Rio & Ara

Rio & Ara
Episode 76


Kali ini Rio benar-benar tak bisa menahannya, tolong, dia ini lelaki normal.


Awalnya hanya sebatas mencium di bibir, tapi Rio melakukan lebih dari sekedar itu. Ia mulai meraup bibir Ara, menjelajah di seluruh rongga. Sensi, itu yang Rio dapat. Memang, sebelumnya Rio pernah melakukan ini dengan Ara. Jadi bukan pertama kalinya Rio melakukan. Terakhir, bukankah di kampus kemarin.


Ara memberi reaksi terkejut, ketika Rio mulai tidak santai menjelajah. Matanya melebar, jantungnya berpacu cepat. Ia sadar ini bukan mimpi, ini nyata adanya.


Rio terus memberi serangan, ia seperti kesetanan. Ara sendiri sadar, rasa kantuknya hilang seketika. Ara menolak awalnya, ia terus mendorong tubuh Rio agar terlepas darinya. Rio tidak memberi ruang sedikit pun untuk Ara, bahkan saat ini tangannya mencekal kedua tangan Ara untuk berhenti memukuli tubuhnya.


Rio semakin terdorong untuk melakukan lebih dari ini. Memang ada rasa kenikmatan sendiri, perasaanya menggebu-gebu tak karuan.


"Rio..." panggilnya lirih, Ara akui ia menikmati.


Awalnya berontak, takut, kaget. Sekarang Ara mulai melemah, ia sudah gelap mata sekarang. Rio puas bermain di bibir, berpindah ke leher jenjang putih Ara. Bermain di sana sungguh mengasyikan apalagi mendengar lenguhan kecil dari Ara yang mulai terbiasa.


Cekalan Rio terlepas, di gantikan menautkan jemarinya ke jemari Ara. Keduanya saling meremas, saling merengkuh. Kewarasaan mereja hilang seiringnya kenikmatan yang mereka dapatkan.


Gigitan, hisapan dari Rio meninggalkan bekas kepemilikan beberapa di leher jenjang Ara. Puas nya ketika Ara mengerang kenikmatan, membuat tersulut birahi Rio. Setelah puas di leher, mulai aktif di bibir kadang di leher.


Tangan Rio lainnya bergerlya lembut menyentuh dari atas sampai bawah tubuh Rio.


Begitu menikmati setiap sentuhan yang Rio berikan untuknya. Walau memang terasa amatiran.


---


Alarm berbunyi, membangunkan Rio yang tengah terlelap. Ia meraih ponsel yang tengah berdering sekaligus bergetar di nakas. Ia lihat jam dengan mata menyipit karena sinar ponsel masuk begitu tajam ke kornea matanya.


"tujuh, berapa?" suaranya khas orang bangun tidur.


Ia letakan kembali ponsel nya ke atas nakas. Melebar matanya ketika mengingat sesuatu yang terjadi semalam.


---


Di tempat lain....


Ara berjalan mondar mandir dengan menggigit ujung kukunya. Rambutnya acak-acakan, kancing bajunya terlihat tidak simetris. Baju yang ia kenakan masih lah sama dengan baju semalam. Kemeja yang di pinjamkan untuknya dari Rio.


Mama Fani rupanya telah pergi subuh tadi, kata Bi Imah sempat mau pamit. Namun saat di panggil tidak ada yang menyahut, jadi Mama pamit dengan Bi Imah dan minta di sampaikan ke kedua anaknya.


Ara gugup, ia merasa ketakutan sekarang. Takut membanyangi kejadian beberapa jam kebelangkang.


Flasback


"Ra, apa aku, aku boleh?" pintanya lirih.


Melebar kedua mata Ara mendengar yang Rio barusan. Jantungnya terpompa begitu cepat hingga Ara sampai susuah bernafas. Ara tak bodoh-bodoh amat yang Rio maksud jelas ia meminta hak nya.


Ara menggeliat ringan, ketika Rio mulai menyerang kembali dengan kecupan-kecupan di lehernya. Sampai Ara lupa ia sedang memikirkan sesuatu.


"Boleh?" tanya Yusuf kembali di sela-selan serangannya tanpa henti.


Entahlah, Ara mengangguk pelan tanda mengiyakan. Ia tidak bisa berfikir jernih, ini sensasi yang belum pernah ia rasakan selama ia hidup. Sekali merasakan seperti melayang bak di nirwana.


Pastinya di terima dengan senang hati oleh Rio. Ia pun tak kalah berdebarnya, ia yang akan ekstra bekerja bukan. Anggukan Ara, sangat ia hargai.


Sebelum benar-benar Rio melakukan atau menyelesaikan tugasnya. Ia terlebih dahulu membuat Ara serileks mungkin. Katanya yang ia dengar orang yang pertama kali melakukannya akan terasa sakit di awal.


Jadi ia harus memperlakukan Ara bak sebuah permata yang berharga. Membelainya dengan sangat hati-hati.


Rio sendiri sudah entah kemana baju yang melekat di tubuhnya. Hanya selimut yang menutupi tubuh telanjangnya. Ara, tidak perlu repot, Ara hanya memakai kemeja saja.


Sebagian tubuh Rio basah oleh keringat nya sendiri. Walau AC cukup mendinginkan ruangan ini, tidak untuk mereka.


Inilah inti dari awal semuanya, berdebar jantung mereka. Di mana Rio berkata " Aku akan memulai nya, tahan sebentar mungkin akan terasa sakit," bisiknya begitu lembut tepat di dekat telinga Ara.


Ara terdiam, nafasnya mulai tersengal. Ia eratkan kedua tangannya ke sprei. Memejam kan mata adalah keseharusannya. Gigit dalam-dalam bibir bawahnya ketika hal asing mulai di terasa di sana.


Ia gelisah, itu mulai akan memasuki tahap awal. Ketakutan mulai memasuki, ia masih perawan. Ara pernah dengar katanya saat sesuatu masuk akan terasa sakit.


Bukan itu yang sakit, tapi hubungan yang tidak jelas ini. Kenapa Ara tiba-tib teringat kepingan wajah Angel bersama Rio di saat seperti ini. Itu akan terasa sakit jika Rio tidak memiliki niatan baik untuk meluruskan hubungan mereka.


***