
"Pergi kamu!" ucapan dengan nada tinggi itu terlontar begitu saja di sertai dengan menyusulnya sebuah koper yang di lemparkan tepat di hadapan Sania. Sania melongo, begitu juga dengan para tetangga yang sedari tadi tak jemu menonton drama antar menantu dan mertua secara langsung.
"I-ibu benar-benar mengusir saya?" tanya Sania tergagap. Pikirannya sudah berkelana entah kemana. Ia tidak tahu harus pergi ke mana jika dirinya di usir.
"Memangnya kamu kira saya bercanda?! Saya memang benar-benar mengusir kamu! Kamu itu tidak ada gunanya berada di rumah ibu. Benalu!" maki Ibu Farhan tanpa belas kasih.
"Apa? tidak berguna?"
"Ya. Kamu itu tidak berguna dan tidak tahu diri! Perusak rumah tangga orang! menyusahkan!" wanita setengah baya itu menatap Sania dengan tatapan bengis seraya berkacak pinggang.
"Setelah apa yang telah saya berikan selama ini, Ibu mengatakan aku tidak berguna?"
"Memangnya apa yang kamu berikan?"
"Apa ibu lupa apa yang saya berikan kepada Ibu dan keluarga ini?"
"Halah! jangan pandai mengungkit! Hasil dari jual diri aja kok bangga!" cibir mertuanya dengan memutar bola mata secara terang-terangan.
"Tapi setidaknya Ibu dan Mas Farhan menikmati semua itu kan?
"Itu sudah kewajiban kamu sebagai istri dan menantu. Jangan pelit kamu! Sudah syukur selama ini saya baik sama kamu. Mau menerima kamu di rumah ini. Dasar menantu tidak tahu diri! tidak di untung dan tidak tahu terimakasih!" makian itu semakin mencambuk hati Sania. Hatinya terasa sangat sakit bak di remas dengan begitu kuat oleh tangan tak kasat mata.
"Tidak ada kewajiban bagi seorang istri menafkahi suami serta mertuanya, Bu."
"Halah kamu ini. Bisa tidak sehari saja tidak membuatku marah? Makanya lebih baik kamu cepat pergi dari sini! Bikin darah tinggi saya naik, tahu tidak?"
"Pergi kamu perempuan tidak tahu malu!"
"Bu, kak Sania lagi hamil. Apa ibu tega melihat kak Sania harus membawa tubuhnya yang kini sudah ada nyawa di perutnya."
"Ibu tidak peduli mau dia hamil atau tidak. Lagi pula anak di dalam perutnya itu kan bukan cucu mama."
"Setidaknya punya belas kasih sesama manusia, Bu. Bukankah selama ini Kak Sania juga sudah membantu keluarga kita? Bahkan dia rela melakukan hal buruk hanya demi memenuhi kembutuhan Ibu dan kak Farhan yang tidak masuk akal."
"Diam kamu! Kamu itu tidak tahu apa-apa. Jangan ikut campur sama masalah ini. Atau kamu mau Ibu usir juga dari rumah ini?"
"Makanya kamu diam! Jangan ikut campur dan masuk ke dalam!" telunjuk wanita itu mengarah ke dalam rumah, matanya melebar dengan sempurna. Ia benar-benar marah kepada anaknya karena sudah membela Sania.
"Ibu keterlaluan!" teriak adik Farhan seraya masuk ke dalam rumah dengan kesal. Ia tidak habis pikir bagaimana bisa kakak serta Ibunya tidak punya belas kasihan sama sekali. Meski ia tahu sikap Sania seringkali menjengkelkan dan kurang baik, tapi ia bisa melihat sisi kebaikan yang ada di dalam diri wanita itu.
"Apa yang sudah kamu lakukan kepada anak saya hah? Kenapa sekarang anak saya malah membela kamu?" Sania menatap Ibu mertuanya bingung.
"Dasar perempuan licik! Pergi kamu sekarang juga!" usir wanita itu sekali lagi.
"Bu, mohon jangan usir saya Bu. Nanti saya dan anak saya tinggal di mana?" Sania memelas. Tak pernah terpikirkan sebelumnya ia akan berakhir di jalanan atau kolong jembatan. Menjadi gelandangan yang tak punya apa-apa dan tidak punya tempat tinggal.
"Terserah kamu! Kamu kan sudah bisa menjual diri. Jadi, jajakan saja tubuhmu ke pria hidung belang di luar sana! Siapa tau laku dan ada yang minat."
"Ohya, kenapa tidak temui saja ayah dari bayi kamu. Siapa tahu dia iba dan mau menampung kamu."
"Bu, jangan begini. Tolong jangan usir saya."
"Apa hak kamu meminta saya untuk mengubah keputusan saya? keputusan saya sudah mutlak! Pergi kamu dari sini! Dan jangan pernah kembali!"
"Ta-tapi Bu."
"Pergi!" usir wanita itu dengan tatapan bengis. dan suara bernada tinggi.
Sania bungkam. Ia sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dengan terpaksa ia meraih koper yang tergeletak mengenaskan di lantai. Menariknya perlahan dengan lelehan air mata yang tak mau berhenti sedari tadi. Pikirannya berkecamuk, dadanya terasa sesak.
Aku harus kemana?
Jeritnya dalam hati. Jeritan pilu yang tidak satupun manusia yang bisa mendengarnya.
Ia menyeret langkahnya dengan lunglai. Di iringi tatapan kebencian dari Ibu mertua yang tak membutuhkan dirinya lagi. Serta tatapan kasihan dari para tetangga yang belum juga membubarkan diri sejak tadi. Sania menoleh ke belakang, menatap rumah itu sekali lagi.
Ah rasa sakit itu semakin menyeruak mengoyak jiwa dan Sukma. Meluluhlantakkan perasaannya yang semakin menyakitkan. Air mata itu turun kian deras. Membasahi wajah yang pucat, mewakili perasaannya yang hancur berkeping tak bersisa.
"Apakah karena aku tidak lagi memberikan apa yang kalian mau? Apakah aku hanya di butuhkan karena uang? Dan sekarang saat aku tidak punya apa-apa dan tidak bisa memberikan apapun untuk mereka aku dibuang."