
Di waktu yang sama, di jam sembilan malam. Ara tengah mencuci segala peralatan kafe di pantry dengan Claudia.
"Clau, suami mu udah nungguin tuh di depan." ucap Lia yang datang.
"Oh, iya. Ini bentar lagi rampung kok." Claudia mempercepat mengelap sebagian piring, sendok, dan gelas.
Ara merasa kasihan dengan Claudia. Dia baru menikah tiga tahun lalu di waktu usia muda, dan sudah punya anak yang baru berusia satu tahun. Claudia sering curhat jika ekonominya sekarang lagi sedang tidak baik.
Suaminya yang bekerja sebagai karyawan biasa tidak mencukupi kebutuhan rumah tangga apalagi sekarang mereka memiliki anak. Pastinya kebutuhan semakin banyak, dan mereka butuh keuangan yang lebih.
Claudia yang baru saja bekerja selama lima bulan, dengan kerja yang tidak full time. Sebab pagi harinya hingga suaminya pulang mengurus anaknya. Ketika suaminya baru pulang mereka akan bergantian untuk menjaga. Semua yang Claudia lakukan demi anak.
Ara dan Claudia memang akrab. Di tambah Claudia beberapa kali curhat tentang keluh kesahnya pada Ara. Karena itu, mereka semakin akrab.
"Clau, ini sisanya biar aku yang kerjain. Gih, siap-siap pulang." suruh Ara.
"Mana bisa gitu, Ra. Biar aku rampungin dulu. Habis itu aku pulang." tolak Claudia yang masih melanjutkan pekerjaannya.
"Gak papa, aku pulang telat gak masalah. Tapi kalau kamu, inget anakmu. Suamimu pasti capek, gih sana pulang." bujuk Ara.
Claudia merasa tidak enak hati. Ia merasa dirinya malah menyusahkan Ara. Ini seharusnya pekerjaannya, sebelum selesai Claudia tidak akan pulang.
"Aku gak enak sama kamu. Kamu udah banyak bantu aku, Ra."
"Ya ampun Clau, kayak sama siapa sih. Aku kasihan bukan sama kamu, tapi sama anak mu. Udah pulang aja, gak kasihan apa sama anak, gih...." paksa Ara.
Ara mengambil lap dan piring yang di tangan Claudia lalu menaruhnya. Ara mendorong Claudia ke arah loker. Kalau tidak di paksakan, Claudia kekeh tidak mau.
"Udah sana." usir Ara.
Claudia menatap tak enak hati, ia akhirnya terpaksa mengiyakan.
"Ra, makasih ya." ucap Claudia.
Ara hanya mengangguk dan tersenyum. Kemudian Ara melanjutkan pekerjaannya. Senyumnya masih awet melengkung di bibirnya. Berulang kali menghela napas panjang.
Di saat beban dirinya semakin menumpuk di pundak Ara. Di saat bersamaan, ketika Ara bisa berbuat baik kepada teman terdekat bahkan orang lain. Cukup mengobati rasa keresahannya selama ini. Merasa bersyukur, karena dirinya masih di beri kewarasaan oleh Tuhan.
Ara sudah berdiri di halte bus setelah bekerja. Sudah tiga hari ini Ara memaksa Gilang memberikan dia lemburan. Gilang sempat menolak, karena gimana pun Ara butuh waktu istirahat yang cukup. Gilang takut membuat Ara jatuh sakit nantinya.
Tapi Ara bersikeras memaksa Gilang. Tak di bayar pun gak masalah jika itu yang membuat Gilang keberatan. Gilang sendiri tak masalah dengan uang lemburan. Karyawannya yang lain ketika di beri lemburan berakhir lenguhan panjang.
Tapi beda dengan Ara, malah dirinya yang minta lemburan bahkan tak masalah jika tidak di bayar. Akhirnya Gilang pun mengiyakan permintaan Ara.
Ara semata-mata untuk mengalihkan beban pikirannya ke hal lain. Iya, untuk menghindari Rio salah satunya. Bukan Ara lari dari masalah, biarkan Rio yang datang padanya untuk memberikan keputusan.
Tin... Tin...
Ada sebuah mobil hitam berhenti tak jauh dari tempat Ara berdiri. Ara merasa tak asing melihat mobil yang baru saja menepi. Keluarlah seorang laki-laki berpostur tubuh tinggi dengan penampilan rapih.
"Kak Henry?!"
"Ara, apa kabar?" tanya Henry.
"Baik, Kak."
"Kamu nunggu angkutan ya?"
"I, iya kak." angguk Ara.
"Kalau gitu, biar aku anter gimana?" tawar Henry.
"Hah, gak usah Kak. Biar aku naik angkutan umum." tolak Ara ramah.
"Gak papa, kamu habis pulang kerjakan?"
"Iya, kak."
"Ya, udah biar aku anter. Kamu kan tau di sini jarang ada angkutan umum lewat kalau malam hari. Kalau nunggu entar kemaleman. Udah ayo!" Henry menarik lengan Ara untuk masuk ke dalam mobil.
Ara pun hanya menuruti, lagian memang daerah ini susah angkutan umum. Ada yang nawarin tebengan kenapa harus di tolak.
Henry membuka pintu mobil penumpang, menyuruh Ara masuk ke dalam. Ara pun menuruti, setelah Ara duduk.
"Makasih ya kak, aku gak enak ngerepotin terus." ucap Ara ketika mobil sudah melaju dengan kecepatan sedang.
"Nggaklah, gak usah ngerasa gak enakkan. Lagian kan aku yang ngajak. Bahaya juga perempuan sendiri pulang di jam malam kayak gini."
Ara tersenyum tipis. Sudah dua kali dirinya di antar pulang oleh kakaknya Tasya. Ara jadi tak enak hati, harusnya Henry sudah pulang dan istirahat. Tapi sekarang malah mengantar dirinya pulang. Kalau jalan pulang searah gak masalah. Ini jalan pulang mereka tak searah, membuat Ara semakin tak nyaman.
"Gimana kuliahmu, Ra?" tanya Henry memecahkan keheningan dalam mobil.
"Hah, gimana kak?" Ara terkejut, sebab dirinya terlalu banyak diam.
"Kuliahmu gimana?" Henry terkekeh melihat Ara terkejut.
"Oh, kuliah Ara. Baik-baik aja Kak." jawab Ara.
Suasana kembali sunyi. Henry berulang kali melirik Ara yang hanya diam memperhatikan jalan. Henry bingung mencari topik pembicaraan.
"Terus kenapa kamu kerja part time?" tanyanya.
"Buat ngisi waktu luang, terus hasilnya bisa buat bayar kuliah, Kak."
"Hasilnya kan gak seberapa, Ra. Kan part time, yang full time aja kayaknya kurang-kurangan. Di tambah kalau kamu kerja kayak gini, kuliahmu entar berantakan, loh." Henry mengingatkan.
Ara menggaruk lehernya. Dirinya menertawai kerja kerasnya selama dirinya di Jakarta. Bingung harus bagaimana. Andai saja kalau Henry tahu dirinya tak perlu bekerja. Karena suaminya sudah tajir melintir dari orok.
Mungkin saja, dirinya setelah pulang kuliah. Hanya ungkang-ungkang kaki, dan tinggal menikmati hidup tanpa memikirkan bagaimana besok, atau lusa membayar kuliahan.
Sayangnya, Ara harus telan bulat-bulat kenyataannya. Halunya sangat kejam daripada kenyataannya.
Dulu Ara tak sengaja mendengar langsung dari Rio. Pernyataan yang ingin membuat Ara menendang, meninju, membanting, memporak-porandakan isi gedung kantor Rio. Rio menganggap dirinya haus dengan harta yang ia punya. Takut Ara Menjadi tuyul, babi ngepet, atau semacamnya.
Berpikir Ara ingin menikah dengannya hanya mengincar harta yang segunung dengan sekejap miliknya. Hal yang tak bisa membuat Ara toleran terhadap sikap Rio yang semena-mena menilai seseorang.
"Iya sih, tapi gimana lagi. Mau seberapa hasilnya, Ara tetap bersyukur. Kita kalau di kasih sama yang di Atas, mau sekecil apapun. Bahkan di nilai orang tidak cukup, pun dengan kita. Kita harus bersyukur, Ara percaya kok. Dengan kita bersyukur rasanya akan lebih dari cukup."
"Mungkin sekarang Ara susah-susah dulu cari uang untuk kuliah. Mudah-mudahan apa yang aku perjuangkan nantinya bisa membayar apa yang Ara lakukan di masa sekarang." jelas Ara.
Henry merasa penjelasan Ara, membuat dirinya sedikit menyinggung dirinya. Dirinya di ingatkan dengan ucapan Ara. Jangan lupa selalu bersyukur dalam keadaan apapun. Henry akan mengingat apa yang Ara katakan untuk kedepannya.
-___-
Mohon maaf kalau ada kurang-kurang kata, atau alur yang kurang memuaskan. Author sedang berusaha semaksimal mungkin untuk memperbaiki keinginan pembaca. Karena author bener-bener penulis amatiran yang masih harus banyak belajar. Makasih atas pengertiannya 😊.. Happy reading..