
Angel terperanjat, matanya membulat. Ini pertama kalinya Rio bersuara tinggi kepadanya. Angel sampai terdiam, langkah mundur ia ambil karena takut.
Rio menatap tajam ke arah Angel. Seakan suara yang menggelegarnya tak cukup menghardiknya.
"Rio." lirihnya tak percaya.
Tangan Rio mencengkram kuat lengan Angel hingga Angel sedikit terseret ke depan. Mata Rio bak elang marah, sorotan matanya tajam. Terdengar gertakan gigi beradu. Baru kali ini Angel melihat Rio marah besar padanya.
"Hubungan kita, aku anggap berakhir semenjak kamu yang mengakhiri dulu! Sekarang aku mohon jangan menganggap hubungan kita masih bisa seperti dulu! Hubungan kita sekarang sebatas teman nggak lebih!" tegas Rio penuh amarah.
"Aw! Tapi sakit Rio, bisa lepasin nggak?" rintih Angel.
Rio pun melepas cengkraman nya dari lengan Angel.
Angel mengusap bekas cengkraman Rio tadi, tertinggal rasa perih dan kebas. Angel shock mendapatkan perlakuan Rio yang kasar padanya tanpa sebab.
"Tapi aku nggak paham, kenapa kamu marah banget sama aku. Salah aku di mananya. Oke, aku akui dulu aku yang mau kita putus. Tapi setalah aku kembali, kamu yang minta lanjut. Tapi apa, bukannya kamu yang pergi tanpa kabar. Kamu menjauh, menghindar. Hubungan yang kamu pinta, tapi malahan kamu sia-sia in tanpa kejelasan. Kenapa sekarang kamu yang marah, seharusnya aku yang marah di sini!!" sentak Angel tak mau kalah, nada suaranya meninggi.
"Oh, seharusnya kamu yang marah? Aku harap kamu sadar apa yang kamu katakan sekarang. Intinya hubungan kita nggak ada apa-apa lagi, itu semua udah masa lalu. Sekarang kita berjalan masing-masing, ini pertemuan yang terakhir kita bertemu. Kalau pun di luar kita nggak sengaja ketemu, anggap aja kita nggak saling kenal. Aku malah berharap kita nggak bertemu." jelas Rio dengan mata berapi-api
Angel shock mendengarnya. Kali ini ia tak bisa menahan rasa sedih, sakit hati, kecewa, marah, tak terima atas perlakuan Rio terhadapnya.
"Ara sebenarnya siapa? Kenapa kamu begitu berlebihan dengan Ara, padahal Ara sepupu jauhmu. Kenapa kamu seperti memiliki rasa dengan Ara?" pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Angel.
Rio yang hendak pergi meninggalkan Angel begitu saja. Kakinya mendadak tak mampu melangkah. Kedua tangannya mengepal kuat, wajahnya benar-benar kusut sekarang. Inilah balasannya menyakiti dua wanita sekaligus.
Angel menatap nanar ke arah Rio yang membelakangi dirinya dengan kedua pipinya basah oleh air matanya yang terus menetes.
Ada perasaan sesak di dada Rio, ada hal yang harus ia bereskan. Yang tadinya berdiri tanpa bergeming, Rio berbalik badan menatap Angel serius.
Rio menarik nafas dalam. "Ara sebenarnya bukan sepupu jauh aku."
Mata Angel membulat. Dirinya tak menginginkan jawaban seperti ini. Berharap memang Rio memiliki perasaan sebatas menjaga Ara sebagai sepupu karena tinggal bersamanya. Tapi perkataan Rio barusan seperti tamparan baginya.
"Maksudmu?" tanya Angel penuh penasaran.
"Dia istriku, istri pilihan orang tuaku. Dari kecil kita memang sudah di jodohkan," jelas Rio.
Tubuh Angel terhuyung, hampir saja dirinya jatuh. Tapi, tangannya cepat menahan tubuhnya ke tralis tangga. Kali ini benar-benar tak menyangka, selama ini ia di tipu mentah-mentah oleh Rio. Hatinya teriris, bahkan hampir tertusuk.
"Maafin aku selama ini bohong, alasan aku berbohong kalau aku bisa menutupi hal ini. Aku berharap bisa bersamamu, tapi ternyata gak. Luka yang dulu masih sama di disini, dan sekarang aku mencintai Ara, istriku. Kali ini aku rela kamu pergi sesuka hatimu, karena sekarang aku tidak peduli dengan luka aku yang kamu berikan bahkan aku tak peduli kamu di sini," ungkap Rio lalu pergi meninggalkan Angel yang sekarang terduduk di lantai dengan menangis sejadi-jadinya.
Rio pergi dengan mobilnya pergi entah kemana meninggalkan Angel yang malang di rumahnya sendiri. Pikirannya sedang kacau, yang sekarang ia lakukan adalah mencari keberadaan Ara dimana. Malam ini harus ketemu keberadaan Ara dimana.
__
Di waktu yang berbeda, Ara sudah di depan pintu kamar sewanya. Wajahnya kusut, terlihat kedua matanya sembab sehabis menangis. Ia buka kenop pintu, lalu menarik koper yang ia bawa masuk. Kemudian menutup pintu lalu di menguncinya.
Ia taruh koper dan tasnya di sudut ruangan. Lalu duduk di tepian kasur, sambil menatap sekeliling kamarnya yang tak luas seperti kamarnya di rumah bunda, bahkan kamarnya di rumah bunda kalah luas dengan kamar yang dulu ia tinggali di rumah Rio.
Rio lagi, entah kenapa sekarang sosok Rio membayangi dirinya padahal tadi pagi bertemu di sertai pertengkaran. Ara menghela napas panjang, dirinya langsung merebahkan diri ke kasur yang tak seempuk kasur yang pernah ia tiduri.
Jarak tempuh dari rumah Rio ke tempat kamar sewaan Ara tak terlalu jauh. Lima belas menit saja sudah sampai. Namun badannya terasa capek, tenaganya terkuras habis. Padahal ia tak melakukan hal berat-berat yang membuat dirinya kelelahan.
Lelahnya memang bukan fisik. Lelahnya karena mentalnya yang terus di uji. Pikirannya berkecamuk tak jelas di kepala. Ara sekarang hanya ingin tidur, setidaknya tidur bisa melupakan masalahnya walau cuma sesaat.
Jam satu siang, angin kencang menelisik masuk ke kamar Ara. Gorden tipis yang di jendela melambai-lambai akibat tiupan angin kencang.
Ara mendapati kamar yang berada di lantai dua dan persis paling ujung. Karena di ujung, jendela kamar Ara yang mengarah ke luar berhadapan dengan pintu gerbang masuk. Hanya ruangan paling ujung saja yang ada jendela lebih dari satu selain di depan pintu masuk.
Ara terbangun, angin kencang di sertai petir menggelegar. Ara buru-buru menutup rapat jendela yang tadinya terbuka karena angin. Di luar sana, langit Jakarta di selimuti awan kelabu. Gerimis perlahan mengguyur di temani sahutan petir.
"Kayanya bakal hujan gede deh," lirih Ara menatap luar jendela yang sudah mulai gerimis.
DUAR!!
Ara terperanjat kaget, reflek ia menaiki kasur dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tebal. Tubuhnya bergetar, Ara peluk erat dirinya sembari memejamkan mata erat. Ia paling benci halilintar dari kecil, itu membuat dirinya takut luar biasa.
Petir saling bersahutan di luar. Ara semakin takut, kedua tangannya tak cukup sebagai peredam suara dari bunyi guntur yang terus menerus meramaikan jagat raya.
Mendadak di luar berubah gelap karena awan kelabu menjadi menghitam. Terlihat sambaran kilat memasuki dari celah ventilasi kamar Ara. Tak lama suara halilintar bak ledakan keras hingga memekakan telinga Ara.
Bersamaan itu Ara berteriak keras seraya menutup telinganya menggunakan kedua tangannya. Matanya terpejam erat.
___
Rio yang sudah berjam-jam mengitari kota Jakarta untuk mencari Ara. Ia tak tahu harus mencarinya kemana. Ke rumah mamah Fani sudah ia kunjungi, tapi tidak ada Ara. Bahkan Rio menelpon Qia untuk bertanya apakah kakaknya ada di sana. Qia pun sama, ia tidak mengatakan bahwa kakaknya tidak ada di sana.
Rio semakin gusar, sudah satu jam ia berhenti di sisi jalan untuk menepi karena hujan. Guntur terus masih saling sahut-menyahut, Rio khawatir ia ingat betapa Ara sangat takut dengan suara guntur. Keadaan seperti pasti membuatnya sangat takut. Seharusnya ada dirinya yang menenangkan Ara di saat ketakutan. Tapi sekarang saja Rio tidak tahu Ara kemana. Dia menyesal atas perbuatan dan tingkahnya setelah Ara benar-benar pergi entah kemana.
___