
"Saat ini aku hanya mencintaimu. Alasan ku tidak ingin kamu membunuhnya karena aku tidak ingin kamu masuk penjara hanya gara-gara dia. Aku tidak ingin kamu mengotori tanganmu hanya karena dia, Rey. Aku hanya mencintaimu, Rey. Sekali lagi aku katakan bahwa aku hanya mencintaimu. Bukan dia!" jelas Amora dengan lantang.
"Terimakasih, sayang. Terimakasih, aku juga sangat mencintai kamu dan hanya kamu." Reyhan menyatukan keningnya pada Amora, berbagi udara yang sama. Merasakan kehangatan cinta yang mengalir memenuhi relung jiwa.
Melihat hal itu membuat Farhan geram, harusnya Amora hanya mencintai dirinya, bukan Reyhan. Ia tidak rela melihat mereka bahagia dan saling mencintai. Rasa iri, benci serta dendam yang memang telah ada sejak awal kini semakin terpupuk subur hingga tak bisa lagi di bendung.
Tanpa di sadari dua orang yang sedang tersenyum bersama meresapi rasa yang ada, Farhan menarik rambut Reyhan dengan kuat.
"REYHAN!" teriak Amora terkejut. Ia menutup mulutnya tak percaya sementara Farhan menarik sepupunya dengan kuat. Mengumpulkan sisa-sisa tenaga yang tertinggal dan di dorong rasa benci serta dendam yang bersatu menjadi satu. Reyhan merasakan perih yang tak terkira, kulit kepalanya seakan terlepas sebentar lagi. Ia berpegangan pada lengan Farhan yang menariknya, bahkan kini ia mulai memberontak.
"Lepaskan! Brengsek!"
"Atas dasar apa kau memintaku untuk melepaskan hah?"
"Den Farhan, tolong lepaskan! Berhentilah den, karena polisi dalam perjalanan kemari saat ini." ujar Pak Joko seraya berjalan mendekat mencoba membantu anak majikannya.
"Dasar pengecut! Kamu begitu takut padaku sehingga harus memanggil polisi?" ia tersenyum remeh menatap Reyhan yang meringis kesakitan di bawahnya.
"Kau yang pengecut! Tidak mengakui kekalahan dan kesalahan! Cinta itu tidak bisa di paksa! Lepaskan jika dia sudah tidak mencintai kamu lagi. Terlebih lagi Amora tidak bahagia bersamamu, kamu hanya menabur luka dan kesedihan dalam hidupnya. Sudah seharusnya kamu melepaskan Amora karena tidak ada bahagia yang kamu ciptakan. Dia pantas untuk merasakan kebahagiaan dan keluar dari penderitaan yang kamu ciptakan. Berhenti bertingkah konyol dan ikhlaskan Amora. Jika kamu tidak bisa membuatnya bahagia, maka jangan menorehkan luka!"
"Brengsek kau Reyhan!" teriak Farhan dan tanpa aba-aba, ia melepaskan cengkraman tangannya di rambut Reyhan lalu memukuli wajah pria itu dengan membabi buta.
"Kau pikir bisa memilikinya hah? Kau pikir sudah memilikinya hanya karena dia mencintai kamu?" ucapnya di sela pukulan yang terus ia lancarkan di wajah sepupunya.
Amora yang melihat hal itu pun Sontak saja menjerit histeris.
"Jangan pukuli dia! Farhan hentikan!"
Mendengar teriakan Amora , membuat Farhan lebih bersemangat untuk menghabisi Reyhan. Ia tersenyum miring dan menoleh sebentar.
"Aku akan berhenti, tapi nanti. Saat nyawanya tak lagi berada dalam raganya." ujarnya penuh senyum kemenangan.
Pak Joko yang melihat itu pun segera melerai tapi di tepis dengan kuat oleh Farhan sehingga pria yang tak lagi muda itu terpelanting ke tembok. Kepalanya terbentur dan Pak Joko jatuh ke lantai yang dingin tak sadarkan diri. Amora semakin terkejut melihatnya, ia memandang tak percaya pada mantan suaminya. Ia baru menyadari ada monster besar yang siap membunuh siapapun di dalam diri Farhan.
"Farhan, aku mohon. Lepaskan Reyhan, please aku mohon." lirih Amora dengan derai air mata yang tak jua mau surut.
Farhan berhenti. Ia menatap diam pada Reyhan yang ada di bawahnya dengan napas yang tersengal-sengal. Wajah keduanya sama-sama babak belur, darah memenuhi kedua wajah itu.
"Kau memohon aku melepaskan pria ini karena kau mencintainya?" tanya Farhan tanpa menoleh. Hanya isakan Amora yang terdengar di dalam gudang yang sunyi itu. Farhan segera berdiri dengan sedikit terhuyung menghampiri Amora yang berdiri tak jauh darinya. Wanita itu mundur ke belakang beberapa langkah. Tubuhnya gemetar karena rasa takut yang menyerbunya. Ingatan tentang bagaimana brutalnya Farhan menyentuh tubuhnya beberapa saat tadi membuatnya trauma dengan pria yang pernah ia cintai itu.
"Apa kau mencintainya, Amora?" tanya Farhan seraya melangkah dengan perlahan.
"Jangan mendekat!" teriak Amora seraya terus berjalan mundur.
"Kenapa? Apa kau takut padaku, sayang?" kata Farhan seraya memasang wajah sedih.
Tubuh Amora sampai menyentuh tembok, ia tidak bisa kemana-mana lagi sekarang.
"Aku mohon, jangan mendekat dan pergilah dari sini. Tinggalkan kami." ujar Amora dengan memohon.
"Menjauhlah da-darinya, brengsek!" maki Reyhan dengan napas yang tersengal.
"Jangan menggangguku. Kumpulkan saja dulu tenagamu, sepupu sialan!" balas Farhan tanpa menoleh.
"Jika kamu berani menyentuh istriku lagi, aku tidak akan segan-segan membunuh kamu!" ancam Reyhan seraya terbatuk. Ia menatap punggung Farhan yang masih terus berjalan mendekati Amora. Farhan bersikap acuh tak acuh, ia menganggap omongan Reyhan hanya bualan saja.
"Amora, sayang. Ayo kita pergi dari sini. Tinggalkan pria sialan yang tidak berguna ini." ajak Farhan dengan sendu.
Amora menggeleng, dengan sangat jelas ia menolak ajakan pria yang kurang waras di hadapannya.
"Aku tidak akan pernah mau ikut dengan kamu!" jawab Amora.
"Tapi kenapa? kenapa kamu lebih memilih dia ketimbang aku? Aku jauh lebih baik dari pria brengsek itu!" teriak Farhan dengan marah, bahkan Amora sempat terlonjak sangking kagetnya.
"Jangan membentaknya!" teriak Reyhan yang kini berusaha untuk berdiri. Farhan menoleh dan menatap Reyhan penuh kebencian yang mendalam.
"Tetap di situ atau kau akan kehilangan Amora!" ancamnya. Tapi Reyhan tidak peduli, ia bahkan sudah berdiri dengan benar dan siap melangkah mendekati Amora dan Farhan.
"Jangan mendekat atau kau akan benar-benar kehilangan Amora!" ancam Farhan kembali. Pria itu dengan cepat menarik Amora dan mengalungkan lengannya ke leher wanita itu. Ia mengeluarkan senjata api dari sakunya dan menodongkannya di kepala Amora.
Amora dan Reyhan terkesiap, keduanya melebarkan matanya.
"Apa yang kau lakukan?" geram Reyhan marah.
"Sudah ku bilang, kan? Jangan mendekat atau kau akan kehilangan Amora!" gertaknya tanpa menurunkan senjata api itu dari kepala Amora.
"Jangan gila! Kau bisa membunuhnya! Jangan bermain-main dengan senjata api. Itu berbahaya." kata Reyhan panik. Ia menghentikan langkahnya, salah sedikit maka nyawa Amora yang akan jadi taruhan.
"Jika aku tidak bisa memiliki Amora, maka kau juga!" kata Farhan tersenyum sinis.
"Kau benar-benar sudah tidak waras! Lepaskan Amora dan bunuh saja aku!" teriak Reyhan marah. Amora hanya menggelengkan kepalanya dengan tangis yang berderai. Ia benar-benar takut jika Farhan akan menembaknya.
"Bukankah cukup adil?" ucap Farhan dengan seringai mengerikan.
"Tolong Farhan. Turunkan senjata kamu dan lepaskan Amora." pinta Reyhan dengan sangat.
"Aku tanya sekali lagi, Amora. Apa kau mencintaiku?" Amora menggeleng dengan takut. Farhan memejamkan mata menahan sakit dan marah yang datang bersamaan.
"Katakan kau mencintaiku!" teriak Farhan tepat di telinga Amora. Amora berjengkit takut, ia menggelengkan kepala.
"Cepat katakan!"
"A-aku ...."
Dorr....
Terdengar suara senjata api yang meletus di susul dengan ambruknya tubuh Amora. Telinga Amora berdengung. Pandangannya gelap, semua tampak gelap. Samar-samar terdengar suara Reyhan yang memanggil namanya dengan dengan nelangsa dan parau penuh kesakitan.