Suami Sementara

Suami Sementara
kacau


"Sudah ceramahnya? Pak us-tadz?!" Sania mendelik, menantang Evan dengan sengaja. Ia menyingkirkan hatinya demi gengsi karena tak ingin terlihat salah di mata siapa pun.


"Aku hanya mengatakan yang sesungguhnya. Aku juga bukan ustadz." ujar Evan dengan wajah datar.


"Jangan sok benar kamu. Amora memang bersalah. Dari awal dia salah karena sudah menikah dengan Farhan. Aku dan Farhan sudah menjalin hubungan sebelum ia bersama Amora. Jadi biar bagaimanapun Amora tetap pelakor dan dia bersalah. Jangan terus membelanya hanya karena kamu mencintainya!"


Evan menghembuskan napas lelah. Ia membuang pandangannya ke arah lain.


"Dan tentang kamu dan dia," Sania sengaja menjeda kalimatnya membuat Evan menoleh. Pria itu menunggu ucapan Sania selanjutnya.


"Kamu terlalu bodoh! Lagi pula, apa bagusnya sih perempuan itu sehingga kalian para pria sangat tergila-gila padanya. Apa yang kalian lihat dari dia? Wajah tidak terlalu cantik, malahan lebih cantik aku. Dia juga tidak kaya." wanita itu melipat kedua tangannya menatap sengit pada pria yang ada di hadapannya. Ia sangat heran pada pria yang begitu mendambakan Amora. Padahal menurutnya, Amora biasa-biasa saja.


Mendengar hal itu membuat Evan tertawa miring.


"Kamu merasa lebih cantik dari Amora?"


"Jelaslah. Aku jauh lebih cantik dari dia dan jauh lebih baik. Mata kalian saja yang buta! Tidak bisa melihat mana yang seharusnya kalian cintai." ujarnya dengan penuh percaya diri.


"Kamu mau tahu apa bedanya kamu sama Amora?"


"Apa?"


"Amora tidak akan pernah mengatakan apa yang kamu katakan. Dan dia tidak mungkin bersikap seperti yang kamu lakukan saat ini. Mungkin kamu merasa jauh lebih cantik dan lebih baik dari Amora, itu menurutmu. Tidak menurut orang lain. Biar aku katakan, kecantikan seseorang tidak di lihat dari fisik. Tapi dari sini ...." Evan menunjuk dadanya sebelah kiri di ikuti pandangan Sania yang melihat telunjuk pria itu.


"Dari hatinya." tegas Evan. Sania menahan amarah karena malu.


"Jadi kamu pikir aku tidak punya hati? Begitu?"


"Siapa yang mengatakan kau tidak punya hati?" Evan mengangkat sebelah alisnya.


"Apa yang kamu katakan tadi sama saja dengan mengatakan bahwa aku tidak punya hati. Kau menyindirku! Secara tak langsung maksud kamu begitu, kan?"


Evan tertawa renyah.


"Jadi, kamu tersinggung?"


Sania hanya diam dengan napas yang memburu. Ia menatap marah pada Evan karena memang benar ucapannya membuatnya tersinggung. Ia tidak terima jika di katakan tidak punya hati.


"Mengapa kamu harus tersinggung? Jika kamu punya hati, seharusnya tidak perlu tersinggung dong dengan apa yang aku katakan."


"Terserah! Aku mau pulang. Lagi pula mas Farhan belum boleh di jenguk!" Wanita itu melangkah pergi meninggalkan Evan yang sedang terkekeh.


"Kenapa malah dia yang tersinggung dan marah?" ujarnya pada diri sendiri seraya menggelengkan kepalanya bingung. Ia menyusul wanita yang berjalan tergesa di depannya.


Setelah sampai di parkiran, Evan meminta Sania untuk menunggunya.


"Tidak mau! Biarkan aku pulang jalan kaki! Aku tidak mau naik motor butut kamu!"


"Apa? Kau bilang motor butut?"


"Kenapa? Memang begitu kan kenyataannya? Motor kamu jelek, sama seperti kamu! Aku tidak mau pulang bersama kamu! Lebih baik aku jalan kaki sampai kontrakan!" kesal Sania seraya berbalik, ia terus berjalan mengabaikan seruan Evan.


"Dasar wanita! Tidak pernah mau di salahkan meski dia memang salah. Mau menang sendiri!" Evan mendengus kesal.


"Ya sudah jika itu mau kamu. Selamat berjalan sampai kaki mu patah."


Ia memakai helm di kepalanya, menjalankan motornya perlahan. Sania terus menggerutu sepanjang langkahnya hingga ia berbelok mengambil jalur sebelah kiri.


"Dasar menyebalkan! Dia pikir dia itu siapa seenaknya saja menceramahi aku. Bahkan mengatakan aku tidak punya hati. Aku benar-benar tidak terima!" gerutunya dengan menghentakkan kaki sangking kesalnya.


Hatinya bertambah kesal ketika Evan melewatinya begitu saja. Pria itu benar-benar meninggalkan dirinya di jalanan yang panas dan berdebu. Sania menghentikan langkahnya, melihat pria yang semakin lama semakin menjauh.


"Dasar pria tidak punya perasaan! Dia benar-benar meninggalkan aku sendirian di jalan panas-panas begini. Mana lagi hamil! Semua pria sama saja!" bulir bening yang ia tahan sedari tadi luruh membasahi wajahnya. Dengan sangat kesal, ia melepaskan high heels yang ia kenakan dan melemparkannya begitu saja untuk melampiaskan kekesalannya.


"Evan jahat! Tidak berperasaan! Awas saja kamu!" teriaknya kesal di sertai Isak tangis yang membanjiri wajahnya. Setelah puas menjerit dan memaki, ia berjalan perlahan ke bangku panjang yang ada di pinggir jalan.


Dengan kesal, ia menghempaskan tubuhnya kesana. Menutup wajahnya dengan kedua tangan demi menutupi wajahnya yang basah akan air mata.


"Semua pria menyebalkan! Semua pria jahat!" ia tergugu di selingi dengan suara kendaraan yang berlalu lalang.


"Kenapa semua pria mencintai Amora? Mengapa mereka semua mengagumi wanita lemah itu! Mengapa Farhan tidak pernah mencintaiku dan hanya menginginkan Amora dalam hidupnya. Padahal aku sudah memberikan semua yang aku miliki untuknya. Mengapa ia tidak pernah melihat aku? Apa aku begitu buruk sehingga ia tidak pernah melihat ku? Apa aku terlalu jelek sehingga ia seolah jijik melihatku?!" wanita itu tergugu dengan terus menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya. Ia tak menghiraukan orang-orang yang berlalu lalang. Terkadang mereka heran serta bingung melihat Sania yang terlihat begitu kacau dan menyedihkan.


Ingin bertanya, tapi takut di bilang ikut campur sehingga mereka hanya melihat Sania yang menangis dengan terus memaki para pria. Bahkan tidak sedikit yang saling berbisik-bisik menertawai Sania.


"Mengapa aku tidak seberuntung Amora? Mengapa ia begitu di cintai sedangkan aku tidak?" lagi, ia terus menangis dan tak berhenti mengeluh serta membandingkan Amora dan dirinya. Hatinya masih di penuhi dengan rasa iri dan dengki yang selalu merongrong dirinya. Di sela tangisnya, seseorang meletakkan sepatu yang tadi ia buang.


"Ayo pakai sepatu kamu dan pulang bersamaku." suara itu sangat di kenal oleh Sania. Ia menurunkan kedua tangannya tanpa berniat mengusap air mata yang sudah turun bak air bah. Wanita itu mendongak demi memandang wajah yang kini sedang menatapnya.


"Kamu? kenapa kembali lagi, hah?"Sania berdiri tegak menatap pria yang ada di hadapannya dengan angkuh.


"Sudah untung aku aku kembali karena mengkhawatirkan kamu. Eh sikap kamu malah seperti ini."


"Memangnya siapa yang mau kamu kembali? Aku sama sekali tidak mengharapkan kamu!" ujar Sania dengan kesal.


"Ohya? Apakah kamu yakin?"


"Iya! Aku yakin dan sangat yakin! Pergi kamu! Aku bisa mengurus diriku sendiri!" teriak Sania.


"Jangan keras kepala. Kau sedang hamil dan cuaca sangat panas. Ayo pulang!" Evan menarik lengan wanita itu, tapi segera di tepis.