
Happy reading zheyeng π
_____________________
"Makanlah!" Reyhan menyodorkan semangkuk bubur khas rumah sakit pada Amora. Wanita itu hanya memandangi makanan itu dengan enggan, lalu beralih pada Reyhan yang masih setia menunggunya.
"Kenapa?" tanya Reyhan lembut.
"Bisakah ganti bubur ini dengan bakso?" tanya Amora penuh harap.
"Tidak." jawab Reyhan dengan tegas. Bahu Amora yang awalnya tegak, kini turun dengan lemas. Wanita itu tak segan menunjukkan wajah kecewa.
"Aku tidak suka bubur." ia merajuk.
"Aku tahu,"
"Lalu?" Amora mendelik.
"Lalu apa? kau berharap apa?"
Amora memalingkan wajahnya, mengerucutkan bibir dan bersedekap. Mereka hanya berdua saat ini, karena Farhan dan Sania sudah pulang sejak tadi. Farhan mengantarkan Sania ke kantor dan belum kembali lagi ke rumah sakit.
"Jangan seperti anak kecil. Makan bubur ini supaya cepat sembuh." ujar Reyhan. Ia mengabaikan Amora yang sedang merajuk.
"Aku tidak suka bubur, rasanya aneh. Aku tidak suka."
Reyhan menghela napas.
"Makanlah. Terkadang, yang menurutmu baik belum tentu baik. Dan yang menurutmu buruk, belum tentu buruk. Jangan menolak hanya karena kamu tidak menyukai rasanya! Nikmati perlahan dan rasakan! Semua akan baik-baik saja dan tidak akan membuatmu mati keracunan." ujar Reyhan. Ia kembali menyodorkan sesendok bubur ke mulut Amora yang tertutup.
Amora menoleh dan menatap Reyhan yang tersenyum lembut. Benar juga, tak seharusnya ia bersikap begini. Kenapa dengan Reyhan ia bisa begini? Kenapa ia bisa manja begini? gumamnya dalam hati.
"Aku bisa makan sendiri." Amora mengambil alih sendok dan semangkuk bubur yang ada di tangan Reyhan.
"Ya sudah, makan sendiri. Udah tua juga." ucap Reyhan seraya berdiri. Amora hanya menatap punggung Reyhan yang menjauh. Pria itu menuju sofa yang ada di sana, lalu merebahkan tubuhnya yang lelah.
"Makanlah! aku mau tidur. Semalaman aku tidak tidur gara-gara menjagamu. Setelah kamu sembuh, kamu harus membayar semua jasa-jasa yang telah aku lakukan!" kata Reyhan sebelum memejamkan mata.
"Ya, terserah kau saja! Aku juga tidak pernah minta." jawab Amora dengan sudut bibir yang terangkat.
"Tapi, terima kasih ya. Sudah mau menjaga dan merawatku." ucap Amora tulus, lalu ia memasukkan sendok penuh bubur itu ke dalam mulutnya dengan terpaksa.
"Kau dengar tidak?" tanya Amora seraya melirik Reyhan yang terpejam. Tapi tak ada jawaban dari pria itu.
"Kau benar-benar tidur?" tanya Amora sekali lagi.
"Ya, sudahlah. Aku akan makan, walaupun sebenarnya aku tidak suka. Seperti katamu." ujarnya seraya kembali memasukkan suapan kedua ke dalam mulutnya. Amora melirik Reyhan sebentar, hatinya merasa iba melihat pria yang terlelap itu tampak sangat letih dan mengantuk. Ia tersenyum, bahkan Farhan tidak mau menjagaku dan memilih pergi bersama Sania. Sedangkan kamu, rela menjaga dan merawatku sepanjang malam. lirihnya seraya tersenyum pahit. Ia mengusap sudut matanya yang berair, lalu fokus pada makanannya.
Ia menatap bubur yang masih separuh itu lalu menghabiskan semangkuk bubur yang ada dalam genggamannya. Mengunyahnya dengan cepat lalu terburu-buru untuk menelannya. Ia sangat tidak menyukai bubur terlebih itu makanan dari rumah sakit. Setelah buburnya habis, ia segera meminum obat yang telah di sediakan perawat beberapa waktu lalu. Tanpa ia sadari, pria yang sedang berbaring di atas sofa sedang menatapnya dengan tersenyum.
π·π·π·
Telinga Amora mendengar samar-samar suara beberapa orang yang sedang berbicara. Memaksa ia untuk membuka mata dan mencari sumber suara. Ia mengedarkan pandangannya ke ruangan serba putih itu, terlihat Reyhan sedang duduk bersama seorang pria dan wanita berkerudung panjang.
"Kakak." panggilnya pelan setelah menyadari siapa yang datang.
Ketiga orang yang sedang berbincang itu menoleh bersamaan, melihat Amora yang sedang berusaha duduk. Reyhan yang melihat itu segera berlari menghampiri dan membantu Amora.
"Terima kasih." ujar Amora dan di balas anggukan oleh Reyhan.
"Kak Rasti, aku rindu." ujarnya penuh keharuan.
"Kakak juga sangat merindukanmu, sayang." ia memeluk Amora dengan erat. Menyalurkan kerinduan setelah lama tidak berjumpa. Sementara Reyhan dan Hanif menatap kedua Wanita yang mereka cintai itu dengan tersenyum.
"Kakak kapan datang?" tanya Amora setelah mengurai pelukan. Ia menatap wajah nan teduh itu dengan hangat.
"Kami langsung kesini setelah mendengar kabar dari Reyhan. Dan pesawat mendarat tadi pagi."
"Maaf ya kak, Amora membuat kalian khawatir dan merepotkan kalian." ujarnya penuh sesal.
"Hey, apa yang kamu ucapkan? kamu itu adik kami, sudah sewajarnya kami khawatir dan kamu tidak merepotkan kami sama sekali." kata Rasti seraya mencubit kedua pipi Amora dengan gemas.
"Terima kasih ya, kak." Rasti hanya mengangguk. Meski mereka hanya ipar, tapi kasih sayang keduanya sangat tulus. Begitu dekat hingga Amora tak akan canggung pada Rasti.
Amora mengalihkan pandangannya pada Hanif yang berdiri mengawasi mereka.
"Kakak tidak merindukanku?" tanya Amora.
"Tidak." jawab Hanif berbohong.
"Kau benar-benar kakak yang jahat. Bagaimana bisa tidak merindukan adik secantik ini?" ucap Amora seraya mengerucutkan bibirnya. Ia akan sangat manja pada kedua orang ini.
"Aku jahat? benarkah?" alis Hanif terangkat. Mencari kepastian dari adiknya yang pura-pura merajuk.
"Iya, kakak jahat. SANGAT JAHAT." ia sengaja menekan kata-kata sangat jahat.
"Kau yakin?" tanya Hanif sekali lagi.
Amora mengangguk.
"Ya sudah, kalau begitu. Rasti, ayo kita kembali ke Yogyakarta."
"Heh ... mana bisa begitu." Amora mendelik mendengar ucapan kakaknya yang tak masuk akal. Ia berkacak pinggang dengan posisi duduk di atas ranjang. Membuat Reyhan dan Rasti tak bisa menahan tawa melihat Kakak beradik ini.
"Kau bilang kakak jahat."
"Aku bercanda." ucap Amora dengan wajah melunak. Ia merentangkan kedua tangannya, menyambut Hanif yang berjalan mendekat padanya. Rasti berdiri, memberi ruang agar Hanif bisa duduk di dekat Amora.
"Mana bisa aku tidak merindukan adik yang keras kepala dan sangat nakal ini." Kata Hanif seraya memeluk Amora dengan erat.
"Kakak sangat merindukanmu, sangat." lirihnya. Ada secuil perih yang mengiringi ucapannya. Matanya berembun, mengingat betapa menderitanya Amora hidup bersama Farhan selama ini. Dan kini, ia bertekad untuk menjauhkan Amora dari Farhan. Tak peduli seberapa cinta adiknya pada pria itu. Yang terpenting Amora tidak terus-menerus hidup dalam penderitaan dan penyiksaan batin atas ulah Farhan. Demi apapun, ia tak akan rela.
"Aku juga sangat merindukan kakak. Kakak ku yang paling menyebalkan di dunia." ucap Amora di sela tangisnya. Sungguh ia sangat merindukan Hanif, satu-satunya keluarga yang ia miliki setelah kedua orang tua mereka pergi untuk selama-lamanya.
Mereka berpelukan cukup lama, hingga membuat ruangan serba putih itu di selimuti rasa haru. Hanif melepaskan pelukannya, mengecup ujung kepala Amora dengan sayang lalu mengacak rambut Amora yang tergerai.
"Jadi, bagaimana? kapan kalian akan menikah?" tanya Hanif seraya menatap Amora dan Reyhan secara bergantian. Sedangkan sepasang anak manusia itu hanya terbengong tanpa bisa menjawab apa-apa.
π·π·π·
Hai zheyeng π
Semangat buat hari ini. Tetap tersenyum dan berbahagialah. Lupakan hal yang menyebabkan kesedihan. Tetap tersenyum, dan hadapi dunia.
i Love you allππ