
Happy reading zheyeng 😘
______________________
Amora mengerjapkan matanya, menyesuaikan cahaya yang masuk. Wanita itu melihat seluruh ruangan serba putih, bau obat dan alkohol menyeruak masuk ke indera penciumannya. Ah ... ia benci rumah sakit. Tak perlu bertanya, dapat di pastikan ia ada di rumah sakit saat ini.
Matanya mencari sesuatu, hingga pandangannya berhenti pada sebuah tangan yang menggenggamnya. Seorang pria tertidur di sebelahnya, dengan posisi tubuhnya duduk di kursi. Mendadak matanya berembun, apakah ini Mas Farhan? gumamnya. Selama menikah tiga selama tiga tahun, Farhan tak pernah begini ketika ia sakit. Ia akan tidur di kamar lain karena takut tidurnya akan terganggu.
Amora tersenyum, hatinya menghangat mendapatkan perhatian dari pria yang ia cintai. Tangannya terulur untuk mengusap kepala orang yang tertidur pulas itu.
"Amora ... kau sudah sadar?" Suara Farhan terdengar dari arah pintu yang terbuka. Di susul Sania yang mengekor di belakangnya. Mereka datang bersama. Tangan Amora tergantung di udara, belum menyentuh kepala yang ia pikir ialah Farhan. Ia tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya, hingga ia hanya bisa mengerjapkan mata dengan bingung.
"Jika itu mas Farhan, lalu ... ini siapa?" gumamnya tanpa sadar. Netranya memindai antara Farhan dan pria yang sedang tertidur pulas itu bergantian.
"Kau pikir itu Farhan?" Sania tersenyum sinis sembari bergelayut manja pada Farhan. Amora hanya menatap nanar pemandangan menyakitkan yang ada di hadapannya. sementara Farhan, tampak tak berniat sedikit pun untuk menepis tangan Sania.
Amora menurunkan tangan, mengurungkan niat untuk menyentuh pria itu. Ia menetralkan napas, mengatur hatinya yang sedang kacau berantakan.
"Rey, bangunlah." Farhan menepuk pundak pria yang sedang tertidur itu.
Tak berapa lama, pria yang ternyata Reyhan itu terbangun. Ia mengangkat kepalanya, matanya tak sengaja menatap Amora begitu pun dengan wanita itu. Mata mereka bertemu cukup lama hingga Reyhan yang terlebih dahulu memutuskan pandangan mereka.
"Maaf aku ketiduran." ucapnya salah tingkah.
Amora hanya mengangguk. Ia pun segera duduk di bantu oleh Reyhan, sedangkan Farhan tak bisa membantu karena Sania yang menempel padanya seperti gurita. Amora tersenyum kecewa. Hatinya tercubit mengingat kejadian tadi malam, mungkin aku harus membiarkan mereka bersama. Ujarnya dalam hati.
"Terima kasih, Rey." ucapnya tulus. Reyhan hanya mengangguk menanggapi. Ia segera berdiri, dan izin ke kamar mandi untuk mencuci muka.
"Kenapa kamu bisa pingsan di toilet?" tanya Farhan pada Amora yang menatap kosong ke depan. Bola mata Amora bergerak menatap Farhan sebentar, lalu berpindah pada Sania yang bergerak gelisah.
"Aku terpeleset dan tak sengaja membentur wastafel." ujar Amora dengan wajah datar. Ia menghela napas berat, lalu menghembuskannya.
Sania hanya melongo tak percaya dengan apa yang di ucapkan Amora. Ia pikir, Amora akan mengatakan jika dirinya lah yang menyebabkan Amora pingsan hingga masuk rumah sakit. Tapi malah sebaliknya, ia hanya mengatakan bahwa dirinya terpeleset.
Reyhan keluar dari kamar mandi dengan wajah yang segar. Setetes air jatuh alami dari rambut lepeknya. Rambut yang biasa di tata dengan model spike itu kini terlihat berantakan, tapi tidak menurunkan kadar ketampanan pria itu. Sania sempat terpesona hingga tak sadar membuka mulutnya.
"Ganteng banget." ucap Sania tanpa sadar dan terdengar oleh semua yang ada di sana.
"Kenapa?" tanya Reyhan.
"Hah ... kenapa? ti- tidak. Aku baik-baik saja." Sania gugup.
"Jangan bilang kamu jatuh cinta pada Reyhan." tuding Farhan tepat sasaran.
"Ti-tidak. Mana mungkin aku jatuh cinta padanya. Jangan asal ah," ucapnya seraya mengelus bahu Farhan. Amora memutar bola mata malas.
Ia berniat mengambil air minum yang berada di atas meja tapi ia kesulitan, dengan cepat Reyhan mengambilkan untuknya.
"Ini, minumlah!" Reyhan menyodorkan segelas air putih itu pada Amora. Amora menatap Reyhan sebentar, lalu mengangguk.
"Terima kasih." Reyhan hanya tersenyum. Ia membantu Amora minum lalu meletakkan gelas yang kosong kembali pada tempatnya.
"Katakan, kenapa kamu bisa pingsan di toilet semalam?" tanya Reyhan yang sudah duduk di kursinya seraya menatap Amora dengan serius.
"Aku terpeleset," jawab Amora seraya memegangi kepalanya yang terasa agak pusing.
"Jangan takut, katakan apa yang terjadi. Jangan ada yang di tutupi." ujar Reyhan yang masih belum percaya.
"Aku mengatakan yang sebenarnya. Sudahlah, jangan berlagak seperti detektif. Kau tidak pantas jadi detektif." kata Amora terkekeh.
"Jadi aku pantasnya jadi apa?" tanya Reyhan seraya menyelipkan beberapa helai rambut ke belakang telinga Amora. Gerakannya alami, sehingga ia tak sadar apa yang tengah ia lakukan. Amora tersenyum canggung, sedangkan Farhan menatap tak suka. Sania hanya memutar bola mata jengah, lagi-lagi Amora beruntung karena Reyhan juga sangat perhatian padanya. Semakin tumbuh dan mekar bibit-bibit iri dan benci di hatinya, membuat hatinya semakin gelap.
"Kamu lebih pantas jadi kulkas sepuluh pintu." canda Amora, ia berniat menghilangkan kegugupan yang menyerangnya dengan tiba-tiba.
"Kok kulkas?" Reyhan mengernyitkan dahinya. Ia menarik tangannya dari telinga Amora.
"Iya, karena kamu itu kan pria dingin dan cuek. Pendiam dan tidak banyak bicara. Mana bisa jadi detektif." Amora mengerucutkan bibirnya. Membuat Reyhan yang melihatnya menjadi gemas.
"Benarkah?" ledek Reyhan.
Amora mengangguk.
"Iya, benar sekali tuan."
"Baiklah, aku mengalah nyonya."
Amora terkikik, tapi tak lama kemudian ia meringis kala merasakan nyeri di kepalanya.
"Jangan tertawa dulu," Reyhan mendelik.
"Hehe ... Siapa suruh kamu lucu."
"Apakah benar begitu, nyonya?" Amora kembali mengangguk.
"Jika begitu, bisa dong aku ikutan stand up komedi. Ah, pasti aku menang." ucap Reyhan dengan percaya diri, membuat Amora tak segan memukulnya.
"Menang apaan? yang ada jurinya kesel liat kamu yang diem aja di panggung."
"Mana aku diem? Nanti aku kasih tema yang super keren."
"Apa?" tanya Amora penasaran.
"Mau tahu?" Amora mengangguk dengan semangat.
"Temanya adalah ..." Reyhan menjeda kalimatnya. Membuat Amora penasaran, begitu pun dengan Farhan dan Sania yang berdiri di ujung ranjang.
"Apa?" tanya Amora tak sabar.
"Hening." jawab Reyhan singkat.
"Hah ...?"
"Iya, judulnya hening. Aku akan berdiam diri di panggung karena judulnya hening. Mengheningkan cipta, dimulai."
"Dasar dudul." Amora tak kuasa untuk tidak tertawa dan memukul lengan Reyhan. Sedangkan dua orang yang juga ikut mendengarkan pun hanya tertawa.
"Bagaimana? keren, kan?" Reyhan menaik turunkan alisnya yang tebal.
"Mana ada keren," sangkal Amora.
"Jadi apa?" tanya Reyhan.
"Apa ya." Amora terlihat bingung.
"Yang ada, hanya senyummu yang manis." gombal Reyhan.
"Dasar buaya!"
"Mana ada buaya, aku ini pria paling setia di atas muka bumi."
"Iya, setia jomblo!" celetuk Amora seraya terkekeh. Reyhan hanya manggut-manggut menanggapi, ia hanya bisa tersenyum melihat Amora. Ia bisa seperti ini hanya dengan Amora, ia rela melakukan apa saja agar Amora kembali tertawa. Bahkan ia rela menukar apa saja yang ia punya, asalkan tak kehilangan tawa Amora. Baginya, tawa Amora adalah candu. Tawa Amora segalanya. Ia tak kan pernah membiarkan siapapun mengambil tawa Amora. Ia akan melakukan apa saja agar bisa melihat tawa Amora setiap saat.
❤️❤️❤️
Halo zheyeng 😘
Maaf yak, author kemaren sakit jadi nggak bisa Up. Jaga kesehatan ya kalian ... karena nyatanya jatuh sakit itu tak seindah jatuh cinta.
Hihihi...
yok ah semangat😘
i Love you all🥰😘