
Happy reading zheyeng 😘
__________________
"Cinta tak dapat di paksa. Ia akan hadir dengan cara yang indah."
💗💗💗
Amora membuka pintu apartemen, terlihat Reyhan yang berdiri dengan jas yang berada di lengan kanannya. Kemejanya berantakan dengan kancing atas yang terbuka dan lengan kemeja di gulung sampai siku. Tangan sebelah kiri menenteng tas kerja berwarna hitam. Wajahnya terlihat kusut dan lelah tapi senyum manis masih terulas di wajah lelahnya.
"Assalamualaikum." Reyhan mengucapkan salam.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh." Amora menyambutnya dengan senyum. Reyhan masuk dan membuka sepatu hitam yang ia kenakan, sedangkan Amora mengekor di belakangnya.
Reyhan meletakkan jas dan tas ke atas meja di ruang tamu. Ia menghempaskan tubuhnya yang terasa remuk ke atas kursi. Amora menyodorkan satu gelas air dingin yang baru saja di ambilnya dari kulkas. Reyhan menerimaku dengan hati yang bahagia, wanita yang ada di hadapannya ini sangat mengerti apa yang di inginkan saat ini. Mengulurkan air minum dengan senyum tulus yang terbingkai di wajah cantiknya. Rasanya beban berat yang ada di pundaknya hilang seketika. Rasa lelah dan kantuk lenyap begitu saja. Ah, wanita ini obat penghilang segala rasa lelah dan penat yang ada. Hanya dia yang bisa membuatnya kembali tersenyum penuh suka cita.
"Terima kasih." Ucap Reyhan dan di balas anggukan oleh Amora.
Reyhan meraih air mineral yang Amora berikan dan pria itu langsung meneguknya sampai habis. Amora duduk di sebelah Reyhan setelah mengambil gelas yang di kembalikan oleh Reyhan dan menaruhnya di atas meja.
"Bagaimana hari ini? kau terlihat sangat lelah." tanya Amora. Ia menatap Reyhan dengan serius.
Reyhan tertawa kecil. Mendapat pertanyaan sederhana seperti ini dari orang yang ia cintai, membuat hatinya menghangat.
"Cukup melelahkan. Tapi sekarang lelah itu tiba-tiba saja lenyap karna kamu."
"Dasar gombal. Bisa aja kamu nih. Mulai aktif ya, Pak." cibir Amora dan di balas dengan kekehan oleh Reyhan.
"Aku serius." Reyhan menatap Amora dengan serius. Tak ada raut bercanda dari pria itu karena memang nyatanya ia mengungkapkan apa yang ada di hatinya.
"Iya terserah kamu saja." Amora tertawa pelan.
"Kamu sudah makan?"
Amora menggeleng. "Kenapa?" tanya Reyhan mengernyitkan dahi.
"Aku pengen makan di luar."
"Mau makan apa?" tanya Reyhan seraya menatapnya lembut. Amora langsung memiringkan tubuhnya agar dapat melihat Reyhan lebih dekat. Sontak saja membuat dada pria berusia hampir kepala tiga berdebar. Darahnya berdesir kala wanita yang selalu ada di hatinya itu menatapnya lebih dekat. Aroma mawar menyeruak menyerbu indera penciumannya, menambah detak jantungnya lebih cepat.
"Aku pengen makan yang pedas-pedas." Amora tersenyum senang membayangkan makanan pedas kesukaannya. Sedangkan Reyhan hanya bisa diam menatap ciptaan Tuhan yang paling indah menurutnya itu. Amora memegang lengan Reyhan tanpa sadar. Menggoyangkan pelan lengan pria itu dengan antusias. Reyhan melirik lengannya yang sedang berada dalam genggaman wanita itu.
"Mau, ya. Lagi pula besok kan libur, kali-kali lah kita keluar." ucap Amora dengan wajah yang menggemaskan.
"A- anu. Ummm ...." Reyhan tergagap. Ia tak bisa mengatakan apapun. Tubuhnya panas dingin bahkan keringat sebesar biji jagung bermunculan di pelipisnya.
"Apa sih? kamu kenapa? panas?" Amora menyeka bulir bening itu dengan jemarinya yang lentik. Wajah mereka sangat dekat sehingga aroma mawar yang ada di tubuh Amora tercium dengan sangat jelas.
"Tidak." jawab Reyhan seraya berusaha mengendalikan diri.
"Baiklah." ucap Reyhan akhirnya.
"Nah gitu dong." Amora tersenyum lebar.
"Eh tadi Mama ke kantor dan mau kita menginap di rumah malam ini."
"Benarkah?" Amora terkejut. Ia pun baru menyadari sekarang, mereka belum pernah mengunjungi mama Reyhan selama menikah. Kesibukannya dengan pekerjaan baru begitu pun dengan Reyhan yang sibuk dengan setumpuk pekerjaan yang tidak ada habisnya.
"Kata mama kangen banget sama menantunya yang bawel ini." Reyhan menarik pipi Amora membuat wanita itu mengaduh sakit. Lalu mengusapnya pelan.
"Sakit tau." protesnya.
"Biarin. Siapa suruh gemesin." Reyhan menjulurkan lidahnya.
"Aku cekik juga lama-lama, kamu."
"Cekik nih, biar aku mati."
"Jangan."
Reyhan tersenyum percaya diri, ia kira Amora takut kehilangannya jika dirinya beneran mati.
"Takut ya kalau aku mati?" alisnya naik turun menggoda Amora.
"Percaya diri sekali anda! aku cuma takut kamu gentayangan. Nanti bisa-bisa tidurku tidak nyenyak, mau kemana-mana susah kamu selalu gangguin aku." Reyhan langsung cemberut. Ia memasang wajah manyun.
"Sana mandi. Kita makan di luar terus kita tidur di rumah mama kamu. Aku juga kangen sama mama kamu. Semenjak menikah kan kita belum pernah berkunjung ke sana." ujarnya seraya berdiri.
"Beneran kamu mau tidur di rumah mama?" Reyhan tersenyum senang.
"Iya, beneran. Aku mau siap-siap dulu."
Amora berjalan menuju kamar, tapi panggilan Reyhan menghentikan langkahnya.
"Amora." wanita yang di panggil itu pun menoleh.
"Terima kasih, ya." ucap Reyhan tulus.
"Sudahlah, lagi pula mama kamu sudah baik banget sama aku. Mama kamu mama aku juga." ujarnya seraya berbalik dan meninggalkan Reyhan yang senang bukan kepalang. Ucapan Amora barusan membuatnya bahagia. Reyhan tak berhenti tersenyum, ia berharap selamanya mamanya akan menjadi mama Amora juga. Ia berharap pernikahan ini bukan hanya pernikahan sementara tapi selamanya.
💗💗💗
Hai zheyeng 😘
Jangan lupa like dan komentarnya.
terimakasih