Suami Sementara

Suami Sementara
Aku terpaksa menikahimu


Happy reading zheyeng 😘


___________________


Beberapa jam sebelumnya, Sania yang masih berada di dalam ruangan sang atasan mendapat telepon dari Farhan. Ponselnya berdering beberapa kali tapi ia abaikan. Ia tak bisa pergi kemana-mana karena atasannya yang berkepala pelontos ini benar-benar maniak ****. Sania hampir kewalahan melayani nafsu pria yang hampir berkepala lima itu. Ia mengerang di bawah Kungkungan pria itu, di atas meja kerja.


Pakaian yang ia kenakan berserakan entah kemana, begitu pula dengan pria dengan perut buncit itu. Ia sangat menikmati tubuh Sania yang membuatnya candu. Sehingga pekerjaannya hari ini hanya bersenang-senang tanpa memperdulikan sejumlah dokumen yang menumpuk menunggu persetujuan darinya.


"Pak, ini sudah malam. Aku harus pulang." ucap Sania dengan napas yang terengah-engah. Tapi pria tua itu tak menghentikan kegiatannya, ia terus menghujam miliknya membuat Sania melenguh nikmat.


"Sebentar lagi, sayang. Aku belum selesai." katanya di sela permainannya. Ponsel Sania kembali berdering, membuat Sania gelisah. Itu pasti telepon dari Reyhan karena tadi pagi ia memang sengaja minta jemput guna membuat Amora panas melihatnya. Beberapa detik berikutnya, pria berkepala pelontos itu melenguh panjang. Ia merasakan pelepasan yang ke sekian kalinya hari ini. Ia tersenyum senang, lalu melepaskan diri dari Sania. Ia duduk dengan lemas di kursi kebesarannya. Peluh membanjir tubuhnya yang gemuk.


Sania segera turun dari atas meja, mengangkat telepon yang sedari tadi berdering.


"Halo sayang, iya aku akan segera turun." ucapnya lalu menutup telepon. Ia kembali meletakkan ponselnya ke dalam tas. Lalu memunguti pakaiannya yang tercecer dan mengenakannya. Tubuhnya terasa lengket, dan bau cairan atasannya tercium di tubuhnya. Ah ia tak sempat untuk mandi mengingat Farhan sudah tak sabar menunggunya.


"Aku pulang ya, sayang." Sania mengecup bibir pria yang seharian ini memberikan kepuasan padanya.


"Nanti aku transfer." ujar pria itu yang sontak saja membuat Sania girang. Ia sekali lagi memberikan ciuman pada pria itu.


(hoekk... author kok geli sendiri ya🀭)


Pria itu terkekeh, ia sangat senang hari ini.


"Ah kenapa tidak dari dulu aku mengangkat Sania menjadi sekretaris? walaupun tidak secantik Amora, tapi wanita ini bisa memuaskan aku kapan saja." ujarnya seraya tersenyum senang. Tubuh Sania telah hilang di balik pintu, tapi sisa percintaan mereka masih tercium di setiap sudut ruangannya.


Sania yang turun terburu-buru tak melihat Amora di depan matanya. Setelah semakin dekat barulah ia melihat Amora yang sedang berbicara dengan Farhan.


"Sayang, maaf ya kau menunggu lama." Sengaja Sania mengeraskan suaranya.


Dan lihatlah wajah terkejut Amora. Rasanya ia ingin melonjak senang melihat kekalahan Amora hari ini. Ia akan kekurangan segalanya, semua yang ia miliki akan aku rebut. bisiknya dalam hati.


Setelah mengucapkan beberapa kata yang pasti akan menyakiti Amora, Sania mengajak Farhan untuk pulang.


Di dalam mobil,


"Kenapa penampilanmu acak-acakan?" tanya Farhan seraya menelisik penampilan Sania yang memang sangat berantakan. Rambut panjangnya kusut, kemejanya tak terkancing dengan sempurna.


"Aku tertidur tadi. Iya, aku tidur." Sania tergagap. Kepalanya sibuk menyusun kebohongan yang akan di lontarkan pada Farhan. Farhan hanya manggut-manggut.


"Kenapa aku mencium bau air mani?" Farhan melirik Sania sambil menyetir. Matanya fokus ke jalanan yang ada di hadapannya, tetapi kali-kali ia melirik Sania yang di salah tingkah.


Wajah Sania pucat, ia tak ingin ketahuan sekarang. Ia belum siap mengingat pernikahannya baru satu hari.


"Perasaan kamu saja, sayang. Sudah ah aku capek, jangan membicarakan hal yang tidak-tidak." elak Sania. Ia membuang muka, melihat ke luar jendela mobil yang gelap.


"Memang kamu kerja seharian? perasaan Amora dulu tidak begitu. Ia pulang tak pernah mengeluh. Bahkan terkadang ia mampir di supermarket untuk belanja dan memasak."


"Amora lagi, Amora lagi. Kenapa kamu selalu membedakan aku sama wanita itu sih?" ujar Sania kesal. Ia tidak ingin di bandingkan dengan Amora karena ia merasa dirinya di atas segalanya.


"Karena kamu memang sangat jauh berbeda dengan Amora!" bentak Farhan.


"Kenapa kau menikahiku? Kenapa tidak kembali saja pada wanita sialan itu!" teriak Sania kesal.


"Ya, aku akan kembali tapi nanti! setelah tiga bulan kita menikah. Lagipula aku menikahimu karena ingin kembali kepadanya. Mana mau aku menjadikan kamu istri selamanya. Amora itu wanita yang sempurna! bisa rugi aku kalau melepaskan dia selamanya. Aku terpaksa menikahimu! kau dengar? Aku terpaksa!" tegas Farhan seraya melirik Sania sinis.


Sania hanya diam dengan kepalan tangan yang membentuk tinju. Matanya lurus ke depan menatap jalanan dengan tajam. Ia menggertakkan gigi, kebencian di hatinya semakin menjadi-jadi. Ia benci mendengar pujian itu keluar dari mulut Farhan untuk wanita itu. Ia pikir dirinya sudah menang karena telah menikah dengan Farhan. Berhasil merebut pekerjaannya juga. Tampaknya ia belum berhasil meraih hati Farhan. Ia bertekad akan membuat Amora semakin hancur. Hatinya sangat sakit mendengar apa yang di katakan Farhan.


Tunggu saja Amora, aku akan membuat hidupmu hancur tanpa sisa. Aku janji. Ikrarnya dalam hati.


Sementara itu.


Amora masih berdiri di tempatnya. Mengusap bening kristal yang kembali turun.


"Ah kenapa aku cengeng sekali?" Amora tertawa kecil merutuki kebodohannya. Ia mengusap kasar wajahnya sekali lagi, lalu menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya.


"Ah jam segini mana ada Taksi." ia melirik jam yang melingkar di lengannya. Pukul 19.00, area perkantoran ini sepi. Parkiran pun terlihat tinggal beberapa kendaraan yang masih ada di sana. Hati kecilnya berharap pada Reyhan, tapi akal sehatnya segera menepisnya.


"Memang kau siapanya? kalian tidak ada hubungan apa-apa kecuali pasangan sementara." Amora kembali menertawakan dirinya sendiri. Ironi, begitu jalan hidupnya yang terjadi.


"Aku pesan taksi online saja." gumamnya, ia segera merogoh tas kecil untuk mengambil ponsel.


"Yah, lowbat. Aduh, gimana ini." Amora kebingungan. Pasalnya ponsel miliknya kehabisan baterai. Ia melihat kanan kiri dengan kebingungan, tak ada orang di sini. ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas lalu perlahan berjalan meninggalkan area perkantoran. Berharap ada tukang ojek yang mangkal atau taksi yang lewat.


Ia berjalan di jalanan yang sepi dan gelap. Hanya ada beberapa lampu jalan yang temaram. Tidak ada siapa-siapa di sini. Berkali-kali ia menoleh ke belakang karena takut. Ia mengusap lengannya yang terasa dingin, berharap ada taksi yang lewat.


"Kenapa sepi sekali sih?" gumamnya pelan. Ia mempercepat langkahnya, hak tinggi yang ia kenakan mempersulit setiap langkah kakinya.


"Aduh, berasa uji nyali." ia mencebik. Bulu kuduknya meremang, tangan kirinya mengusap tengkuknya pelan seraya menoleh kiri kanan mengawasi keadaan.


Bugh ....


Terdengar suara jatuh di belakangnya. Amora menoleh, tidak ada siapa-siapa di sana.


"Apa itu?" tanya Amora pada diri sendiri.


ketakutan menyergapnya, ia melihat sekeliling. Tak ada siapa-siapa di sana.


"Si- siapa di sana?" Amora berteriak takut-takut. Tak ada jawaban, ia benar-benar sendirian di jalanan sepi ini. Amora mundur kebelakang, lalu berbalik. Ia meneruskan langkahnya dengan cepat hampir berlari.


"Oh Tuhan, aku belum mau mati." katanya seraya berlari kecil.


🌸🌸🌸


Salam sehat selalu ya zheyeng 😘


Tetap semangat dan jaga kesehatan.


Elepyyuuuuuu full pokoknya mah🀭πŸ₯°πŸ˜˜