
Happy reading zheyeng 😘
______________________
Evan mencari-cari keberadaan Amora, pasalnya tadi saat ia ke parkiran untuk mengambil motor, Amora masih ada di tepi jalan. Tapi sekarang wanita cantik itu tidak terlihat dimana-mana.
"Apa Amora udah pulang, ya?" monolog Evan sambil memperhatikan sekeliling sekali lagi. Tapi tetap saja, ia tidak menemukan siapa-siapa di sana. Ia pun melajukan motornya meninggalkan pelataran kantor, membelah jalanan yang sepi. Tak lama sebuah mobil berwarna hitam yang merupakan milik Reyhan berhenti di depan kantor.
"Ah mungkin Amora sudah di rumah. Mana mungkin dia menungguku." ucap Reyhan tersenyum miris, ia terlalu khawatir jika Amora menunggunya . Ia pun kembali melajukan mobil, berharap Amora memang sudah pulang terlebih dulu dan berada di rumah.
Sementara itu,
Amora terus berlari entah kemana, sepatu dengan hak tinggi itu sudah tak berada pada tempatnya. Wanita itu melepaskannya karna ia tak leluasa untuk berjalan. Amora malah masuk ke dalam gang, ia salah jalan. Sedangkan waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam.
"Aku dimana?" gumamnya frustasi. Ia melihat sekeliling, tapi semuanya terlihat asing. Ia benar-benar tak mengenali daerah ini.
"Kok bisa nyasar begini sih?" kesalnya. Ia berjalan perlahan dengan langkah lelah. Ia duduk di sebuah kursi panjang yang ada di tepi jalan untuk beristirahat. Jemari rampingnya bergerak mengusap peluh yang membanjiri wajah serta tubuhnya. Ia meluruskan kakinya yang lelah.
Ia sangat haus, kerongkongannya terasa pahit karena berjalan berkilo-kilo meter dari kantor dan berjam-jam lamanya. Bukannya sampai ke apartemen tapi ia malah terdampar di antah berantah. Tak ada satupun warung yang buka.
"Aku harus kemana." erangnya frustasi. Ia melihat jalan yang telah ia lalui, tak mungkin ia kembali ke belakang.
Selagi ia duduk beristirahat, segerombolan pemuda melewatinya. Awalnya beberapa pemuda itu cuek saja ketika melihat Amora, hingga salah satu pemuda berambut gondrong memperhatikan Amora.
"Hey, cantik juga mbaknya." ia menggamit salah satu lengan temannya hingga mereka semua menoleh dan menghentikan langkah mereka. Kelima temannya ikut memperhatikan Amora yang terlihat sedang kebingungan. Tidak ada siapapun di sana kecuali mereka. Lingkungan itu sangat sepi.
"Jangan-jangan hantu." sahut pria berkaos biru bergidik. Ia bersembunyi di belakang temannya karena takut.
"Yang benar aja, cewek kayak bidadari gitu di bilang hantu." ujar pria gondrong tadi.
"Ya bisa aja Tarjo. Kamu mah matanya ijo kalo ada cewek cantik." sahut teman lainnya. Pria bernama Tarjo itu menggaruk kepalanya.
"Kamu kenapa? kutuan?"
"Makanya rambut jangan gondrong, tuh kutu suka banget bersarang di rambut gondrong." cibir temannya yang bernama Parmin.
"Yaelah, apaan sih kalian. Mana ada kutuan, orang rajin pake sampo. Lagipula tuh kaki cewek napak ke tanah, nggak mungkinlah hantu." Si Tarjo tetap pada pendiriannya. Ia bergerak menghampiri Amora yang sedang kebingungan. Para pemuda lainnya hanya menggelengkan kepala.
"Hai mbak, kenapa sendirian di tempat sepi?" sapa Tarjo. Amora tersentak, ia mengangkat kepalanya dan melihat pemuda itu menyeringai. Amora yang semula duduk, kini berdiri tegak dan mundur ke belakang. Ia takut.
"Sa- saya sedang menunggu teman." jawab Amora gugup.
"Lebih baik nunggu temannya bareng kita aja mbak, pasti lebih seru." goda Tarjo.
"Tidak. Terima kasih." tolak Amora. Ia melihat Tarjo dari atas hingga bawah, tak ada yang aneh dengan penampilan pria ini. Lalu pandangannya beralih pada segerombolan teman pria muda yang ada di hadapannya yang berada tak jauh darinya.
Pemuda yang bernama Tarjo itu ikut melihat dirinya sendiri.
"Kenapa mbak? tenang biar jelek begini saya orang baik kok." katanya.
"Udahlah Tarjo, jangan ganggu wanita itu. Wajahmu Yang seram membuatnya takut." teriak salah satu temannya hingga mengundang gelak tawa dari mereka semua.
"Sialan kalian." Tarjo mendengus kesal.
"Maaf saya harus pulang." pamit Amora seraya berjalan terburu-buru mengindari Tarjo dan para temannya.
"Lah mbak, kok kabur." teriak Tarjo.
"Udah di bilang si mbaknya takut Ama wajah kamu, Tarjo!"
"Awas kalian, ya!" ujar Tarjo dengan kesal, ia menyusul para temannya. Ejekan demi ejekan terus di lontarkan pada Tarjo hingga membuat pria itu kesal bukan main.
Ia berlari sambil terus menoleh kebelakang, tanpa memperhatikan jalan. Hingga ia tak menyadari ada sebuah motor yang melintas.
Brakkk ....
"Astaghfirullah." sang pengendara terkejut karena Amora yang tiba-tiba lewat dan ia tak sengaja menabraknya. Si pengendara motor segera menghentikan motornya, lalu turun dan menghampiri Amora yang terduduk di jalan aspal seraya memegangi lututnya.
"Amora." ujar pengendara motor terkejut. Ia berjongkok untuk melihat kondisi Amora.
Amora mengangkat kepala, melihat pria itu.
"Evan ...." ucap Amora sama terkejutnya. Ia meringis kala Evan menyentuh lututnya. Pria itu tidak mengenakan pakaian kerja, ia hanya memakai kaos oblong dan celana pendek.
"Maafkan aku, mana yang sakit?" tanya Evan khawatir. Ia terus memeriksa tubuh Amora, tidak ingin terjadi sesuatu pada wanita itu. Ia sangat merasa bersalah karena tidak sengaja telah menabrak Amora.
"Aku yang minta maaf karena tidak memperhatikan jalan."
"Tidak apa-apa, aku juga salah karena tidak hati-hati."
"Maaf." lirih Amora.
"Minta maaf terus. Aku minta THR kalau gitu." ucap Evan jahil.
"Eh, kok THR?" tanya Amora bingung.
"Lah iya, kamu minta maaf terus sih." ledek Evan seraya terkekeh.
"Astaga ada-ada aja kamu." Amora tertawa seraya menggelengkan kepalanya.
"Ah jangan senyum kenapa?"
"Loh, memangnya tidak boleh?" Amora mengernyitkan dahi.
"Tidak. Karena aku bisa diabetes melihat senyuman kamu yang terlalu manis." ujar Evan menggoda.
"Aku tidak menyangka ternyata kau juga buaya." cibir Amora dan di balas dengan tawa oleh Evan.
"Mana yang sakit?" tanya Evan setelah puas tertawa.
"Ini." Amora menunjuk celananya yang robek di bagian lutut. Dengan cepat Evan meletakkan tangannya di bawah lutut wanita itu.
"Eh kau mau apa?" tanya Amora yang melotot. Evan membawanya dalam gendongan, membuat Amora menjerit.
"Turunkan aku, Evan." Wanita itu menepuk bahu Evan, tapi tidak di gubris oleh pria itu. Evan terus menggendong Amora sampai di depan ruko yang sedang tutup. Ada bangku panjang di sana, Evan meletakkan Amora dengan perlahan.
"Tunggu di sini, jangan kemana-mana." ujar pria itu sebelum pergi. Ia mengambil motor yang ia tinggalkan lalu pergi entah kemana.
"Lah, kenapa aku malah di tinggal? dia mau kemana?" tanya Amora pada diri sendiri. Ia melihat bayangan Evan yang perlahan menjauh meninggalkannya dengan sejuta kebingungan. Banyak sekali insiden kecil yang terjadi, membuat Amora mengerang frustasi dan ingin segera sampai di rumah. Ia sangat merindukan kasurnya yang empuk.
🌷🌷🌷
Selamat hari raya idul Adha bagi yang merayakannya 🙏
Minal aidzin walfaizin, mohon maaf lahir dan batin.
Maaf yak, author Sengklek ini banyak salah. Suka bikin kalian kesel juga🤭
Maafin yak, kalo Nggak dimaafin Author minta THR aja 🤭🤣