
HAPPY READING ZHEYENG 😘😘
_________________________________
Amora berlari kecil di lorong rumah sakit mengejar Reyhan yang sudah menghilang di balik tembok. Mata wanita itu terus mencari sosok pria yang beberapa bulan ini tinggal bersamanya.
Amora terus berlari sehingga tak memperhatikan langkahnya, ia tak sengaja menabrak seorang perempuan yang sedang sibuk menenteng obat.
Brukk ...!!
"Maaf mbak saya tidak sengaja." ujar Amora seraya berjongkok dan menunduk untuk memungut tablet obat yang berceceran.
"Hati-hati kalau jalan!" maki wanita itu. Suara itu sangat familiar di telinga Amora sehingga dengan cepat ia menoleh dan melihat wajah wanita yang sedang marah itu. Benar dugaannya, wanita itu orang yang sangat ia kenal.
"Sania?"
"Amora!"
Amora berdiri, mengangsurkan tablet itu ke tangan Sania yang berdiri dengan pongah. Wanita itu mengangkat dagu, memandang Amora dengan sinis.
"Siapa yang sakit?" tanya Amora seraya melihat ke belakang Sania, mencari siapa yang sedang bersama wanita itu. Tapi Amora tak menemukan siapapun. Hanya ada suster yang lewat mendorong troli berisi obat-obatan dan pasien yang sedang di dorong menggunakan kursi roda.
Sania mengembangkan senyum sehingga membuat Amora mengerutkan keningnya.
"Kenapa?" tanya Amora heran.
"Aku kesini bukan untuk berobat, tapi untuk ini ...." Sania mengelus perutnya yang rata.
Kerutan di dahi Amora semakin dalam, sungguh ia tidak mengerti apa yang di maksud wanita yang ada di hadapannya ini.
"Kamu kenapa? tidak bisa buang air besar? atau perutmu keseleo?" tanya Amora sehingga membuat Sania mengeram kesal.
"Pantesan Mas Farhan lebih memilih aku ketimbang kamu. Cantikan juga aku, pinteran juga aku." ujarnya sombong seraya mengibaskan beberapa helai rambut panjangnya ke belekang. Hal itu membuat Amora geli sendiri, ia tidak tahu saja bahwa suami yang ia banggakan itu baru saja memohon padanya. Memohon cintanya yang dulu, rasa itu terkikis sudah. Hilang di telan kekecewaan yang mendalam, dan tak ada lagi yang tersisa kecuali rasa hambar.
"Wah beruntung ya Mas Farhan. Kalian juga pasangan yang cocok kok, langgeng ya." kata Amora seraya mengulurkan tangannya tapi di abaikan oleh Sania. Wanita itu malah melipat kedua tangannya di dada, menatap Amora dengan sinis. Bibirnya melengkung dengan senyum antagonis.
"Jelas mas Farhan beruntung memiliki aku. Terlebih lagi, sekarang aku sedang mengandung buah hatinya." jelas Sania.
"Apa? kamu hamil? Bagaimana bisa?" Amora terkejut.
"Jangan terlalu terkejut seperti itu. Kami melakukannya setiap malam dan kami pasangan yang subur, jadi tidak heran jika aku cepat hamil. Tidak seperti kamu, MANDUL!" ia sengaja menekankan kata mandul.
"Kau yakin itu anak Mas Farhan?" tanya Amora ragu.
"Apa maksudmu? kau pikir ini anak siapa?" teriak Sania marah. Terlihat kobaran emosi di matanya.
"Aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya bertanya, karena semua ini sebenarnya agak aneh."
"Tidak ada yang aneh! yang aneh itu kalau kamu hamil. Kamu itu mandul, mana bisa hamil."
"Jangan-jangan itu anak Pak botak?" tuding Amora seraya menyipitkan matanya.
"Kau ...!" Sania akan maju menarik rambut Amora ketika suara Farhan datang dari arah belakang Amora.
"Sania!" teriak Farhan sehingga Amora dan Sania menoleh, tangan Sania tergantung di udara. Beberapa detik kemudian ia menurunkan tangannya ketika menyadari Farhan memergoki apa yang sedang ia lakukan.
"Oh, kamu mau jemput aku ya mas? kamu baik banget sih mas. Bener-bener suami idaman." Sania menghampiri Farhan dan bergelayut manja di lengan pria itu, tapi dengan cepat Farhan segera menepisnya. Amora hanya terkikik geli melihatnya, Sania yang semula berniat pamer kemesraan malah di permalukan oleh Farhan di depan Amora.
"Apaan sih kamu. Aku tidak menjemput kamu! lagian kamu ngapain di sini?" tanya Farhan tak suka.
"Mas, aku hamil." kata Sania dengan bersemangat seraya memegangi tangan Farhan.
"Apa? kamu hamil?" tanya Farhan terkejut. Bak di sambar petir di siang bolong.
"Iya mas. Sebentar lagi kamu akan jadi ayah. Kamu senang kan, mas?" wajah wanita itu terlihat sangat bahagia. Sementara Amora hanya geleng-geleng kepala melihat sepasang anak manusia yang ada di hadapannya. Sang perempuan dengan bangga dan percaya diri mengatakan hamil anak pria yang ada di hadapannya. Dan sang pria terlihat pucat dan terlihat sangat syok. Amora sangat paham dengan keterkejutan Farhan sehingga ia tak kaget dengan ekspresi yang Farhan tunjukkan.
"Apa kamu salah makan?"
"Apa sih mas? memangnya salah makan bisa membuat hamil?" protes Sania kesal.
"Siapa ayah dari bayi yang kamu kandung?" tanya Farhan pelan dengan tekanan emosi yang hampir meledak.
"A- anak bayi ini ya kamu, mas. Siapa lagi?"
Farhan memejamkan mata, urat di wajahnya terlihat sangat menonjol.
"Hasil tes itu pasti salah. Atau jangan-jangan kau ada main dengan pria lain?" tuduh Farhan seraya menunjuk wajah Sania sehingga wanita itu langsung mendelik, menelan ludah yang seakan tercekat di tenggorokan.
Amora tersenyum miris, ia pun berlalu.
"Selesaikan di rumah, tidak enak di dengar orang." ucapnya seraya berlalu, ia harus mencari Reyhan dan menjelaskan semuanya.
"Tapi kita belum selesai, Ra." ujar Farhan.
Amora berbalik, "Kita sudah selesai, dan untuk saat ini Sania lebih penting. Dia sedang hamil anak kamu, Mas. Selamat ya." sindir Amora dengan sudut bibir yang terangkat.
"Amora, kau tahu kalau ...." Farhan menggantung kalimatnya.
"Tahu apa mas?" tanya Sania penasaran. Ia menatap lekat pada suaminya meminta penjelasan. Amora segera berlalu, meninggalkan drama rumah tangga yang tak ada habisnya itu.
"Ayo jelaskan di rumah perempuan ******!" ia menarik wanita itu dengan cepat sehingga Sania yang menggunakan high heels itu terseok mengikuti langkah Farhan yang lebar.
"Tunggu mas, pelan-pelan. Aku sedang hamil. Kalau sampai aku terjatuh dan keguguran bagaimana?"
"Aku tidak peduli!"
🧋🧋🧋
Halo zheyeng 😘
Tetap tersenyum dan jangan lupa bahagia ❤️
Semangat terus ya buat kalian.
Kasih semangat juga dong buat author. Hehe, pake like komentar n hadiahnya yah😘
Elepyyuuuuuu full buat kalian semua😘