya tersenyum itu.
"Apakah kau yakin dengan ucapan mu itu?" goda Sania seraya mengangkat sebelah alisnya ke atas.
"Yakinlah. Untuk apa aku harus mengkhawatirkan keadaan kamu? Aku hanya tidak mau jika nanti ketika aku kerja kamu merengek meneleponku dan memintaku untuk mengantarkan dirimu ke rumah sakit. Ayo kita kerumah sakit sekarang!"
Ada sekilas kecewa yang hadir di relung hati wanita itu. Senyumnya mendadak surut terganti dengan senyuman miris.
"Yah, tidak seharusnya kamu khawatir. Pergilah! Aku baik-baik saja. Aku tidak ingin merepotkan kamu." Tangannya hendak menutup pintu tapi Evan dengan cepat mencegahnya.
"Hey, kenapa kau mengusirku? Kita harus ke rumah sakit sekarang."
"Untuk apa ke rumah sakit? Aku baik-baik saja. Di bawa tiduran juga nanti baikan." tolaknya dengan wajah masam.
"Kenapa kamu keras kepala sekali? Aku sudah berniat baik ingin mengantarkan kamu. Kenapa malah menolak?"
Sania mengembuskan napas berat. Ia menatap Evan yang juga sedang menatapnya dengan kesal.
"Aku hanya tidak ingin menjadi beban untukmu."
"Beban apanya? Kamu bukan beban!" Sanggah Evan.
"Aku hanya beban. Aku tidak ingin merepotkan kamu. Pergilah! Kamu bisa terlambat pergi ke kantor jika terus berdiri di sini."
Sania tersenyum miris.
"Tidak akan ada yang menyalahkan dirimu meski aku mati sekalipun. Memangnya siapa yang akan menyalahkan kamu? Aku sebatang kara, jadi jika aku mati sekalipun tidak akan ada yang peduli." Wanita itu menatap Evan dengan nanar. Entah kenapa hatinya begitu sesak setelah mendengar apa yang di ucapkan Evan tadi. Mati-matian ia menahan perasaan sedih yang tiba-tiba menyelimuti dirinya. Mengapa ia harus sedih? Apakah ini karena ia sedang hamil sehingga hatinya terlalu sensitif dan mudah sedih.
"Sania, ayo kita ke rumah sakit." bujuk Evan dengan suara pelan. Bahkan kini tangannya meraih jemari lentik milik wanita itu. Sania melirik jemarinya yang di genggam oleh Evan, jantungnya berdesir seketika. Hatinya seolah menghangat, membuat jantungnya bekerja lebih cepat.
"Aku baik-baik saja. Pergilah! Aku tidak ingin jika kamu terlambat pergi ke kantor." Sania melepaskan tautan jemari keduanya sehingga Evan kembali merasakan ke kosongan.
"Jangan begini. Aku tahu kamu sedang tidak baik-baik saja. Aku akan meminta izin pada atasan untuk hari ini." kata Evan.
"Tidak. Jangan lakukan itu. Kau harus tetap bekerja. Jika tidak, bagaimana dengan orang tua dan adikmu? Aku baik-baik saja." ujarnya.
"Sania,"
"Evan, please. Pergilah! Aku baik-baik saja." katanya sekali lagi. Ia berusaha meyakinkan pria yang ada di hadapannya. Pria itu menatapnya dengan sendu dan khawatir.
"Benarkah kamu baik-baik saja?" Evan memastikan sekali lagi.
Sania mengangguk.
"Ya, aku baik-baik saja."
"Makan buburnya yah, terus minum vitamin dan istirahat yang cukup. Setelah pulang dari kantor aku akan kembali lagi kesini." kata Evan seraya menyerahkan bubur ayam yang ia bawa tadi. Sania menerimanya dengan senyum tidak enak.
"Terimakasih, tapi kamu tidak perlu repot-repot."
"Apanya yang repot? Bukankah setiap hari aku membawakan kamu makanan?"
"Ya, aku tahu. Makanya aku merasa tidak enak. Kamu sudah sangat baik, sementara aku?"
"Husst ... Jangan pikirkan apapun. Kasihan dedek bayinya." ia menatap perut Sania yang membuncit.
"Terimakasih sudah begitu perhatian." ujar Sania.
"Tidak masalah. Masuklah,"
"Aku masuk dan kamu berangkat."
"Siap komandan." balas Evan seraya meletakkan tangan kanannya di pelipis membentuk sikap hormat sehingga membuat Sania tersenyum kecil.
"Pergi sana! Aku tidak ingin jika kamu terlambat."
"Ya baiklah nyonya cerewet." Evan pun berbalik. Ia melihat Sania sekali lagi hingga akhirnya ia benar-benar melangkah menuju motornya dan meninggalkan Sania yang berdiri di depan pintu.
Ia baru saja akan masuk ketika merasakan cairan hangat yang keluar dari hidungnya.
"Hah? mimisan lagi?" Sania mengusap hidungnya yang mengeluarkan darah seraya mendongak ke atas.
"Kenapa akhir-akhir ini aku sering mimisan?" tanya dirinya pada diri sendiri.
"Ah, mungkin aku terlalu lelah dan sedang panas dalam." ujarnya menenangkan hati. Ia pun segera melangkah menuju dapur seraya menenteng sebungkus bibir ayam yang Evan berikan tadi.
"Seharusnya kamu jangan bersikap baik supaya aku tidak berharap lebih, Van. Bagaimana aku bisa bersikap biasa sementara kamu selalu membuatku begini?" ujarnya seraya menghela napas berat. Ia tidak berani berharap lebih pada pria itu. Ia merasa tidak pantas bahkan merasa sangat kotor sekarang. Sania bukan wanita arogan dan penuh dendam yang kemarin.Ia telah berubah menjadi lebih baik dan terus memperbaiki diri.