Suami Sementara

Suami Sementara
Di jalan


Happy reading zheyeng 😘


___________________________________


"Kita makan dimana?" tanya Reyhan pada Amora yang masih memandang keluar jendela mobil. Gemerlap lampu jalan yang berwarna warni terlihat cantik di mata wanita yang bergaun berwarna hitam itu.


Amora menoleh sebentar pada Reyhan yang sedang fokus menyetir. Lalu kembali melemparkan pandangannya ke luar jendela mobil.


"Aku tidak ingin makan." ujar Amora yang membuat Reyhan mengernyitkan dahi.


"Kenapa begitu? bukankah tadi kamu bilang mau makan di luar?"


"Mendadak aku tidak selera." jawab Amora tanpa menoleh. Reyhan menarik napas berat.


"Lalu bagaimana? kau pasti lapar." Amora menggeleng. Entah kenapa selera makannya tiba-tiba menghilang begitu saja.


"Kamu kenapa? sakit?"


Lagi- lagi Amora hanya menggelengkan kepala, membuat Reyhan pusing dan bingung. Pria itu menepikan mobilnya di jalanan yang agak sepi.


"Kamu kenapa? Apakah aku ada salah?" tanya Reyhan lembut. Ia menatap wajah Amora yang murung.


Amora tidak menyahut, ia hanya diam seraya bersedekap tanpa mau menoleh.


"Ya sudah kita beli mie ayam yang ada di depan saja, ya? terus kita makan di rumah sama Mama." Masih tak ada jawaban dari wanita itu sehingga membuat Reyhan menghela napas berat.


Reyhan kembali melajukan mobilnya, ia kembali menepi kala melihat stand mie ayam di tepi jalan. Di sana terlihat ramai, beberapa orang mengantri di sana.


"Aku turun sebentar, ya. Kamu tunggu di mobil saja." ucap Reyhan seraya tersenyum. Pria itu membuka sabuk pengamannya yang ia kenakan lalu membuka pintu mobil perlahan dan turun. Ia ikut mengantri untuk mendapatkan mie ayam terenak yang pernah ia makan. Banyak pedagang kaki lima yang menjual mie ayam, tapi menurutnya tak ada yang seenak mie ayam di sini. Meski Reyhan berasal dari keluarga yang berada, tapi ia lebih suka membeli makanan di pinggir jalan.


Amora menurunkan kaca mobil, semilir angin malam menyapu rambut hitam panjangnya yang tergerai. Wanita itu memejamkan mata sebentar, menghirup dalam-dalam udara yang memasuki rongga hidungnya. Ia membuka matanya perlahan, seketika matanya langsung menangkap sosok seorang pria yang berdiri di barisan paling belakang antrian. Pria itu menoleh padanya, melempar senyum manis khasnya.


Amora pun hanya membalas dengan senyum tipis. Ia tak tahu dengan suasana hatinya yang mendadak berubah. Ia pun tidak mengerti dengan hatinya, mengapa ia tidak suka ketika Reyhan mengatakan bahwa ia tak cemburu? Mengapa hatinya merasakan kecewa? Sepertinya ada yang salah dengan hatinya.


Angin berhembus semakin kencang, menerbangkan dedaunan kering yang jatuh berserakan. Tak lama Reyhan masuk ke dalam mobil dengan membawa kantong plastik yang berisikan mie ayam pesanannya.


Bau rempah yang kuat memasuki indera penciumannya. Terbayang bagaimana rasa dari makanan yang Reyhan bawa, membuat penghuni perut Amora berteriak minta isi.


"Kita langsung ke rumah mama, ya?" tanya Reyhan seraya memasang sabuk pengaman kembali. Amora mengangguk pelan. Sebenarnya ia juga rindu pada mama Reyhan yang selalu ramah dan bersikap lembut. Mengingatkannya pada sosok seorang Ibu yang telah lama meninggalkannya.


"Kamu mau beli apa? Mumpung belum sampai rumah mama." tanya Reyhan seraya melajukan mobilnya. Membelah jalan yang ramai. Terlihat titik hujan yang mulai turun membasahi bumi. Membuat jalanan basah dan sedikit licin.


"Aku sedang tidak ingin apa-apa, aku ingin segera sampai." Amora mengusap lengannya yang terbuka. Hawa dingin menyapu kulit tangannya yang tak tertutupi sehelai benangpun. Amora menyesal mengapa harus memakai gaun seperti ini.


"Kau yakin tidak menginginkan apapun?" tanya Reyhan sekali lagi dan di jawab dengan anggukan oleh Amora.


"Baiklah, kita langsung kerumah mama saja." ujar Reyhan tanpa menoleh. Ia harus fokus pada jalanan yang semakin licin dan pandangan yang buram karena hujan yang semakin deras.


"Kamu kedinginan?" tanya Reyhan seraya melirik Amora yang terus mengusap lengannya yang terbuka.


"Sedikit." jawabnya pelan.


Reyhan membuka jas yang ia pakai, agak kesulitan karena sembari menyetir dan pandangannya tetap fokus ke depan. Derasnya hujan membuat jarak pandangnya terbatas.


"Kau mau apa? aku tidak apa-apa." ujar Amora yang melihat Reyhan kesulitan membuka jas yang ia kenakan. Wanita itu berinisiatif untuk membantunya, membuat Reyhan terkejut kala jemari lembut Amora tak sengaja menyentuh kulitnya. Menimbulkan desiran aneh yang membuat jantung Reyhan bekerja lebih cepat.


Sekelebat bayangan muncul, keduanya terkejut ketika ada sesuatu yang melintas di depan mobil.


"Reyhan! awas ....!!!" teriak Amora.


🌷🌷🌷


Hai zheyeng 😘


Maaf yah yang bosen dengan cerita ini. Maaf yah. Makasih atas dukungannya, makasih juga atas masukannya sehingga author sengklek ini terus berusaha memperbaiki tulisan dan ceritanya. Yang punya masukan, bisa di tinggalkan di kolom komentar yah. Terimakasih.