
Amora, Reyhan dan beberapa orang kerabat dekat berdiri di atas gundukan tanah yang di taburi bunga. Tidak banyak yang menghadiri pemakaman. Ibu Farhan dan adiknya terlihat berjongkok di atas pusara, menangis terisak dengan ketidak berdayaan. Mata keduanya bengkak, bukti bahwa mereka berdua tak berhenti menangis sejak semalam. Farhan di temukan meninggal di dalam sel. Kesehatannya menurun drastis selama beberapa hari karena penyakit HIV yang di deritanya.
Amora mengusap sudut matanya yang berair, kesedihan menyelimuti hatinya. Biar bagaimanapun sikap Farhan sebelumnya, Amora tak bisa mengabaikan kebaikan dan kebersamaan yang pernah mereka lewati bersama. Reyhan mengusap lembut bahu istrinya yang tak ia lepaskan sedari tadi.
"Kita do'akan semoga ia Husnul khatimah." bisik Reyhan dan di balas anggukan oleh Amora. Ada rasa sesak yang menghimpit dada Reyhan. Bagaimana pun juga Farhan adalah sepupunya yang pernah begitu dekat dengannya. Tumbuh besar bersama meski Farhan yang suka mencari gara-gara. Rasa kehilangan juga amat di rasakan oleh Reyhan.
Reyhan, Amora dan Mama Riana berpamitan setelah lama berada di sana karena Amora mendapatkan telepon dari Evan bahwa Sania sudah sadar dan ingin bertemu dengannya.
Sesampainya di Rumah sakit, Amora langsung memasuki ruangan khusus serta dengan pakaian khusus bewarna hijau sendirian tanpa di temani oleh siapapun.
"Sania," panggilnya ketika sudah berada di sisi ranjang wanita yang pernah sangat dekat dengannya itu. Ia duduk di kursi yang ada disana. Amora menahan perih ketika melihat tubuh kurus sahabatnya, dengan banyak alat yang menempel di seluruh tubuh.
Wajah Sania pun terlihat sangat pucat dengan mata yang cekung. Sania yang penuh make up dan gaya glamour tak ada lagi. Sania yang menatapnya dengan angkuh serta sombong tak ada lagi. Wanita yang pernah tertawa bersamanya itu perlahan membuka mata. Detik selanjutnya langsung menangis ketika melihat wajah Amora yang ada di hadapannya.
"Sstt ... Mengapa menangis?" tangan Amora terulur ingin menghapus air mata Sania, tapi dengan cepat wanita itu menghindar.
"Jangan menyentuhku," lirihnya pelan tapi tegas. Amora mengernyitkan dahi, tapi kemudian ia paham dengan apa maksud dari Sania.
"Tidak apa. Aku tidak akan apa-apa," ucap Amora seraya tersenyum.
"Aku menyayangimu, jadi jangan menyentuhku. Aku tidak ingin jika kamu ikut tertular penyakit menjijikan ku ini."
"Kau menyayangiku?" Amora tersenyum haru, hatinya menghangat ketika mengetahui bahwa sahabatnya ini masih menyayanginya.
Sania hanya diam seraya menatap ke lain arah.
Amora meraih jemari Sania yang teramat kurus sehingga membuat Sania terkejut dan ingin menarik tangannya tapi di cegah oleh Amora.
"Biarkan aku menyentuhmu."
"Ta-tapi ...."
"Aku akan baik-baik saja, percayalah." kata Amora meyakinkan.
"Apa kau tidak jijik padaku?"
"Mengapa aku harus jijik? Tidak ada alasan untuk merasa jijik pada sahabatku sendiri."
Tak terbendung lagi bagaimana air mata Sania jatuh, ia begitu menyesal dengan segala kejahatan dan sikap buruk yang pernah ia lakukan.
"Aku minta maaf,"
"Aku juga minta maaf," balas Amora.
"Aku yang bersalah padamu, aku banyak salah."
"Sstt... sudahlah. Aku sudah melupakan semuanya dan aku sudah lama memaafkan mu. Jangan di pikirkan lagi, ya. Sekarang fokus pada kesehatanmu dan pada baby boy. Eh apa kau sudah melihat baby boy?"
Sania mengangguk.
"Apakah sudah ada namanya?"
"Belum,"
"Kenapa belum?"tanya Amora seraya mengernyitkan dahi.
"Aku belum menyiapkan nama untuknya. Mungkin Evan yang akan memberinya nama."
"Ohya?"
Sania mengangguk.
"Apakah setelah ini kalian akan menikah?"
"Kenapa kau bertanya seperti itu?"
"Ya karena aku lihat kalian berdua sangat cocok."
"Ah entahlah. Aku tidak tahu."
"Ku harap kalian akan bersama kelak."
Sania hanya diam tanpa menjawab. Ia tidak ingin berharap lebih karena keadaan dirinya yang seperti ini.
Hari-hari berlalu dan keadaan Sania semakin membaik, Amora datang setiap hari untuk menjenguknya. Mereka bercanda bersama kadang juga Amora menggendong baby boy dan mengajaknya bermain. Mereka layaknya sahabat yang tak pernah bertengkar sebelumnya. Hingga suatu sore, Amora datang menjenguk sahabatnya. Mereka berdua menikmati senja bersama, menatap jendela keluar jendela rumah sakit yang berada di lantai atas. Ruangan Sania berada di lantai atas jauh dari ruangan pasien lainnya.
"Amora," panggil Sania.
Sania menggeleng lemah.
"Aku hanya ingin kau berjanji padaku."
"Apa itu?"
"Berjanjilah untuk selalu mengingatku."
"Aku berjanji, Sania. Kau akan selalu menjadi sahabatku selamanya."
"Aku menyayangimu."
"Aku juga sangat menyayangimu."
"Terimakasih sudah mau menjadi sahabat terbaikku."
Keduanya berpelukan, tersenyum dengan background senja yang mulai hadir. Sinarnya yang berwarna orange terbias indah mengiringi. Amora merasakan keanehan, tak ada pergerakan dari sahabatnya hingga ia khawatir.
"Sania, apa kau mendengarku?" tak ada respon. Wanita yang kini sedang memeluknya itu hanya diam membisu, tak ada sahutan ataupun pergerakan darinya.
Setetes bulir bening turun begitu saja tanpa bisa di cegah, dadanya terasa sesak dengan perih yang menjalar ke seluruh tubuh. Ia menarik tubuh Sania, memeriksa hembusan napas sahabatnya.
Tidak ada.
Tidak ada lagi hembusan napas yang terasa. Sania sahabatnya telah pergi meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya. Amora hanya tergugu dalam pilu. Memeluk kembali sahabatnya lebih erat, menumpahkan air mata yang tak pernah surut.
💞💞💞
Sudah tiga bulan semenjak kepergian Sania dan Farhan, Amora dan Reyhan berdiri melihat persiapan resepsi pernikahan mereka. Ia mengenakan dress sebatas lutut berwarna putih tulang dengan rambut panjang yang tergerai. Wanita itu terlihat sangat manis dan cantik.
"Amora, mengapa kau berdandan sangat cantik?"
"Aku tidak berdandan. Aku hanya memakai Lip tint dan bedak tipis."
"Tapi mengapa kau terlihat begitu cantik? Aku tidak mau jika semua mata tertuju kepadamu dan mengagumi kecantikanmu."
"Astaga Reyhan. Aku baru sadar sekarang jika suamiku ini sangat cemburuan." Amora terkekeh geli melihat bibir suaminya yang mengerucut.
"Terserah apa katamu. Aku tidak rela jika mata para pria menatapmu seperti ingin menerkammu. Kamu milikku, dan tidak boleh di tatap seperti itu oleh pria lain."
"Ya ya ya. Aku hanya milikmu,"
"Ya memang seperti itu." Amora hanya terkekeh geli melihat tingkah suaminya.
"Bagaimana dekorasinya? Apa kamu suka, sayang?" tanya Reyhan seraya menyelipkan anak rambut Amora ke belakang telinga.
"Ya, aku sangat suka. Serba putih dengan tidak terlalu mewah. Sederhana tapi wow. Aku suka."
"Syukurlah kalau kamu suka."
"Terimakasih ya, Rey."
"Aku yang berterimakasih padamu, honey. Kau mau mencintaiku dan menerimamu. Setelah ini, tidak ada lagi kata SUAMI SEMENTARA. Aku akan menjadi suami selamanya untukmu. Seluruh dunia akan tahu bahwa kau milikku. AMORA MILIK REYHAN." ia sengaja menekan kata suami sementara dan Amora milik Reyhan. Ia benar-benar bahagia sekarang, cintanya bersambut dan mimpinya menjadi kenyataan.
Ia sangat bersyukur karena Tuhan sudah berbaik hati padanya. Meski cinta mereka di penuhi badai yang terus menggulung serta kisah cinta yang pahit, tapi di akhir semuanya berubah manis.
Reyhan menarik istrinya ke dalam pelukan, mengecup ujung rambutnya penuh dengan cinta.
"Aku mencintaimu."
"Aku juga sangat mencintaimu, Rey."
TAMAT
Cinta bukan hanya tentang bahagia
Tapi tentang bagaimana bertahan tanpa ada kata perpisahan.
Saling menguatkan dan berpegangan tangan.
Yang di takdirkan menjadi milikmu, maka akan selalu menjadi milikmu.
Dan yang bukan milikmu, akan selalu meninggalkanmu.