Suami Sementara

Suami Sementara
Setangkai mawar


Seorang wanita duduk di kursi roda menatap keluar jendela. Melihat taman rumah sakit yang berada tak jauh dari ruang rawat yang ia tempati. Sendiri tanpa seseorang yang menemani. Tak terasa bulir bening yang terasa hangat bergulir begitu saja melewati wajah pucat miliknya.


"Kenapa kamu tega, mas?" lirihnya dengan pilu.


"Bahkan kau tidak menghubungiku sama sekali. Apa artinya aku di matamu mas? apakah sebegitu bencinya kamu padaku? sekedar melihat keadaanku saja tidak." ia menggigit bibir bawahnya, menahan rasa sakit yang menyeruak menjalari seluruh tubuh serta relung jiwanya.


Sudah dua hari ia di rawat di rumah sakit ini. Dan selama itu pula ia hanya sendiri tanpa di temani siapapun kecuali perawat yang terkadang menemaninya. Tidak memiliki sanak saudara, ia hanya mengharapkan suami serta mertua. Tapi apa daya, bahkan sampai saat ini pun tidak ada yang Sudi muncul di hadapannya.


Ia meremas dadanya dengan kuat. Berharap menghilangkan segala rasa sesak yang menghimpit dada. Ia benar-benar merasa sendiri sekarang. Ingatannya kembali pada beberapa tahun silam.


"Sania, aku akan merawatmu sampai kamu sembuh." ujar seorang gadis kecil yang seusia dengannya.


"Terimakasih ya. Kamu memang sahabat terbaik yang aku punya."


"Iya dong. Aku tidak akan meninggalkan kamu dalam keadaan apapun. Kita akan tetap bersama dalam suka maupun duka."


"Aku menyayangi mu, Amora."


"Aku lebih menyayangi mu Sania." keduanya saling memeluk, berbagi rasa sayang.


Amora akan selalu ada di saat suka maupun duka. Mendukung sahabatnya ketika sedang terpuruk. Mempunyai sahabat seperti Amora merupakan suatu keberuntungan. Hingga rasa iri dan dengki serta kecemburuan menguasai hatinya. Persahabatan itu hancur menjadikan debu yang tak berbentuk.


"Maafkan aku," kata-kata itu keluar dari bibirnya yang pucat di sertai luruhnya kembali bendungan air mata. Ada rasa sesal di sudut hatinya.


❤️❤️


Reyhan pulang ke apartemen Amora dengan senyum yang terus terbingkai di wajahnya. Pria itu sangat merindukan istrinya setelah seharian di temani sejumlah pekerjaan yang tidak ada habisnya. Hari mulai gelap ketika ia masuk dan menyapu pandangan ke penjuru ruangan yang terlihat sepi. Ia mengernyitkan dahi, merasa heran karena tidak ada suara yang ia dengar.


"Amora kau dimana?" wajah yang semula ceria dan penuh kebahagiaan itu kini berubah menjadi bingung serta khawatir.


Ia menuju dapur, netranya menatap semua makanan yang masih tertata rapi tak tersentuh.


"Apa dia menyiapkan makan malam romantis?" lirihnya. Tak di pungkiri hatinya langsung menghangat, mengingat betapa romantisnya sang istri yang selalu di pujanya itu. Ada segaris senyum yang kembali terbingkai di wajah tampannya.


"Tapi dia kemana?" tanyanya bingung. Mengedarkan pandangan kembali, mengamati semua dengan teliti.


"Tidak ada yang aneh, semuanya tampak normal. Tapi mengapa Amora tidak ada?" ia melangkah meninggalkan dapur. Menuju ruang tamu minimalis yang bernuansa putih itu dengan langkah tergesa. Mengamati ujung demi ujung, setiap jengkal pandangan yang tak akan di lewatinya. Hingga netranya menangkap setangkai mawar yang tergeletak di bawah sana. Ia berjalan menuju mawar itu, membungkuk serta memungut mawar malang yang terbuang.


"Mengapa ada setangkai mawar di sini?" ia berdiri kembali, mengangkat mawar merah itu dan mengamatinya dengan mata yang menyipit.


"Apakah tadi ada yang ke sini?" ia bertanya-tanya dalam hati. Kembali mengedarkan pandangannya, mencari hal yang mungkin saja bisa di jadikan petunjuk untuknya. Hatinya merasa curiga dan tidak tenang. Karena tak biasanya Amora begini. Wanita itu pasti akan memberitahunya meski hanya lewat chat.


Ia meraih kunci mobil yang ada di atas meja kecil di ruang tamu. Bersiap akan pergi mencari Amora, tapi ketika baru saja keluar apartemen ia di kejutkan dengan kedatangan seseorang.


"Reyhan." pria itu terpaku. Melihat seseorang yang berdiri tak jauh darinya.


❤️❤️❤️


Like komentar hadiah n vote jangan lupa 🤭


Jaga kesehatan ya all.