Suami Sementara

Suami Sementara
Aku akan menghancurkan kamu


Happy reading zheyeng 😘


______________________


Amora mundur ke belakang beberapa langkah .


"Kenapa kau seperti hantu?" Amora memegangi dadanya.


"Kau bilang apa tadi?" tanya Reyhan dengan alis yang terangkat ke atas.


"Aku tidak mengatakan apa-apa. Kamu masak apa? aku lapar." ia menghindari tatapan Reyhan. Melangkah mendekati kompor yang apinya telah padam, kepalanya melongok melihat isi wajan. Matanya berbinar melihat isi dalam wajan yang menggugah selera.


"Wah nasi goreng." ucapnya seraya meneguk air liur. Wanita itu mengambil piring dari rak, lalu merebut spatula yang Reyhan pegang.


"Sini! aku mau makan." ujarnya setelah merebut spatula itu. Ia mengambil nasi goreng itu dengan semangat, lalu membawanya ke meja makan kecil yang ada di sana.


"Wah enak banget. Kamu pinter masak ya ternyata." Amora tak segan-segan memuji masakan yang Reyhan buat. Sekali lagi ia memasukkan sendokan kedua ke dalam mulutnya. Reyhan hanya mengamati apa yang wanita itu lakukan.


"Dasar tak tahu malu!" ujar Reyhan pura-pura kesal. Padahal di dalam hatinya ia senang karena Amora begitu lahap menikmati nasi goreng buatannya. Amora tak memperdulikan ucapan Reyhan, ia terus melahap nasi goreng itu hingga tandas. Reyhan duduk di kursi yang ada di sebelah Amora. Melirik Amora sebentar, yang terlihat kekenyangan.


"Enak?" tanya Reyhan. Amora mengangguk dengan cepat.


"Tadi aja, gigit tangan orang tidak minta maaf. Terus menghabiskan nasi goreng orang itu tanpa dosa." Reyhan menggelengkan kepalanya. Amora meringis, menunjukkan deretan gigi putih yang berbaris rapi.


"Maaf ya. Kamu sih, menakutkan."


"Menakutkan?" Reyhan mengangkat sebelah alisnya. Ia berhenti mengunyah nasi goreng yang ada dalam mulutnya.


"Iya, kamu itu menakutkan. Bagaimana bisa pria membuktikan bahwa dia masih perjaka atau tidak. Dasar aneh."


"Bisalah. Makanya kita buktikan biar kamu tahu dan percaya."


"Dasar mesum." Amora tak segan memukul lengan Reyhan. Reyhan hanya terkekeh di sela kunyahannya.


"Sudah sholat belum?" tanya Reyhan setelah diam beberapa saat.


Amora mengangguk.


" Sudah dong."


"Allhamdulillah." Reyhan mengangguk kecil.


"Jangan sampai tidak sholat. Jangan tinggalkan sholat di manapun kamu berada."


"Iya Pak haji." seloroh Amora.


"Kok pak Haji?" protes pria itu setelah memasukkan suapan terakhirnya.


"Ya kan biasanya Pak Haji yang suka bilang begitu." ujar Amora seraya membawa piring mereka yang kosong ke tempat cuci piring.


Ia mulai mencuci piring mereka berdua.


"Sini biar aku bantu." Reyhan membersihkan piring-piring penuh busa itu ke air yang mengalir dari kran.


"Terima kasih." ucap Amora seraya tersenyum.


"Jangan terima kasih. Sudah menjadi kewajiban aku sebagai suami membantu istrinya."


"Apa? suami?" Amora menghentikan aktivitasnya. Menoleh terkejut pada Reyhan yang sedang meletakkan piring bersih ke rak yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri.


"Kita kan memang suami istri. Kamu amnesia lagi? atau sakit?" Reyhan meletakkan punggung tangannya ke dahi Amora. Merasakan suhu panas wanita itu.


"Apa yang kamu lakukan!" Amora mendelik.


"Memeriksa kamulah. Memangnya apa?" Reyhan menarik tangannya.


"Aku sehat asal kamu tahu." Reyhan mengangguk.


"Iya, tapi agak sedikit ...." Reyhan meletakkan jari telunjuknya di kening dengan miring. Amora melotot kesal.


"Kau kira aku tidak waras?" Amora berkacak pinggang.


"Kau mengatai aku tidak waras?"


"Iyalah. Masak tidak ingat tentang pernikahan kita. Selalu lupa bahwa kita ini sudah sah menjadi suami istri." sindir Reyhan.


"Ya kak aku lupa. Karena semua ini seperti mimpi bagiku."


"Ya, aku paham." Reyhan mengangguk. Mencuci tangannya dengan sabun setelah piring piring kotor itu sudah bersih semua.


"Apa?"


"Ya aku paham dan mengerti bahwa kamu itu sudah tua. Jadi wajar kalo sudah pikun. Tidak apa-apa, aku akan selalu mengingatkanmu bahwa aku suamimu." Reyhan tersenyum mengejek.


"Kau bilang apa? aku tua?"


"Memang sudah tua kan?"


"Aku tidak terima!" Amora memercikkan air ke wajah Reyhan.


"Heh, aku basah." Reyhan mendelik sedangkan Amora hanya menjulurkan lidah untuk mengejek Reyhan.


"Oh baiklah, akan ku buat kamu basah malam ini." Reyhan tersenyum jahat. Ia lalu menyiramkan air pada Amora dan kembali di balas Amora dengan semangat yang menggebu-gebu. Tubuh pasangan suami istri itu hampir basah semua, tapi mereka tak perduli. Tawa bahagia tanpa beban memenuhi dapur itu, keduanya melepaskan segala beban dengan tertawa bersama.


Di tempat lain, di apartemen Sania.


Sania berjalan ke dapur untuk mencari makanan. Tubuhnya terbalut gaun tidur tipis berbahan satin dengan handuk yang bertengger di kepala. Ia mencari makanan tapi ia tidak menemukannya.


"Mas kamu tidak masak?" tanya Sania kesal. Wajahnya telah memerah karena amarah. Perutnya belum di isi apa-apa sejak tadi. Bosnya yang maniak itu tidak sedikitpun melepaskannya.


"Ya tinggal beli aja kenapa sih." jawab Farhan yang tidak melepaskan sedikitpun pandangannya dari ponsel yang ada dalam genggamannya. Pria itu berbaring di sofa yang terasa empuk.


"Kamu itu ngapain aja sih, mas? kerja enggak, masak juga enggak. Aku tuh lapar tahu Nggak." Sania berjalan meninggalkan dapur menghampiri Farhan.


"Aku sibuk."


"Sibuk kamu bilang? Dari pagi sampai malam kerjaan cuma pegang ponsel aja sok sibuk. Aku tuh capek kerja banting tulang sampai malam. Aku lapar mau makan tapi tidak ada apa-apa di dapur."


Farhan meletakkan ponselnya ke atas meja. Ia menoleh pada Sania yang bertolak pinggang berdiri di depannya.


"Kamu itu kenapa cerewet sekali sih? tinggal pesan aja, Kan gampang. Hidup itu jangan di bikin ribet!"


"Kamu itu sangat berbeda dengan Amora! Amora dulu juga kerja, pulang kerja tidak pernah marah-marah seperti kamu. Tidak ada makanan dia beli keluar atau pesan. Tidak ribet seperti kamu!" Farhan menunjuk wajah Sania dengan kesal. Sania terlalu cerewet menurutnya.


"Amora ! selalu Amora! kenapa sih kamu selalu membandingkan aku dengan wanita ****** itu? jelas aku jauh lebih baik dari dia. Aku cantik, aku juga lebih memuaskan kamu di atas ranjang daripada wanita naif itu! Kamu selalu mengatakan itu setelah kita bercinta! Tapi kenapa sekarang kamu malah membanggakan dia di depan aku, mas!"


Sania telah di kuasai amarah. Ia sangat cemburu dan tidak terima jika Farhan selalu membandingkannya dengan Amora.


"Tapi kamu tidak cukup baik di bandingkan Amora!" teriak Farhan kesal. Ia menyambar ponselnya dan kunci mobil dan berjalan meninggalkan Sania.


"Kamu mau kemana, mas?!" teriak Sania seraya mengejar Farhan yang telah sampai di depan pintu. Pria itu tak menghiraukan teriakan Sania, ia terus berjalan keluar.


"Mas! kembali! jangan pergi kamu, mas!" teriak Sania marah. Tapi teriakan Sania tak dapat menghentikan langkah pria itu. Ia benar-benar muak dengan Sania, berniat pergi ke bar untuk menghilangkan jenuh yang mendera.


"Ini semua karena Amora! lihat saja, Amora! aku akan menghancurkan kamu hingga menjadi debu!" Sania mengepalkan kedua tangannya dengan amarah yang menyelimuti hatinya. Api cemburu dan benci semakin berkobar dalam diri, menutup kebaikan yang pernah Amora lakukan untuknya.


"Aku akan menghancurkan kamu!" ujarnya sekali lagi.


🌸🌸🌸


Hai zheyeng 😘


Kepala masih aman?


aman ya, nggak berasap kanπŸ˜‚πŸ˜‚


Kalo berasap sini sini deketan, biar aku siram. Eh🀭 enggak. Lepasin dulu deh kepalanya, masukin kulkas biar adem.


Hehehe😜


I Love you zheyeng 😘